Thursday 25 February 2021

MENTAL TRAINING

 MENTAL TRAINING

Latihan Mental (Mental training) adalah latihan yang diprogramkan dan dilakukan dalam bentuk kejiwaan baik kognitif, afektif, maupun psikomotor secara terorganisir. Kompetitif dalam memahami mental atlet memerangi tingkat kebugaran yang sama dan rejimen pelatihan serupa. Menang melawan lawan yang tangguh, bisa menjadi tugas yang menanjak, namun pelatihan mental merupakan keunggulan kompetitif yang dapat memberikan rasa percaya diri. Sementara lawan kita juga dapat menggunakan teknik persiapan mental, perbedaannya terletak pada seberapa baik atlet individu memahami dan menerapkan teknik ini, Semakin baik kita berada dan fokus menerapkan keterampilan ini, kita akan mendapatkan keunggulan yang lebih besar di lapangan.

Latihan mental selain untuk mempersiapkan mental atlet jelang pertandingan, juga dimaksudkan untuk menumbuhkan ketahanan mental atlet. Daya tahan mental adalah suatu kondisi kejiwaan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kemampuan menghadapi gangguan, ancaman dalam segala hal, baik yang berasal dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Ketahanan mental bisa berubah atau dinamis, oleh karena itu perlu dibina agar lebih stabil (Tangkudung, 2018). Teori kesatuan psiko-fisik berkembang karena para ahli menyadari bahwa orang yang keadaan kejiwaannya mengalami gangguan, karena rasa susah, gelisah atau ragu-ragu menghadapi sesuatu, ternyata mempengaruhi kondisi fisiknya. Akibat rasa susah dan gelisah menghadapi masa depan, seseorang kurang dapat tidur nyenyak, sehingga akhirnya mempengaruhi tingkah laku dan penampilannya. Seperti yang dikemukakan oleh Weinberg (1984) dalam (Tangkudung, 2018) di antara keraguan, kurangnya kepercayaan diri, ketegangan yang menghasilkan kinerja yang kacau. Gejala psikis akan mempengaruhi penampilan dan prestasi atlet seperti gangguan emosional perlu diperhatikan, karena gangguan emosional dapat mempengaruhi "psychological stability" atau keseimbangan psikis secara keseluruhan, dan ini berakibat besar terhadap pencapatan prestasi atlet. Semua gejala emosional seperti: rasa takut, marah, cemas, stress, penuh harap, rasa senang dsb, dapat mempengaruhi perubahan-perubahan kondisi fisik seseorang. Perasaan atau emosi dapat memberi pengaruh-pengaruh fisiologik seperti: ketegangan otot, denyut jantung, peredaran darah, pernafasan, berfungsinya kelenjar-kelenjar hormon tertentu.

Foto bersama Prof. Dr. dr. James A.P. Tangkudung, Sport.Med., M.Pd

Sebaliknya keadaan fisik yang kurang sehat, karena sedang sakit, sesudah mengalami kecelakaan dan cidera, juga dapat mempengaruhi kejiwaan individu yang bersangkutan, kurang dapat memusatkan perhatian pada masalah yang dihadapi, kurang dapat berfikir dengan tenang, kurang dapat berfikir dengan cepat, dan sebagainya. Sejak lebih kurang setengah abad yang lalu adanya hubungan timbal balik antara jiwa dan raga, atau antara gejala fisik dan psikik, telah menjadi bahan pembahasan para ahli psikologi. Ronge (1951) menyebutkan manusia sebagai suatu organisme, yang mengikuti hukum-hukum biologi, hukum-hukum dalam pikir, rasa keadilan, dan sebagainya. Perasaan atau emosi memegang peranan penting dalam hidup manusia.

Pentingnya Mental Training

Untuk dapat meningkatkan prestasi atau performa olahraganya, sang atlet perlu memiliki mental yang tangguh, sehingga ia dapat berlatih dan bertanding dengan semangat tinggi, dedikasi total, pantang menyerah, tidak mudah terganggu oleh  masalah-masalah non-teknis atau masalah pribadi. Dengan demikian ia dapat menjalankan program latihannya dengan sungguh-sungguh, sehingga ia dapat memiliki fisik prima, teknik tinggi dan strategi bertanding yang tepat, sesuai dengan program latihan yang dirancang oleh pelatihnya. Dengan demikian terlihatlah bahwa latihan mental bertujuan agar atlet dapat mencapai prestasi puncak, atau prestasi yang lebih baik dari sebelumnya.

Untuk dapat memiliki mental yang tangguh tersebut, atlet perlu melakukan latihan mental yang sistimatis, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari program latihan olahraga secara umum, dan tertuang dalam perencanaan latihan tahunan atau periodesasi latihan. Seringkali dijumpai, bahwa masalah mental atlet sesungguhnya bukan murni merupakan masalah psikologis, namun disebabkan oleh faktor teknis atau fisiologis. Contohnya: jika kemampuan atlet menurun karena faktor kesalahan teknik gerakan, maka persepsi sang atlet terhadap kemampuan dirinya juga akan berkurang. Jika masalah kesalahan gerak ini tidak segera teridentifikasi dan tidak segera diperbaiki, maka kesalahan gerak ini akan menetap. Akibatnya, kemampuan atlet tidak meningkat, sehingga atlet menjadi kecewa dan lama kelamaan bisa menjadi frustrasi bahkan memiliki pikiran dan sikap negative terhadap prestasi olahraganya.

Demikian juga dengan masalah yang disebabkan oleh faktor fisik. Masalah yang seringkali terjadi adalah masalah “overtrained” atau kelelahan yang berlebihan, sehingga menimbulkan perubahan penampilan atlet yang misalnya menjadi lebih lambat, sehingga atlet tersebut kemudian di’cap’ sebagai atlet yang memiliki motivasi rendah. Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa masalah mental tidak selalu disebabkan oleh faktor mental atau faktor psikologis. Jika penyebab masalahnya tidak terlebih dahulu diatasi, maka masalah mentalnya juga akan sulit untuk dapat diperbaiki. Dengan demikian, jika akan menerapkan latihan mental untuk mengatasi masalah mental psikologis, maka atlet, pelatih maupun psikolog olahraga harus pasti bahwa penyebab masalahnya adalah masalah mental.

Persiapan dan Perencanaan Mental Training

Adanya perubahan tingkah laku, perasaan atau pikiran atlet yang mengganggu si atlet itu sendiri atau mengganggu kelancaran pelatihan atau komunikasi antara atlet dengan orang lain, merupakan salah satu indikasi bahwa atlet tersebut mengalami disfungsi atau masalah psikologis. Masalah mental psikologisnya akan sulit teratasi jika penyebab utamanya tidak ditangani. Setelah dipastikan bahwa seorang atlet mengalami masalah mental psikologis, atau perlu meningkatkan keterampilan psikologisnya, maka kepada atlet tersebut dapat diterapkan latihan mental. Ada tiga karakteristik yang sebaiknya terdapat pada diri atlet yang akan menjalani latihan mental, yaitu:

