Monday 14 November 2022

SLOW TWITCH AND FAST TWITCH MUSCLE FIBERS

SERAT OTOT TIPE I DAN TIPE II DALAM OLAHRAGA

SERAT OTOT 

Serat Otot (muscle fibers) merupakan salah satu bagian dari susunan struktur otot rangka (skeletal muscle). Serat otot terbentuk dari myofibrils yang bertumpuk-tumpuk dengan sejajar. [1]Serat otot ini membentuk kumpulan yang lebih besar dari fasikulus otot yang bergabung untuk membentuk otot rangka yang kemudian menciptakan gerakan manusia.   

Rangkaian proses sebelum serat otot terbentuk seperti berikut: 

Gambar 1. Proses serat otot terbentuk

Adapun struktur serat otot itu sendiri terdiri dari: 

  1. Sarcolemma : mengandung selaput plasma luar dan selaput bagian dalam yang berhubungan dengan struktur lamina basal.
  2. T Tubules (transverse tubules) : T Tubules memiliki kemampuan untuk bertindak menyebarkan zat ke dalam serat otot.
  3. Sarcoplasmic Reticulum :  merupakan kisi jaringan konduktif yang memiliki tenaga atau kemampuan untuk menembus jauh ke dalam serat otot. Proses ini mengelilingi myofilaments dan mengolahnya menjadi myofibrils

[2]Serabut otot atau cells terdiri dari kumpulan myofibril yang dikelilingi oleh membran (endomysium, sarcolemma). Perlu diketahui Sarcoplasm mengandung enzim, lemak, glikogen, mitokondria (tempat produksi energi aerobik), berbagai macam inti, dan organ-organ lainnya. Fasikula terdiri dari serat otot paralel yang dibungkus oleh membran (perimysium). Otot terdiri dari beberapa fasikulus yang dikelilingi oleh fasia (epimysium). 

Pembentukan serat otot yang baru sangat penting agar otot dapat melaksanakan fungsinya dengan normal. Serat otot yang baru harus dibentuk untuk menggantikan serat otot yang lama atau rusak. Proses pembentukan serat otot ini disebut dengan myogenesis.

Sel Satellite (sel induk) dilepaskan dari basal lamina dan bergerak menuju ke daerah pembentukan serat. Sel Satellite ini kemudian bertambah banyak jumlahnya dan diproses menjadi sel yang lebih fungsional yang disebut myoblast. Myoblast kemudian mengalami proses penggabungan untuk membentuk myotube yang memiliki banyak inti. Myotubes inilah cikal bakal atau dasar pembentukan serat baru yang kemudian berproses secara terus –menerus sampai menghasilkan serat otot yang baru. 

[3]Proses myogenesis ditingkatkan oleh beberapa zat diantaranya seperti; MyoD, Myf5, dan myogenin tetapi dalam prosesnya dicampuri oleh protein yang disebut myostatin. Stimulasi myogenesis meningkatkan pertumbuhan otot sedangkan zat inhibitor membatasi pertumbuhan otot.

[4]Serat otot merupakan sel yang memiliki inti yang banyak, dan diyakini bahwa setiap nukleus melayani volume sarkoplasma yang terbatas kemudian mengendalikan sintesis protein dan berpotensi memberikan batasan ukuran serat. Setiap tipe serat memiliki karakteristik berbeda tergantung pada bentuk gaya atau kekuatan (force) dan daya tahannya. [5]Serat otot unik karena merupakan sel individu dengan banyak inti yang mengandung bahan sel DNA. Hal ini menandakan bahwa serat otot berpotensi lebih besar untuk perbaikan dan hipertrofi melalui sintesis protein karena setiap nukleus hanya mengatur sebagian kecil sel.  

SERAT OTOT DALAM OLAHRAGA

Otot rangka beradaptasi dengan latihan olahraga dengan berbagai cara dan spesifik. Latihan yang di atur secara sistematis menghasilkan banyak gen yang bekerja sehingga meningkatkan fungsi otot kita. [6]Otot rangka terbagi dua tipe serat otot berdasarkan kontraktil otot dan sifat metaboliknya.[7]Serat otot secara umum dikategorikan menjadi dua jenis serat utama: Tipe I dan Tipe II. 

1. Slow-Twitch (ST) atau Serat Tipe I : Sebagian besar merupakan serat daya tahan 

  • Olahraga Aerobik 
  • Otot soleus didominasi Slow-Twitch (ST). 
  • Serat Tipe I memiliki kapasitas gaya yang dihasilkan paling sedikit tetapi memiliki daya tahan tertinggi
  • Atlet yang menggunakan daya tahan, seperti: pelari jarak jauh dan menengah, pengendara sepeda dll. secara umum menggunakan lebih banyak serat Tipe I 
  • Memiliki kecepatan konduksi saraf yang lebih besar, kecepatan kontraktilitas otot, kandungan enzim anaerobik, dan output daya
  • Serat otot lambat bergantung pada kemampuan kapasitas oksigen
  • Lambat lelah
  • Sel saraf yang lebih kecil—memiliki jumlah saraf 10 hingga 180 serabut otot
  • Mengembangkan kontraksi yang panjang dan terus menerus
  • Direkrut selama pekerjaan dengan intensitas rendah dan tinggi

2. Fast-Twitch (FT) atau Serat Tipe II : Sebagian besar adalah serat kekuatan dan power

  • Olahraga Anaerobik 
  • Otot gastrocnemius didominasi Fast-Twitch (FT)  
  • Serat Tipe II memiliki daya tahan paling sedikit tetapi memiliki kekuatan yang besar
  • Atlet yang menggunakan kekuatan/power, seperti: pelari cepat, pelempar, angkat besi, pelompat dll. secara umum menggunakan lebih banyak serat Tipe II 
  • Memiliki aktivitas glikolitik yang tinggi, yang berarti mereka menggunakan glikogen atau bentuk penyimpanan glukosa pada tingkat tinggi.
  • Serat yang tidak membutuhkan oksigen 
  • Cepat lelah
  • Sel saraf besar—menyarafi 300 hingga 500 lebih serat otot
  • Mengembangkan kontraksi pendek dan kuat
  • Direkrut hanya selama pekerjaan berintensitas tinggi

Dalam olahraga kita juga mengenal Serat Otot Hibrida yang berada dalam spektrum serat otot Tipe I dan Tipe II. [8]Rangkaian Tipe serat otot itu terdiri dari Tipe serat I, IC, IIC, IIAC, IIA, IIAB (IIAX), dan IIB (IIX). Meskipun memiliki karakteristik yang berbeda tetapi jenis-jenis serat otot tersebut beroperasi secara berangkai (kontinum). 

 

Gambar 2. Rangkaian tipe serat otot disertakan peringkat untuk kekuatan dan daya tahan. (Sumber:  di adopsi dan di modifikasi dari Ratamess. ACSM’s Foundation of Strength Training and Conditioning. Tahun 2012)

Saat melakukan latihan laktat, serat otot glikolitik atau serat otot cepat dari Tipe IIx mengambil karakteristik serat glikolitik oksidatif serat otot cepat dari Tipe IIa. Namun mereka mendapatkan kembali karakteristik mereka dengan sangat cepat ketika volume latihan mulai berkurang. Saat melakukan latihan kekuatan dengan repetisi tinggi menggunakan beban yang rendah hingga sedang tetapi lebih tinggi dari apa yang mereka hadapi dalam aktivitas khusus olahraga mereka. [7]Jenis latihan ini melatih serat otot slow-twitch dan fast-twitch untuk merespons dengan lebih baik dinamika olahraga yang membutuhkan daya tahan. Karena kelelahan tampaknya terjadi secara bertahap, ketika serat otot lambat (Tipe I) dan serat otot cepat (Tipe IIa) menjadi lelah, serat otot cepat dan kuat (Tipe IIx) direkrut untuk melaksanakan tugas dengan baik.  