  1. Atlet harus mau menjalani latihan mental tersebut. Jika suatu tugas dihadapi dengan sikap positif, maka potensi keberhasilannya akan semakin nyata. Sebaliknya, jika si atlet malas melakukan latihannya, maka kegagalan akan menghadang. Oleh karena itu, si atlet sendiri yang harus memutuskan bahwa ia mau menjalani setiap program latihan sampai selesai, dan harus yakin bahwa latihan tersebut akan membawa manfaat bagi kemajuan prestasinya. Tanpa adanya komitmen tersebut, atau jika atlet merasa terpaksa dalam menjalankan latihannya, maka manfaat dari hasil latihan yang dijalaninya akan sirna.
  2. Atlet harus menjalankan setiap program latihan secara utuh. Keuntungan atau manfaat dari latihan mental hanya akan terasa jika atlet menjalankan seluruh program latihan secara utuh, tidak sepotong-sepotong. Serupa dengan latihan keterampilan fisik, maka proses latihan mental pun harus dilakukan berulang-ulang; karena itu ia memerlukan waktu, usaha, maupun umpan balik dari kemajuan suatu latihan.
  3. Atlet harus memiliki kemauan untuk menjalani latihan dengan sempurna, sebaik mungkin. Setiap program latihan mental telah dirancang secara terstruktur sehingga seluruh kegiatannya memiliki fungsi dan manfaat masing-masing. Termasuk seluruh penugasan dan evaluasi atau penilaian diri yang harus dilakukan oleh si atlet, merupakan bagian dari program latihan mental yang tidak boleh diabaikan. Latihan mental merupakan suatu proses yang harus dijalani sesuai prosedur, karena itu tidak ada jalan pintas untuk mencapai prestasi dalam olahraga.

Aspek-aspek Latihan Mental

Aspek-aspek kecakapan mental psikologis (psychological skills) yang bisa dilatih, mencakup banyak hal meliputi aspek-aspek pengelolaan emosi, pengembangan diri, peningkatan daya konsentrasi, penetapan sasaran, persiapan menghadapi pertandingan, dan sebagainya. Bentuk latihan kecakapan mental yang paling umum dilakukan oleh atlet elit adalah:

  1. Berfikir positif. Berfikir positif dimaksudkan sebagai cara berfikir yang mengarahkan sesuatu ke arah yang positif, melihat segi baiknya. Hal ini perlu dibiasakan bukan saja oleh atlet, tetapi terlebih-lebih bagi pelatih yang melatihnya. Dengan membiasakan diri berfikir positif dapat menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi dan menjalin kerjasama antara berbagai pihak. Pikiran positif akan diikuti dengan tindakan dan perkataan positif pula, karena pikiran akan menuntun tindakan.
  2. Membuat catatan harian latihan mental (mental log). Catatan latihan mental merupakan catatan harian yang ditulis setiap atlet selesai melakukan latihan, pertandingan, atau acara lain yang berkaitan dengan olahraganya. Dalam buku catatan latihan mental ini dapat dituliskan pikiran, bayangan, ketakutan, emosi, dan hal-hal lain yang dianggap penting dan relevan oleh atlet. Catatan ini semestinya dapat menceritakan bagaimana atlet berfikir, bertindak, bereaksi, juga merupakan tempat untuk mencurahkan kemarahan, frustrasi, kecewa, dan segala perasaan negatif jika melakukan kegagalan atau tampil buruk. Dengan melakukan perubahan pola pikir akan hal-hal negatif tadi menjadi positif, atlet dapat menggunakan catatan latihan mentalnya sebagai “langkah baru” — setelah anda mengalami frustrasi, keraguan, ketakutan, ataupun perasaan berdosa/bersalah – untuk kembali membangun sikap mental yang positif dan penuh percaya diri.
  3. Penetapan sasaran (goal-setting). Penetapan sasaran (goal-setting) perlu dilakukan agar atlet memiliki arah yang harus dituju. Sasaran tersebut bukan melulu berupa hasil akhir (output) dari mengikuti suatu kejuaraan. Penetapan sasaran ini sedapat mungkin harus bisa diukur agar dapat melihat perkembangan dari pencapaian sasaran yang ditetapkan. Selain itu pencapaian sasaran ini perlu ditetapkan sedemikian rupa secara bersama-sama antara atlet dan pelatih. Sasaran tersebut tidak boleh terlalu mudah, namun sekaligus bukan sesuatu yang mustahil dapat tercapai. Jadi, sasaran tersebut harus dapat memberikan tantangan bahwa jika atlet bekerja keras maka sasaran tersebut dapat tercapai. Dengan demikian penetapan sasaran ini sekaligus dapat pula berfungsi sebagai pembangkit motivasi.
  4. Latihan relaksasi. Tujuan daripada latihan relaksasi, termasuk pula latihan manajemen stres, adalah untuk mengendalikan ketegangan, baik itu ketegangan otot maupun ketegangan psikologis. Ada berbagai macam bentuk latihan relaksasi, namun yang paling mendasar adalah latihan relaksasi otot secara progresif. Tujuan daripada latihan ini adalah agar atlet dapat mengenali dan membedakan keadaan rileks dan tegang. Biasanya latihan relaksasi ini baru terasa hasilnya setelah dilakukan setiap hari selama minimal enam minggu (setiap kali latihan selama sekitar 20 menit). Sekali latihan ini dikuasai, maka semakin singkat waktu yang diperlukan untuk bisa mencapai keadaan rileks. Bentuk daripada latihan relaksasi lainnya adalah “autogenic training” dan berbagai latihan pernapasan. Latihan relaksasi ini juga menjadi dasar latihan pengendalian emosi dan kecemasan. Latihan relaksasi dapat pula dilakukan dengan bantuan alat seperti “galvanic skin response”, “floatation tank”, dan juga berbagai paket rekaman kaset latihan relaksasi yang mulai banyak beredar di pasaran.
  5. Latihan visualisasi dan imajeri. Latihan imajeri (mental imagery) merupakan suatu bentuk latihan mental yang berupa pembayangan diri dan gerakan di dalam pikiran. Manfaat daripada latihan imajeri, antara lain adalah untuk mempelajari atau mengulang gerakan baru; memperbaiki suatu gerakan yang salah atau belum sempurna; latihan simulasi dalam pikiran; latihan bagi atlet yang sedang rehabilitasi cedera. Latihan imajeri ini seringkali disamakan dengan latihan visualisasi karena sama-sama melakukan pembayangan gerakan di dalam pikiran. Namun, di dalam imajeri si atlet bukan hanya ‘melihat’ gerakan dirinya namun juga memberfungsikan indera pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Untuk dapat menguasai latihan imajeri, seorang atlet harus mahir dulu dalam melakukan latihan relaksasi.
  6. Latihan konsentrasi. Konsentrasi merupakan suatu keadaan dimana kesadaran seseorang tertuju kepada suatu obyek tertentu dalam waktu tertentu. Dalam olahraga, masalah yang paling sering timbul akibat terganggunya konsentrasi adalah berkurangnya akurasi lemparan, pukulan, tendangan, atau tembakan sehingga tidak mengenai sasaran. Akibat lebih lanjut jika akurasi berkurang adalah strategi yang sudah dipersiapkan menjadi tidak jalan sehingga atlet akhirnya kebingungan, tidak tahu harusbermain bagaimana dan pasti kepercayaan dirinya pun akan berkurang. Selain itu, hilangnya konsentrasi saat melakukan aktivitas olahraga dapat pula menyebabkan terjadinya cedera. Tujuan daripada latihan konsentrasi adalah agar si atlet dapat memusatkan perhatian atau pikirannya terhadap sesuatu yang ia lakukan tanpa terpengaruh oleh pikiran atau hal-hal lain yang terjadi di sekitarnya. Pemusatan perhatian tersebut juga harus dapat berlangsung dalam waktu yang dibutuhkan. Agar didapatkan hasil yang maksimal, latihan konsentrasi ini biasanya baru dilakukan jika si atlet sudah menguasai latihan relaksasi. Salah satu bentuk latihan konsentrasi adalah dengan memfokuskan perhatian kepada suatu benda tertentu nyala lilin; jarum detik; bola atau alat yang digunakan dalam olahraganya). Lakukan selama mungkin dalam posisi meditasi.