[9]Serat otot juga dapat diklasifikasikan menjadi tiga Tipe, yaitu:

1. Tipe I, atau slow-twitch oxidative (SO);

Serat otot Tipe I (SO) mempunyai kepadatan mitokondria yang tinggi dan karenanya sangat aerobik dan tahan lelah. Serat-serat ini memiliki kecepatan pengembangan tegangan yang lambat dan diameternya lebih kecil, sehingga tegangan maksimumnya lebih rendah.

2. Tipe IIA, atau fast-twitch oxidative-glycolytic (FOG)

Serat otot Tipe IIA (FOG) mempunyai karakteristik serat Tipe I dan Tipe IIB. Serat otot Tipe IIA memiliki kapasitas aerobik dan anaerobik yang relatif tinggi, sehingga mereka mengembangkan ketegangan dengan cepat dan dapat mempertahankannya untuk jangka waktu yang lama

3. Tipe IIB, atau fast-twitch glycolytic (FG).

Serat otot Tipe IIB (FG) kaya glikogen dan miskin oksigen. Serat-serat ini memiliki kapasitas anaerobik yang tinggi dan kapasitas aerobik yang rendah, sehingga mereka cepat lelah, tetapi laju perkembangan tegangannya cepat. Serat Tipe IIB berdiameter lebih besar dari serat Tipe I, sehingga dapat menghasilkan tegangan yang lebih besar, tetapi tidak untuk jangka waktu yang lama.

Proses dan struktur tipe serat otot dapat meningkatkan gaya atau kekeuatan (force), power, dan daya tahan seseorang. Perubahan yang terjadi akibat aktivitas enzim otot rangka, proses substrat, proses reseptor, kepadatan kapiler dan mitokondria, dan kandungan protein semua itu dapat meningkatkan kondisi fisik atau meningkatkan prestasi atlit olahraga. [10]karakteristik jenis serat otot seorang atlet memainkan peran penting dalam kemampuan atlet untuk menunjukkan kekuatan otot yang maksimal dan kapasitas pembangkit tenaga. [11]Serat otot antara pria dan wanita tidak ada perbedaan dalam hal distribusi jenis serat dan karakteristik susunan jaringannya, hanya saja pada pria cenderung memiliki luas penampang serat otot yang lebih besar daripada wanita.  Bertambahnya usia baik pria maupun wanita akan mempengaruhi kinerja serat otot.  [12]Jumlah serat otot akibat efek penuaan yang paling berbahaya adalah hilangnya massa otot rangka (sarkopenia). Proses ini dihasilkan dari pengurangan jumlah serat otot dan atrofi serat yang tersisa. 

Gambar 3. Jumlah serat otot berdasarkan otot di tubuh. (Sumber: Di adopsi dari Gavin L. Moir. Strength and Conditioning : A Biomechanical Approach. Tahun 2016)

Komposisi jenis serat otot ditentukan secara genetik dan merupakan salah satu atribut yang dapat mengarahkan atlet untuk berpartisipasi dalam olahraga tertentu. Adapun kontribusi dari Serat otot Tipe I dan Tipe II pada beberapa cabang olahraga, sebagai berikut: 

Gambar 4. Serat otot Tipe I dan Tipe II pada cabang olahraga. (Sumber:  Di adopsi dari Martin. Sports Performance Measurement and Analytics. Tahun 2016)

[13]Proporsi dan diameter serat otot Tipe II dan koordinasi neuromuskular, sangat penting untuk gerakan manusia tipe eksplosif, seperti lari cepat dan lompat. Otot-otot orang rata-rata mengandung sekitar 50% hingga 55% serat Tipe I, 30% hingga 35% serat Tipe IIA, dan 15% serat Tipe IIB, tetapi ada banyak variasi. Atlet yang terlibat dalam aktivitas daya tahan memiliki persentase serat Tipe I yang lebih tinggi dari biasanya, sedangkan pada aktivitas yang membutuhkan power atau daya ledak, misalnya: angkat besi, lari cepat, melompat, melempar, dan sebagainya) memiliki persentase Tipe II yang lebih tinggi dari normalnya. [14]Serat Tipe II sangat mudah lelah dan lebih rentan terhadap kerusakan otot.

[15]Beberapa orang secara genetik dilahirkan dengan jumlah serat otot yang lebih banyak daripada yang lain, oleh karena itu potensi genetik mereka untuk hipertrofi lebih besar. Jadi tidak semua orang memiliki rasio serat otot Tipe I dan Tipe II yang sama. Orang yang memiliki proporsi serat Tipe II yang lebih besar memiliki potensi genetik yang lebih besar pula untuk menjadi lebih kuat, tingkat keberhasilan dalam cabang olahraga yang menggunakan kekuatan tertentu seperti misalnya pada latihan beban. Sebaliknya juga demikian, orang yang memiliki persentase serat Tipe I yang lebih tinggi memiliki potensi genetik yang lebih besar untuk berhasil dalam cang olahraga yang membutuhkan tingkat kekuatan yang lebih rendah dan tingkat daya tahan otot yang lebih besar, misalnya pada olahraga renang jarak jauh dan lari maraton.  

SUMBER PUSTAKA

  1. D. Hansen and S. Kennelly, Plyometric anatomy. United States of America: Human Kinetics, 2017.
  2. J. Ylinen, Stretching therapy for sport and manual therapy, no. July. 2008.
  3. Ni. Ratamess, ACSM’s Foundation of Strength Training and Conditioning. Philadelphia, Baltimore, New York, London, Buenos Aires, Hongkong, Sidney, Tokyo: Lippincott Williams & Wilkins, 2012.
  4. Gavin L. Moir, Strength and Conditioning : A Biomechanical Approach. Burlington: Jones & Bartlett Learning, 2016.
  5. L. E. Brown, Strength Training, Second. United States, Canada, Europe, Australia, New Zealand: Human Kinetics, 2017.
  6. B. Schoenfeld, Science and Development of Muscle Hypertrophy. 2016.
  7. T. Bompa and C. Buzzichelli, Periodization Training for Sports, Third Edition, 3rd Editio. United States: Human Kinetics, 2015.
  8. [L. Martin, Sports Performance Measurement and Analytics. New Jersey: Pearson Education, Inc, 2016.
  9. P. M. McGinnis, Biomechanics of sport and exercise, Third edit. Human Kinetics, 2013.
  10. T. O. Bompa and G. G. Haff, Periodization: theory and methodology of training, 5th ed. the United States of America: Human Kinetics, 2009.
  11. A. Turner, Routledge Handbook Of Strength And Conditioning: Sport-specific Programming for High Performance. New York, USA: Routledge Taylor & Francis Group, 2018.
  12. C. Baldari, “Modern trends in Strength and Conditioning,” J. Sports Med. Phys. Fitness, vol. 53, pp. 1–66, 2013.
  13. D. S. Pablo, Exercise Science and Sports Medicine. New York, USA: Academic Pages, 2017.
  14. [S. Garcia-vicencio et al., “A Moderate Supplementation of Native Whey Protein Promotes Better Muscle Training and Recovery Adaptations Than Standard Whey Protein – A 12-Week Electrical Stimulation and Plyometrics Training Study,” Front. Physiol., vol. 9, no. 9, pp. 1–12, 2018, doi: 10.3389/fphys.2018.01312.
  15. T. R. Baechle, R. W., and Earle, Weight training : steps to success, 4th ed. United States, Canada, Europe, Australia, New Zealand: Human Kinetics, Inc., 2012.