Periodisasi Latihan Mental

Latihan mental merupakan bagian tidak terpisahkan dari program latihan tahunan atau periodesasi latihan. Latihan mental dilakukan sepanjang atlet menjalani latihan olahraga, karena Latihan-latihan tersebut ada yang memerlukan waktu khusus (terutama saat-saat pertama mempelajari latihan relaksasi dan konsentrasi), namun pada umumnya tidak terikat oleh waktu sehingga dapat dilakukan kapan saja. Jadi saat ini sangat penting dan perlu disadari bagi para atlet, pelatih maupun pembina olahraga bahwa latihan mental sangat diperlukan untuk mendapatkan prestasi puncak (peak performances), dan untuk melakukan latihan mental tersebut diperlukan proses dan alokasi waktu tersendiri.

Demikianlah pembahasan mengenai Mental Training pada kesempatan ini, semoga bermanfaat untuk semua. Salam Olahraga.. Jaya!

References

  • Nasution, Y. (2003). Latihan konsentrasi. Bahan diskusi psikologi olahraga bagi pelatih dalam rangka Pelatnas SEA Games tahun 2003.
  • Nasution, Y. (2007). Psikologi kepelatihan. Makalah dalam rangka Pelatihan Mantan Atlet untuk Menjadi Pelatih Olahraga Tingkat Dasar Tahun 2007.
  • Norito, Tri Bayu dan Fahruddin. (2015). Makalah: Mental Training. Jakarta: PPs Universitas Negeri JakartaRushall, B. (2007). Mental skills training for serious athletes.
  • Tangkudung, J. (2018). SPORT PSYCHOMETRICS : Dasar-Dasar dan Instrumen Psikometri Olahraga. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/328600534
  • http://members.cox.net/brushall/mental/explain.html
  • http://209.85.175.132/searchq=cache:bwMMJJ0yoPYJ:www.koni.or.id/files/documents/journal/4.%2520Latihan%2520Mental%2520Bagi%2520Atlet%2520Elit%2520Oleh%2520Dra.%2520Yuanita%2520Nasution,%2520M.App.Sc.,%2520Psi.pdf+makalah+psikologi+kepelatihan&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id

Saturday 23 January 2021

PERMAINAN ULAR NAGA

Permainan Ular Naga

Permainan ular naga adalah permainan tradisional yang sangat populer di Indonesia. Menurut Pangastuti (2015:76) Permainan tradisional merupakan salah satu wahana enkulturasi nilai-nilai budaya tertentu serta wahana proses untuk menjadi individu-individu yang dapat diterima oleh masyarakatnya.  permainan ular naga merupakan permainan yang sangat seru dan sangat mudah untuk dimainkan. Permainan ular naga sangat akrab dan sering dimainkan khususnya anak-anak dilingkungan sekolah maupun dirumah. Pada permainan ini anak-anak berbaris berpegangan pada “pundak”, yaitu ujung baju atau pinggang anak yang ada di depannya (Putri, dkk. 2018:1418). 

Pengertian permainan ular naga dikemukakan oleh Yulianty dalam Syafrina (2014:51) permainan ular naga adalah permainan berkelompok yang dimainkan oleh minimal 4-5 orang. Anak-anak berbaris bergandeng pegang 'buntut', yakni anak yang berada di belakang berbaris sambil memegang ujung baju atau pinggang anak yang di depannya. Seorang anak yang lebih besar, atau paling besar, bermain sebagai "induk" dan berada paling depan dalam barisan. Kemudian dua anak lagi yang cukup besar bermain sebagai "gerbang", dengan berdiri berhadapan dan saling berpegangan tangan di atas kepala. "Induk" dan "gerbang" biasanya dipilih dari anak-anak yang tangkas berbicara, karena salah satu daya tarik permainan ini adalah dalam dialog yang mereka lakukan. 

Seperti halnya permainan yang lainnya, permainan ular naga memiliki aturan dan tata cara bermain agar permainan ini semakin menarik untuk dimainkan. Untuk lebih jelasnya peraturan dan cara bermain ular naga sebagai berikut:

  1. Dibutuhkan setidaknya 10 orang dalam permainan ini, dua orang bertugas sebagai penjaga dan delapan lainnya berbaris kebelakang membentuk ular, kedua tangan diletakkan di pundak pada teman teman yang berada di depannya.
  2. Yang dua orang berhadap-hadapan dan saling berpegangan tangan lalu diangkat ke atas.
  3. Setelah itu pemain berputar sambil melewati dua orang yang bertugas menjaga tadi.
  4. Sambil permainan berjalan, diiringi nyanyian, semua peserta dan penjaga bernyanyi bersama, pada saat lirik terakhir ia akan dijepit oleh penjaga dan keluar dari ular.
  5. Pemain kedua yang terkena akan menjadi ketua kelompok kedua dan yang pertama akan menjadi ketua kelompok yang pertama.
  6. Untuk peserta ketiga dan seterusnya akan di berikan pilihan untuk mengikuti kelompok yang mana, biasanya dengan dikasih kode mau bulan apa bumi.
  7. Setelah tertangkap semua, maka permainan perebutan anggota antar kelompok dimulai.
  8. Yang anggotanya habis duluan ia adalah kelompok yang kalah. (http://ragampermainantradisional.blogspot.com/2017/06/permainan-tradisional-ular-naga-di.html, n.d.)

Di dalam permainan ular naga, para pemain juga menyanyikan sebuah lagu yang merupakan khas dari permainan ini. Lagu ini dinyanyikan oleh semua pemain, termasuk si "gerbang", yakni pada saat barisan bergerak melingkar atau menjalar. Berikut lirik lagu permainan ular naga:

Kemudian, sambil menerobos "gerbang", barisan mengucap "kosong - kosong - kosong" berkali-kali hingga seluruh barisan lewat, dan mulai lagi menjalar dan menyanyikan lagu di atas. Demikian berlaku dua atau tiga kali. Pada kali yang terakhir menerobos "gerbang", barisan mengucap "isi - isi - isi" berkali-kali, hingga akhir barisan dan anak yang terakhir di buntut ular ditangkap ("gerbang" menutup dan melingkari anak terakhir dengan tangan-tangan mereka yang masih berkait).

Kemudian terjadilah caca dialog dan perbantahan antara "induk" (I) dengan kedua "gerbang" (G). Dialog ini mungkin berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain, dan bahkan juga berbeda-beda sesuai improvisasi si induk dan si gerbang setiap kali seorang anak ditangkap. Berikut dialog dalam bermain ular naga:

Dari hasil penelitian Syafrina (2014:58) beberapa manfaat yang ditemukan dalam bermain ular naga adalah sebagai berikut:

  1. Permainan ular naga dapat meningkatkan perkembangan sosial anak dalam bekerjasama terlihat dari nilai rata-rata pada masing-masing pernyataan yaitu berinteraksi dengan sesama teman, berinteraksi dengan guru, meminta/memberikan ide saat bermain meningkat setiap pertemuannya, 
  2. Permainan ular naga dapat meningkatkan perkembangan sosial anak dalam tanggungjawab terlihat dari nilai rata-rata pada masing-masing pernyataan yaitu mentaati peraturan dalam bermain, melaksanakan permainan dengan tertib, menyusun alat permainan meningkat setiap pertemuannya, 
  3. Permainan ular naga dapat meningkatkan perkembangan sosial anak dalam toleransi terlihat dari nilai rata-rata pada masing-masing pernyataan yaitu menunjukkan kesabaran dalam bermain, menghargai pendapat teman, membiarkan teman ikut bermain,membolehkan teman menggunakan alat permainan meningkat setiap pertemuannya

Manfaat lain permainan ular naga, yaitu semakin mempererat ikatan kita dengan teman, belajar berbagi dan belajar bagaimana kita mempertahankan teman kita, juga belajar menjadi pemimpin yang baik bagi adik-adik kita. Selain itu juga dapat mendidik arti kebersamaan dan menghargai orang lain tanpa menghiraukan adanya kemenangan/kekalahan yang diperoleh saat bermain serta melatih emosional dan kecakapan dalam berkomunikasi (Pangastuti, 2015:91). 

Agresivitas (Psikologis) dalam Permainan Ular Naga

Permainan tradisional adalah salah satu sarana bermain bagi anak. Bermain adalah bagian hidup yang terpenting dalam kehidupan anak. Kesenangan dan kecintaan anak bermain dapat digunakan sebagai kesempatan untuk mempelajari hal- hal yang konkrit sehingga daya cipta, imajinasi, dan kreativitas anak dapat berkembang (Megawangi dalam Putri, dkk., 2018:1418). Permainan ular naga adalah permainan tradisional yang sangat populer di Indonesia. Selain bermanfaat bagi  kesehatan, kebugaran dan tumbuh kembang anak, terdapat juga nilai-nilai positif yang terkandung dalam permainan ular naga misalnya kejujuran, kerjasama, sportif, tolong menolong, tanggung jawab, disiplin dan masih banyak lagi dimana hal-hal tersebut dapat membangun karakter anak. Permainan tradisional yang terstruktur sedemikian rupa secara langsung mempengaruhi psikomotor, perkembangan kognitif dan emosional anak. 

Permainan  ular naga sebagai permainan tradisional. Disamping melestarikan budaya, permainan tersebut juga terdapat nilai-nilai filosofis yang luhur terhadap pendidikan karakter. Karena di dalam  permainan tradisional juga menerapkan reward dan punishment untuk setiap pemainnya, sehingga melalui permainan ini dapat diketahui karakter seorang anak. Bagaimanakah sikap anak jika ia mendapat reward serta apakah anak tersebut mau menerima punishment atas kekalahannya dalam bermain (Pangastuti, 2015:78). Permainan ular naga biasanya dimainkan oleh banyak orang dan menggunakan alat yang sederhana sehingga mudah dimainkan secara bersama-sama. Permainan ular naga atau permainan tradisional dapat mempengaruhi peningkatan kesenangan dari pemain dan positif mempengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan (Tatjana Kovačević and Siniša Opić dalam Mega, Baitul, & Arif, 2018 : 56).

Dalam permainan ular naga timbul sebuah interaksi manusia. Dalam Putri, dkk. (2018:1418) permainan ular naga di bagi menjadi tiga tahapan yaitu :

  • Tahapan pertama terdiri dari persons, contact, and encounters. Tahapan pertama ini disebut sebagai pembentukkan kelompok permainan ular naga. 
  • Tahap kedua terdiri platform performance, pada ini siswa akan bermain dan saling mempertahankan anggota dimana induk mempunyai peran inti dalam melindungi anggotanya kemudian anggota lainnya juga melindungi temannya agar tidak diambil oleh kelompok ular naga lainnya. 
  • Tahap ketiga, celebrations. Kelompok yang menang diberikan reward dan dilakukan refleksi terkait dengan usaha dalam memperoleh kemenangan dan refleksi pembelajaran bagi kelompok yang kalah sehingga didapatkan kesan dari pembelajaran menggunakan media permainan ular naga.

Dalam permainan ular naga dapat menimbulkan perilaku agresif karena dalam permainan ular naga terdapat nilai kompetitif dari dua kelompok yang saling berinteraksi dan  bersaing untuk memenangkan permainan tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Kiswantoro (2016:82) bahwa dalam olahraga yang bersifat kompetitif, pemain bukan hanya berusaha mencapai targetnya, tapi juga berusaha mencegah lawan mencapai target mereka. Hal ini melibatkan konflik langsung yang seringkali diikuti dengan agresivitas dalam usahanya mencegah  lawan  mencapai sukses  kondisi tersebut juga dialami oleh anak-anak seperti yang dikemukakan oleh Hurlock dalam Syafrina (2014:50) menyatakan bahwa pola prilaku sosial anak meliputi: meniru, persaingan atau saling berebut mainan, kerjasama, simpati, empati, dukungan sosial, disiplin, membagi dan prilaku akrab. Hal ini sesuai dengan pengertian agresifitas dalam olahraga yang dikemukakan oleh Tangkudung (2018:537) bahwa agresivitas adalah suatu tindakan yang dilakukan seseorang baik secara fisik ataupun verbal untuk melukai lawan secara fisik dan psikis dalam suatu pertandingan.

Sebuah wawancara dalam penelitian Pangastuti (2015:91) “Saya senang bermain ular naga tapi kadang-kadang ada teman yang tidak mau menjadi ekor dengan alasan bahwa nanti dia akan menjadi sasaran dari mangsa.” (Wawancara dengan Muslim tanggal 15 Juli 2014). Dari wawancara tersebut dapat kita asumsikan bahwa dalam bermain ular naga ketika ada seorang dari kelompok yang tidak mengikuti peraturan dalam permainan, maka hal itu dapat memicu yang mungkin saja akan menimbulkan konflik perorangan maupun kelompok. Konflik memiliki nilai fungsional, jika dipandang sebagai bentuk kompetisi dan mampu mengelola dengan baik untuk menjadi sebuah perubahan. Namun konflik juga bersifat disfungsional jika memerkuat rasa permusuhan (hostile feeling), muncul sikap kekecewaan (deprivation), menanamkan rasa balas dendam atas pengalaman konflik masa lalu (vengeance) hingga terjadinya akumulasi rasa kebencian yang terus sengaja menciptakan konflik berkepanjangan (Harwanto, 2017:61-62)

Terjadinya konflik dapat menjadi faktor pemicu meledaknya agresi, peristiwa yang membangkitkan emosi yang dapat berubah menjadi suatu kekerasan fisik maupun verbal. Mungkin saja pemicu ini tidak ada sangkut pautnya dengan hal- hal yang menyebabkan bangkitnya emosi. Apalagi kekerasan yang melibatkan kelompok hampir selalu lebih mudah berkobar luas daripada bentrok perseorangan. Ini bukan hanya karena pihak yang terlibat lebih banyak dan siap untuk saling melukai, tapi juga karena perilaku orang akan lain jika berada dalam kelompok (Kiswantoro, 2016:82). 

Agresivitas dalam permainan ular naga bukanlah agresivitas pada umumnya, seperti yang dikemukakan dalam buku Sport Pshycometrics, James Tangkudung (2018:536) dimana dalam kesempatan lainnya Gill, Wiliam dan Reifsteck menyebutkan agresi umumnya didefinisikan sebagai perilaku yang cenderung merugikan orang lain yang tidak ingin dilukai dan, Singgih juga mengemukakan Agresifitas berhubungan erat dengan kekerasan fisik yang bertujuan mengurangi kondisi fisik pihak lainnya agar dapat memastikan kemenangan. Jadi, agresivitas yang diharapkan dalam permainan ular naga adalah perilaku agresif yang positif.