Monday 3 October 2022

TES DAN PENGUKURAN OLAHRAGA

Tes dan Pengukuran Olahraga

Tinjauan Tes dan Pengukuran Olahraga

Tes dan pengukuran olahraga merupakan salah satu komponen yang sangat penting di dalam latihan olahraga. Langkah pertama seorang pelatih untuk memulai latihan olahraga adalah melakukan tes dan pengukuran [1]. Tes dan pengukuran juga dapat digunakan untuk tujuan pendidikan untuk menginformasikan siswa, orang tua, dan guru penjas mengenai keterampilan tertentu yang mungkin penting untuk olahraga pendidikan. Penggunaan tes dan pengukuran yang tepat oleh pelatih dapat menghasilkan data yang berkualitas untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan [2]. Baru-baru ini, hasil tes dan pengukuran juga telah digunakan untuk membantu dalam pencegahan cedera melalui prehabilitasi atau untuk mengidentifikasi ketidakseimbangan otot. Pelatih didorong untuk melakukan tes dan pengukuran secara menyeluruh atau sebagian secara teratur sebagai sarana untuk memantau kemajuan atletnya [3]. 

Tes dan pengukuran olahraga dapat memberikan informasi berharga tentang tingkat kebugaran fisik atlit, menunjukkan peningkatan progresif atlit dari waktu ke waktu sebagai hasil dari program latihan. kemudian tes dan pengukuran dapat memberikan umpan balik yang bermanfaat kepada pelatih dan atlit dalam pengembangan olahraga jangka panjang [4]. Tes dan pengukuran harus dilakukan secara berkala atau sistematis. Sesi tes dan pengukuran olahraga juga bertujuan mengevaluasi pengaruh fisiologis atlet terhadap performa latihan dan sebagai alat untuk menyeleksi atlit serta mengukur kesiapan atlet menghadapi kompetisi-kompetisi olahraga [5]. Tes dan pengukuran paling sederhana yang digunakan untuk mengetahui perkembangan dalam latihan adalah tes dan pengukuran kondisi fisik. 


Prinsip tes dan pengukuran olahraga

Untuk mencapai efektivitas atau bukti kuat dari hasil tes dan pengukuran olahraga, maka adapun prinsip – prinsip tes dan pengukuran olahraga sebagai berikut:

1. Kekhususan (Specificity)
Tahapan dalam tes dan pengukuran olahraga mengandalkan prinsip utama, yaitu kekhususan pada olahraga atau aktivitas yang diminati. 
2. Keabsahan (Validity)
Secara umum, validitas mengacu pada kemampuan penilaian untuk mengukur apa yang hendak diukur, tetapi dapat diperluas untuk mencakup gagasan validitas ekologis di mana hasil tes dan pengukuran olahraga dibuat. 
3. Keandalan (Reliability)
Konsep reliabilitas yang mengacu pada konsistensi memperoleh nilai tertentu, sehubungan dengan peralatan/instrumen yang digunakan untuk melakukan tes dan pengukuran.
4. Waktu (Time)
Waktu adalah komponen penting dalam tes dan pengukuran. Waktu tes dan pengukuran harus diperhatikan atau disesuaikan kepada masing-masing cabang olahraga atau aktivitas.
5. Jumlah Atlet 
Jumlah atlet yang akan melaksanakan tes dan pengukuran disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Pelatih harus mengatur dan mengelola waktu seperti; berapa lama tes dan pengukuran dilaksanakan dan berapa lama atlit dapat menyelesaikan tes dan pengukuran tersebut.
6. Berurutan (Sequencing)
Dalam melaksanakan tes dan pengukuran pada atlit, tugas seorang pelatih harus mampu menyusun tes secara berurutan atau sistematis dan penuh perhitungan. Hal ini dimaksudkan agar atlit dalam melaksanakan tes dan pengukuran tidak mengalami penurunan tingkat kebugarannya ataupun timbul rasa jenuh yang dapat mempengaruhi penilaian dalam tes dan pengukuran 