Sebuah hasil penelitian mengungkapkan bahwa permainan ular naga dapat mengembangkan aspek sosial seorang anak. Menurut hasil penelitian Syafrina (2014:59) permainan ular naga dapat meningkatkan perkembangan sosial anak dalam toleransi terlihat dari nilai rata-rata pada masing-masing pernyataan yaitu menunjukkan kesabaran dalam bermain, menghargai pendapat teman, membiarkan teman ikut bermain, membolehkan teman menggunakan alat permainan meningkat setiap pertemuannya. Jadi, tidak menutup kemungkinan permainan ular naga sebagai salah satu kegiatan jasmani dapat mengontrol perilaku agresivitas seorang anak setelah bermain ular naga.

Menurut Cox H. Richard dalam Tangkudung (2018:544) ada pula upaya untuk mengendalikan tindakan kekerasan/agresivitas yang menyimpang, antara lain:

  • Olahragawan-olahragwan muda harus diberi pengetahuan tentang contoh tingkah laku non agresif, penguasaan diri, dan penampilan yang benar.
  • Olahragawan yang terlibat tindakan agresif ahrus dihukum, harus disadarkan bahwa tindakan agresif dengan melukai lawan adalah tindakan yang tidak benar.
  • Pelatih yang memberi kemungkinan para olahragawan terlibat agresif dengan kekerasan harus diteliti dan harus dihentikan dari tugasnya sebagai pelatih.
  • Pengaruh dari luar yang memungkinkan terjadinya tindakan agresif dengan kekerasan di lapangan pertandingan harus dihindarkan.
  • Para pelatih dan wasit didorong atau dianjurkan untuk menghadiri lokakrya-lokakarya yang membahas tindakan agresif dan kekerasan.
  • Di samping hukuman terhadap tindakan agresif dengan kekerasan olahragawan harus didorong secara positif meningkatkan kemampuan bertindak tenang menghadapi situasi-situasi emosional
  • Penguasaan emosi menghadapi tindakan agresif dengan kekerasan harus dilatih secara praktis antara lain melalui latihan mental.

Seperti halnya dengan olahraga, Agresivitas merupakan salah satu aspek psikologis yang terdapat  dalam permainan tradisional salah satunya dalam permainan ular naga. Perilaku agresif sangat diperlukan untuk dapat memenangkan permainan, seperti dalam permainan ular naga, tetapi sifat dan sikap agresif apabila tidak terkendali dapat menjurus pada tindakan-tindakan berbahaya, melukai lawan, melanggar peraturan dan mengabaikan sportivitas.


DAFTAR PUSTAKA

  • Dini, F. O., & Indrijati, H. (2014). Hubungan antara Kesepian dengan Perilaku Agresif pada Anak Didik di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar. Jurnal Psikologi Klinis Dan Kesehatan Mental, 03(03).
  • Hapsari, I., & Wibowo, I. (2015). FANATISME DAN AGRESIVITAS SUPORTER KLUB SEPAK BOLA. Jurnal Ilmiah Psikologi, 8(1).
  • Harwanto, H. (2017). Konflik Kekerasan antar Anggota Kelompok Beladiri dalam Paradigma Sosiologi Olahraga ( Kajian Kepemimpinan ). JOURNAL OF SPORT SCIENCE AND EDUCATION (JOSSAE), 2(2).
  • http://ragampermainantradisional.blogspot.com/2017/06/permainan-tradisional-ular-naga-di.html. (n.d.). Permainan Tradisional Ular Naga di Indonesia. Retrieved March 13, 2020, from http://ragampermainantradisional.blogspot.com/2017/06/permainan-tradisional-ular-naga-di.html
  • id.wikipedia.org. (n.d.). Permainan Berkelompok - Ular Naga. Retrieved from https://id.wikibooks.org/wiki/Permainan/Berkelompok/Ular_Naga
  • Kayar, R. B. I. N. (2007). KELANGSANGAN DALAM MEDIA DAN KESANNYA TERHADAP TINGKAH LAKU AGRESIF PELAJAR. UNIVERSITI TEKNOLOGI MALAYSIA.
  • Khaninah, A. N., & Widjanarko, M. (2016). PERILAKU AGRESIF YANG DIALAMI KORBAN KEKERASAN DALAM PACARAN. Jurnal Psikologi Undip, 15(2), 151–160.
  • Kiswantoro, A. (2016). PEMBINAAN MENTAL BAGI ATLET PEMULA UNTUK MEMBANTU PENGENDALIAN AGRESIFITAS. JURNAL KONSELING GUSJIGANG, 2(1). https://doi.org/10.24176/jkg.v2i1.560
  • Mega, G., Baitul, S., & Arif, M. (2018). Eksistensi Permainan Tradisional Sebagai Warisan Budaya Bangsa. JOURNAL OF SPORT SCIENCE AND EDUCATION (JOSSAE), 3(2). Retrieved from http://journal.unesa.ac.id/index.php/jossae/index
  • Pangastuti, L. (2015). PERMAINAN TRADISIONAL SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER ANAK DI DESA GARJOYO KELURAHAN IMOGIRI KECAMATAN IMOGIRI KABUPATEN BANTUL TAHUN 2014. Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 6(1), 74–94.
  • Putri, P., Mappiare-AT, A., & Irtadji, M. (2018). Panduan Permainan Ular Naga Bermuatan Nilai Budaya Bengkulu untuk Meningkatkan Self Advocacy Siswa SMP. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, Dan Pengembangan, 3(11), 1417–1422. https://doi.org/10.17977/JPTPP.V3I11.11720
  • Salmiati. (2015). PERILAKU AGRESIF DAN PENANGANANNYA (STUDI KASUS PADA SISWA SMP NEGERI 8 MAKASSAR). Jurnal Psikologi Pendidikan & Konseling, 1(iii), 66–76.
  • Syafrina, M. (2014). MENINGKATKAN PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK MELALUI PERMAINAN ULAR NAGA DI PAUD HARAPAN BANGSA KECAMATAN SINTUK TOBOH GADANG PADANG PARIAMAN. SPEKTRUM PLS, 2(1).
  • Tangkudung, J. (2018). SPORT PSYCHOMETRICS : Dasar-Dasar dan Instrumen Psikometri Olahraga. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/328600534
  • Yahaya, A. (2014). PENGARUH MEDIA BERUNSUR AGRESIF DAN KESANNYA TERHADAP TINGKAH LAKU PELAJAR SEKOLAH MENENGAH. ResearchGate, (June). https://doi.org/10.13140/2.1.2909.3761

Saturday 9 January 2021

KOLOKIUM

KOLOKIUM 

Pengertian Kolokium ?

Kolokium didefinisikan kegiatan belajar yang dilakukan dalam bentuk seminar untuk membahas penelitian bertaraf lanjutan (KBBI dalam PPs UNJ, 2019:1) 

Kolokium merupakan mata kuliah mahasiswa program pascasarjana S2 dan S3 yang merupakan salah satu media komunikasi ilmiah bagi mahasiswa untuk mengemukakan substansi dan permasalahan yang akan dijadikan subyek penelitian Tesis / Disertasi serta menambah wawasan keilmuan atau dapat juga dimaknai sebagai media presentasi usulan penelitian/usulan proyek bagi mahasiswa.



Tujuan dan Manfaat Kolokium ?
  • Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan usulan penelitian/usulan proposal dihadapan komisi pembimbing, para staf pengajar/dosen, dan para mahasiswa program studi untuk dapat memperoleh masukan bagi penyempurnaan usulan penelitian/usulan proposal tersebut.
  • Melatih mahasiswa yang akan melakukan penelitian menyampaikan ide-idenya dan memberikan argumentasi secara ilmiah terhadap pertanyaan-pertanyaan atau sanggahan yang diajukan oleh pembanding utama maupun pembanding bebas.
  • Memberikan wawasan yang lebih luas bagi mahasiswa yang lain sebagai dasar penulisan dan penyusunan usulan penelitian/usulan proposal.
  • Mampu menyusun usulan penelitian dengan metodologi yang baik sesuai dengan KKNI
  • Mampu melaksanakan penelitian tesis/disertasi dengan metodologi yang sahih dan handal
  • memperoleh wawasan yang luas tentang isu-isu permasalahan dalam bidang pangan berikut solusinya yang perlu diteliti.
Prosedur dan Prasyarat ?
  • Prosedur dan persyaratan Kolokium disesuaikan dengan kebijakan dari perguruan tinggi program pascasarjana masing-masing.
  • Biasanya masing-masing perguruan tinggi program pascasarjana menerbitkan sebuah buku pedoman kolokium untuk menjelaskan pelaksanaan, prosedur dan persyaratan bagi mahasiswa S2 dan S3
  • Umumnya buku pedoman kolokium terdiri beberapa item seperti berikut;
  1. Pelaksanaan perkuliahan atau proses pembelajaran kolokium
  2. Beban kredit 
  3. Bimbingan promotor /pembimbing
  4. Syarat dan ketentuan perkuliahan dan pendaftaran kolokium
  5. Pelaksanaan ujian kolokium
  6. Sistematika karya ilmiah
  7. Kriteria penilaian
  8. Lampiran-lampiran yang berisikan format / draft prosedur dan persyaratan kolokium
Referensi:

PPs Universitas Negeri Jakarta. (2019). Pedoman Kolokium Pascasarjana. Indonesia: Universitas Negeri Jakarta.

Thursday 7 January 2021

PLIOMETRIK

PLIOMETRIK

Defenisi Pliometrik

Pliometrik berasal dari kata “plyethyein” (yunani) yang berarti untuk meningkatkan, atau dapat pula diartikan dari kata pilio” dan metric” yang artinya more and measure, respectively (James C. Radcliffe & Farentinos, 1985:3)

Pliometrik dikenal juga sebagai siklus peregangan-pemendekan (the stretching-shortening cycle), atau refleks peregangan miotatik (myotatic stretch reflex), Pliometrik mengacu pada latihan di mana otot dimuat dalam kontraksi eksentrik (lengthening), diikuti segera oleh kontraksi konsentris (shortening) (Bompa, 1999:170)

Sederhananya, Pliometrik didefinisikan sebagai latihan yang memungkinkan otot mencapai kekuatan maksimum dalam waktu sesingkat mungkin. (Donald A. Chu & Gregory D. Myer, 2013:14). kami menjelaskannya sebagai "putaran yang terdiri dari kontak tanah yang kuat diikuti oleh gerakan kuat yang terkoordinasi dalam arah yang berlawanan". Semakin sedikit waktu kontak dengan tanah, semakin baik hasilnya. Otot Spindle adalah reseptor regangan utama di otot. Ketika otot diregangkan dengan kuat dan cepat, gelendong otot memulai respons refleks regangan. Respon ini menghasilkan keluaran tenaga yang jauh melebihi kontraksi otot kehendak sederhana (Charles & Petraglia, 2013:4)

Latihan Pliometrik

Latihan pliometrik didasarkan pada pelatihan stretch-shortening cycle (SSC) dari aksi otot untuk meningkatkan aksi konsentris berikutnya. Penggunaan siklus pemendekan-peregangan sangat penting untuk gerakan manusia yang efisien. Ini adalah kualitas tindakan otot yang sangat mudah dilatih dan beradaptasi (Gambetta, 2007:209)

Plyometrics: Drills or exercises that link sheer strength and scope of movement to produce an explosive-reactive type of movement; often refers to jumping drills and depth jumping, but can include any drill or exercise that uses the stretch reflex to produce an explosive reaction (T. Bompa & Buzzichelli, 2015:68)

Beberpa ahli ilmu olahraga sepakat bahwa latihan pliometrik bertujuan untuk melatih kekuatan (strength). Menurut Gambetta (2007:193) Pelatihan pliometrik dan latihan kekuatan sangat saling melengkapi. Pelatihan pliometrik juga sangat kompatibel dengan pengembangan kecepatan. Kemudian lebih rinci diungkapkan oleh (Henry, 1999:1) bahwa Plyometrics is a method of developing explosive power. It is also animportant component of most athletic performances.

Menurut Gambetta (2007:210) Tujuan dari latihan pliometrik adalah sebagai berikut:

  • Untuk meningkatkan daya ledak
  • Untuk belajar  lebih menipiskan gaya reaksi tanah saat melakukan aktivitas olahraga, dan
  • Untuk belajar dapat mentolerir dan menggunakan beban regangan yang lebih besar (pada dasarnya untuk meningkatkan kekakuan otot).

Jenis Kekuatan

  1. Starting strength adalah kemampuan otot untuk mengatasi inersia dengan menciptakan kekuatan yang cukup untuk memulai gerakan. Ini berlaku untuk gaya awal yang digunakan pelari cepat keluar dari garis atau angkat besi yang mengambil barbel dari lantai. Ini dianggap konsentris.
  2. Stopping strength adalah kemampuan tubuh untuk menyerap kekuatan melalui sistem tendon otot; pikirkan tentang berlari kembali dengan menanam kaki dan 'memotong' untuk mengubah arah. Ini dianggap kontraksi eksentrik.
  3. Elastic strength adalah kemampuan sistem otot-tendon untuk menyerap gaya dalam siklus pemendekan regangan, untuk mengatasi gaya dalam waktu amortisasi yang relatif singkat, dan untuk secara eksplosif menggerakkan benda ke arah yang berlawanan.

Fase Stretch-Shortening Cycle, yaitu:
  1. Fase Eksentrik : melibatkan preloading kelompok otot agonis (penggerak utama). Ini juga dikenal sebagai fase perlambatan. Fase eksentrik akan memanfaatkan energi elastis yang tersimpan jika dilakukan dengan benar.
  2. Fase Amortisasi : Waktu dari akhir fase eksentrik hingga permulaan fase konsentris (kontak tanah).
  3. Fase Konsentris : Respons refleksif PNF / SSP terhadap fase eksentrik dan amortisasi di mana energi yang disimpan di SEC digunakan untuk kontraksi otot. Gerakan yang tidak efisien akan mengakibatkan hilangnya energi elastis ini, yang akan hilang sebagai panas

Menurut Bompa (1994: 112) bentuk-bentuk latihan pliometrik dikelompokan menjadi dua, yaitu

  1. Latihan dengan intensitas rendah (low impact) dan
  2. Latihan dengan intensitas tinggi (high impact).

Latihan dengan intensitas rendah (low impact) meliputi:

  • Skipping
  • Rope jump
  • Lompat (jump) rendah dan langkah pendek
  • Loncat-loncat (Hops) dan lompat-lompat
  • Melompat diatas bangku atau tali setinggi 25-35 cm
  • Melempar medicine ball 2-4 kg
  • Melempar bola tenis/baseball (bola yang ringan).

Sedangkan latihan dengan intensitas tinggi (High impact), meliputi:

  • Lompat jauh tanpa awalan (standing broad/long jump)
  • Triple jump (lompat tiga kali)
  • Lompat (jump) tinggi dan langkah panjang
  • Loncat-loncat dan lompat-lompat
  • Melompat di atas bangku atau tali setinggi 35 cm
  • Melempar medicine ball 5-6 kg
  • Drop jump dan reaktif jumps, dan
  • melempar benda yang relatif berat

  1. Untuk trunk dan tubuh bagian atas (upper body), latihan pliometrik mencakup pelaksanaan berbagai jenis latihan melempar, terutama menggunakan medicine balls.
  2. Untuk tubuh bagian bawah (lower body), latihan pliometrik mencakup pelaksanaan berbagai jenis latihan jenis lompat beban tubuh, drop jumps, countermovement jumps, alternate-leg bounding, hopping, dan latihan lompat SSC lainnya.


Setiap rencana untuk memasukkan latihan pliometrik ke dalam program pelatihan harus memperhitungkan faktor-faktor berikut:
  • Usia dan perkembangan fisik atlet
  • Keterampilan dan teknik yang terlibat dalam latihan pliometrik
  • Faktor kinerja utama olahraga
  • Persyaratan energi olahraga
  • Fase pelatihan rencana tahunan
  • Perlu, bagi atlet yang lebih muda, untuk menghormati perkembangan metodis dalam waktu lama periode (dua hingga empat tahun), berkembang dari intensitas rendah (level 5 dan 4), ke intensitas sedang (level 3) dan kemudian ke intensitas tinggi (level 2 dan 1) (T. Bompa & Buzzichelli, 2015:285)
Demikianlah deskripsi singkat tentang Pliometrik yang dapat saya rangkum. Semoga bermanfaat bagi semua dan khususnya bagi saya sendiri. Terima kasih dan terus belajar ya ...
Wassalam.

Sumber :
  • Bompa, T., & Buzzichelli, C. (2015). Periodization Training for Sports, Third Edition (3rd Editio). Human Kinetics.
  • Bompa, T. O. (1999). Periodization Training for Sports: program for peak strength in 35 sport (3rd ed.). Human Kinetics.
  • Bompa, T. O., & Haff, G. G. (2009). Periodization: theory and methodology of training (5th ed.). Human Kinetics.
  • Donald A. Chu, P., & Gregory D. Myer, P. (2013). Plyometrics. Human Kinetics.
  • Gambetta, V. (2007). Athletics Development : the art & science of functional sports conditioning. Human Kinetics.
  • James C. Radcliffe, & Farentinos, R. C. (1985). Plyometrics Explosive Power Training. Human Kinetics publisher, Inc.
  • Radcliffe, J. C., & Farentinos, R. C. (1999). High-Powered Plyometrics (p. 170). Human Kinetics, Champaign, IL.

Sunday 13 December 2020

LONG TERM ATHLETE DEVELOPMENT - ppt download



Menurut Balyi (2013:12) LTAD adalah model inklusif yang mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik seumur hidup dengan menghubungkan dan mengintegrasikan program pendidikan fisik sekolah dengan program klub olahraga elit dan program olahraga rekreasi di masyarakat. Melalui pendekatan holistiknya, LTAD mempertimbangkan perkembangan fisiologis, psikologis, dan sosial sehingga setiap atlet berkembang sebagai pribadi yang utuh.

Menurut Granacher et al., (2016:2) LTAD adalah jalur terstruktur untuk mengoptimalkan perkembangan dari anak-anak berbakat menjadi atlet elit yang terdiri dari tujuh tahapan berurutan, yaitu: 

  1. Active Start, 
  2. FUNdamentals, 
  3. Learn to Train, 
  4. Train to Train, 
  5. Train to Compete, 
  6. Train to Win, 
  7. Active for Life) and considers individual maturational level rather than chronological age

Gambar The Indigenous Long-Term Participant Development Pathway Sumber: (Sport For Life, 2019:13)  


LONG TERM ATHLETE DEVELOPMENT - ppt download

PPPPP Talented young athletes need to be helped to reach the elite level A systematic approach to talent identification and development, led by governing bodies on a sport by sport basis. A single framework that avoids young people over-competing or specialising in single sports too early Co-ordination is key particularly between clubs and schools, to achieve this

Reference:


Balyi, I., Way, R., & Higgs, C. (2013). Long-Term Athlete Development. https://doi.org/10.1249/jsr.0b013e3181fe3c44

Granacher, U., Lesinski, M., Büsch, D., Muehlbauer, T., Prieske, O., Puta, C., … Behm, D. G. (2016). Effects of resistance training in youth athletes on muscular fitness and athletic performance: A conceptual model for long-term athlete development. Frontiers in Physiology, 7(MAY). https://doi.org/10.3389/fphys.2016.00164

Sport For Life. (2019). Indigenous Long-Term Participant Development Pathway 1.2. Canada: Sport for Life Society.

Monday 2 November 2020

OPEN-LOOP AND CLOSED-LOOP CONTROL SYSTEMS

 SISTEM KONTROL TERBUKA & SISTEM KONTROL TERTUTUP

Dalam motor learning (pembelajaran gerak) kita mengenal adanya sistem kontrol open-loop dan sistem konrol closed-loop. Teori kontrol motorik biasanya menggabungkan dua sistem kontrol dasar manusia yaitu sistem kontrol terbuka dan tertutup yang melibatkan pusat kendali, instruksi gerakan, dan efektor (organ, jaringan, sel yg mampu mengadakan reaksi terhadap rangsangan). Menurut Goodgold-edwards & Cermak (1990:435) Perilaku keterampilan motorik membutuhkan keseimbangan yang halus antara sistem kontrol open-loop dan sistem konrol closed-loop. Jadi, Kedua sistem ini sangat penting untuk diketahui dalam pembelajaran gerak untuk membantu manusia ‘belajar gerak’ dalam mencapai penguasaan keterampilan dan efesiensi gerak. 

Pengertian Sistem Open-Loop dan Closed-Loop ?

Sistem Kontrol Open-Loop 

Menurut Magill & Anderson (2017:93) sistem kontrol open-loop merupakan sistem kendali di mana semua informasi yang diperlukan untuk memulai dan melaksanakan tindakan seperti yang direncanakan terdapat dalam instruksi awal kepada efektor. Sedangkan, Menurut  Hatzel & Albrecht (2014:47)  sistem kontrol open-loop adalah sistem tempat aktivitas dimulai, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk memeriksa atau mengubah hasilnya.

Sistem Kontrol Closed-Loop 

Menurut Magill & Anderson (2017:93) sistem konrol closed-loop merupakan sistem kontrol di mana, selama tindakan, umpan balik dibandingkan dengan standar atau referensi untuk memungkinkan tindakan dilakukan sesuai rencana. Sedangkan, Menurut Hatzel & Albrecht (2014:47) sistem konrol closed-loop lebih seperti termostat (suatu perangkat yang dapat memutuskan dan menyambungkan arus listrik pada saat mendeteksi perubahan suhu di lingkungan sekitarnya sesuai dengan pengaturan suhu yang ditentukan), di mana umpan balik sensorik membantu memandu respons otak.

Perbedaan antara Sistem Kontrol Open-Loop dan Closed-Loop

Sistem kontrol open-loop dan close-loop berkaitan dengan instruksi gerakan yang dikeluarkan oleh pusat kendali (otot-otot tungkai, tubuh, dan / atau kepala). Menurut Goodgold-edwards & Cermak (1990:434) Sistem kontrol close-loop, atau model arus masuk, menekankan peran umpan balik dan perhatian, sedangkan sistem kontrol open-loop, atau model aliran keluar, melibatkan program motorik atau urutan tindakan yang direncanakan sebelumnya yang dapat dieksekusi tanpa umpan balik (feeedback) dan yang memungkinkan kinerja tindakan tanpa perhatian sadar. Lebih lanjut menurut Bartlett (2005:150) Kontrol yang dilakukan dengan umpan balik (feeedbackdisebut sistem kontrol close-loop; jika tidak ada  umpan balik (feeedback), maka kontrolnya adalah sistem kontrol open-loop

Kemudian lebih lanjut lagi perbedaan kedua sistem ini menurut Magill & Anderson (2014:109) mengungkapkan bahwa dalam sistem open-loop, pusat kendali mengirimkan kepada efektor semua instruksi gerakan yang mereka butuhkan untuk melakukan suatu keterampilan dari awal hingga akhir. Sebaliknya, pusat kendali dalam sistem close-loop mengirimkan instruksi gerakan ke efektor yang memungkinkan mereka untuk memulai kinerja suatu keterampilan; umpan balik dari efektor dan sumber lain memberikan pusat kendali informasi yang diperlukan untuk memberikan instruksi kepada efektor untuk melanjutkan dan mengakhiri pergerakan. Lebih lanjut Menurut Bartlett (2005:151) gerakan terkoordinasi, seperti dalam kebanyakan sistem kendali tak bergerak yang efektif, merupakan produk dari kendali close-loop (suatu mekanisme servo). Bentuk kontrol ini dikaitkan dengan tingkat perilaku terintegrasi yang lebih tinggi daripada yang mungkin dilakukan dengan kontrol open-loop

Jadi sesuai pendapat para ahli di atas dapat kita perhatikan bersama dimana letak perbedaan dari kedua sistem kontrol motorik ini, yaitu bahwa perbedaan sistem loop-terbuka dan sistem loop-tertutup ada pada penggunaan umpan balik (feedback). Sistem open-loop tidak terdapat umpan balik (feedback), tetapi close-loop menggunakan atau terdapat umpan balik (feedback). Menurut Magill & Anderson (2017:93) Dalam pergerakan manusia, umpan balik adalah informasi aferen (saraf yang membawa sinyal dari sistem saraf pusat ke otot-otot dan kelenjar-kelanjar) yang dikirim oleh berbagai reseptor sensorik ke pusat kendali. Tujuan dari umpan balik (feedback) ini adalah untuk memperbarui pusat kendali tentang ketepatan gerakan saat sedang berlangsung. Menurut Magill & Anderson, (2017:93) ada beberapa sumber umpan balik sensorik, seperti sistem visual dan pendengaran.

 

Gambar ilustrasi sistem kontrol loop terbuka dan loop tertutup untuk kontrol gerakan (Diadopsi dari Magill & Anderson, 2017:92)

Gambaran umum sistem kontrol open-loop dan sistem konrol closed-loop adalah tentang berbagai cara sistem saraf pusat (otak dan sumsung tulang belakang) dan perifer (bagian dari sistem saraf yang di dalam sarafnya terdiri dari sel-sel yang membawa informasi ke -sel saraf sensorik- dan dari -sel saraf motorik- sistem saraf pusat (SSP), yang terletak di luar otak dan sumsum tulang belakang) memulai dan mengontrol tindakan. Kunci dari sistem kontrol open-loop dan sistem konrol closed-loop adalah Time (waktu) dan Feedback (umpan balik). Time (waktu berhubungan dengan fast (cepat) dan slow (lambat). Pada kontrol open-loopfast” dan Kontrol closed-loopslow”.  Kemudian untuk feedback (umpan balik), yaitu kontrol open-looponly after” dan Kontrol closed-loopduring”. 

Pada sistem open-loop (terbuka), saat melakukan gerakan contohnya dalam situasi pertandingan, seorang pemain basket melakukan lemparan (shoot) menuju keranjang basket, setelah bola basket lepas dari tangan pemain maka bola tersebut tidak dapat lagi dirubah atau dibatalkan untuk tidak mengarah ke keranjang basket. Bola basket itu terus bergerak melaju cepat kearah keranjang basket dan menghasilkan angka. Mengapa demikian ?? kemungkinan sebelum pemain basket itu melakukan Shoot dia merasa sudah cukup dengan informasi yang dia butuhkan untuk memasukkan bola kedalam keranjang dan membuat angka. Pemain itu tidak membutuhkan feedback (umpan balik) lagi walaupun pilihan-pilihan sebelum melempar itu ada ataukah pemain itu tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan dan mengendalikan gerakannya secara efektif sebelum dia melakukan shoot.

Pada sistem closed-loop (tertutup), saat melakukan gerakan contohnya pembalap Moto GP. Pembalap yang mengendarai motornya dan melaju diatas lintasan balap yang  sebagaimana kita ketahui bersama pembalap moto GP ini memiliki pergerakan yang sangat cepat di atas lintasan balap. Tetapi, Ketika pembalap Moto GP  tersebut melaju dengan cepat pada saat yang bersamaan mereka berkonsentrasi dan berusaha untuk menjaga motornya untuk tetap berada di jalur lintasan balap.  Dalam situasi tersebut, para pembalap Moto GP menggunakan umpan balik visual dan proprioseptif (indera yang bertanggung jawab atas kesadaran tubuh, memberikan informasi tentang posisi anggota tubuh, posisi seseorang di lingkungan serta besarnya kekuatan yang perlu dikeluarkan untuk melakukan gerakan) untuk mengontrol setir motornya untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan agar motor mereka tidak keluar dari jalur lintasan balapan. Jadi, feedback (umpan balik) memberikan informasi kepada pembalap-pembalap tersebut, yang berfungsi untuk memungkinkan pusat kendali melakukan salah satu dari beberapa hal: membiarkan gerakan melanjutkan seperti yang diinstruksikan awalnya, memberikan instruksi tambahan untuk melanjutkan gerakan yang sedang berlangsung, atau memperbaiki kesalahan gerakan.

Demikianlah yang dapat saya rangkum tentang pembelajaran gerak pada materi sistem kontrol : sistem kontrol open-loop dan sistem konrol closed-loop. Semoga bermanfaat untuk semua dan khususnya untuk diri saya sendiri. Tetap terus semangat belajar. Terima kasih. Wassalam

Sumber:

  • Bartlett, R. (2005). Sports Biomechanics: Reducing Injury and Improving Performance. London and New York: Routledge Taylor & Francis Group.
  • Goodgold-edwards, S. A., & Cermak, S. A. (1990). Integrating Motor Control and Motor Learning Concepts With Neuropsychological Perspectives on Apraxia and Developmental Dyspraxia. The American Journal of Occupational Therapy. : Official Publication of the American Occupational Therapy Association., 431–439. https://doi.org/https://doi.org/10.5014/ajot.44.5.431
  • Hatzel, B., & Albrecht, R. (2014). Kinesiology for Dummies.
  • Magill & Anderson. (2014). Motor Learning and Control, Consepts and Applications.
  • Magill, R. A., & Anderson, D. I. (2017). Motor Learning and Control Concepts and Aplication.

MOTOR LEARNING

MOTOR LEARNING 🎯Olahraga dalam pendidikan merupakan kegiatan belajar yang dapat menghasilkan kemampuan, keterampilan, atau keahlian gerak d...

OnClickAntiAd-Block