Komponen- komponen tes dan pengukuran

Secara umum komponen-komponen tes dan pengukuran terdiri atas [6]:

  1. Nama Tes dan Pengukuran
  2. Tujuan tes dan pengukuran
  3. Alat dan Perlengkapan tes dan pengukuran
  4. Prosedur/Tata cara pelaksanaan tes dan pengukuran
  5. Penilaian tes dan pengukuran 
  6. Data Normatif atau Nilai standar tes
  7. Kelompok sasaran (umur,jenis kelamin, dll.) tes dan pengukuran
  8. Realibilitas tes dan pengukuran
  9. Validitas tes dan Pengukran

Perencanaan tes dan pengukuran olahraga

Tes dan pengukuran olahraga idealnya, dilakukan pada awal siklus latihan pra-musim karena hasil tes dan pengukuran yang dilakukan pada titik waktu ini akan memberikan informasi data dasar tentang kelebihan dan kelemahan atlit yang akan digunakan untuk membuat atau menyusun program latihan [7]. 

Berikut pedoman sebelum melaksanakan tes dan pengukuran olahraga [8]:

  1. Kenakan pakaian dan sepatu olahraga untuk tes dan pengukuran.
  2. Jangan makan selama 2 jam sebelum pengujian (termasuk minum kopi atau teh)
  3. Jangan mengkonsumsi alkohol selama 24 jam sebelum tes dan pengukuran.
  4. Jangan merokok selama 2 jam sebelum tes dan pengukuran.
  5. Jangan berolahraga pada hari pelaksanaan tes dan pengukuran.

Penting untuk diingat bahwa ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil tes dan pengukuran olahraga , antara lain:

  • Suhu lingkungan, tingkat kebisingan dan kelembaban
  • Kualitas tidur yang dimiliki atlet sebelum tes dan pengukuran 
  • Keadaan emosional atlet 
  • Obat yang  dikonsumsi atlet
  • Jam dan hari
  • Waktu sejak makan terakhir atlet
  • Kondisi permukaan lapangan (lintasan lari, rumput, jalan, gym)
  • Pengetahuan/pengalaman tes sebelumnya dari atlet
  • Akurasi pengukuran (waktu, jarak, dll)
  • Atlet yang benar-benar menerapkan upaya maksimal dalam tes dan pengukuran
  • Kurang pemanasan 
  • Jumlah atlit yang hadir
  • Kepribadian, pengetahuan, dan keterampilan pelaksana tes dan pengukuran

Alat dan Perlengkapan tes dan pengukuran olahraga

Alat dan perlengkapan yang digunakan untuk tes dan pengukuran olahraga merupakan komponen utama keberhasilan pelaksanaan tes dan pengukuran. Anggaran untuk Alat dan perlengkapan tes dan pengukuran olahraga harus benar-benar disiapkan, karena semakin rumit tes dan pengukuran yang dilakukan maka biaya yang dibutuhkan untuk membeli Alat dan perlengkapan tes dan pengukuran juga sangatlah besar. Mungkin beberapa Alat dan perlengkapan tes dan pengukuran seperti: bangku, spidol, barbel, kerucut, stopwatch, timbangan, meteran dll. masih dapat terjangkau. Akan tetapi jika kita memakai alat perlengkapan tes dan pengukuran yang menggunakan teknologi (kamera digital, komputer, sensor/ infra red, dll.) yang inovatif dan canggih, sudah pasti biayanya sangat mahal.  

Berikut jenis Alat dan perlengkapan tes dan pengukuran untuk mengukur komponen fisik dasar (basic physical fitness), yaitu:

  1. Alat dan perlengkapan antropometri : Seperti stadiometer dan skinfold calipers.
  2. Alat dan perlengkapan resistensi : Termasuk barbel dan dumbel atau beban menggunakan mesin, medicine ball, sandbags, sleds dan weight vests
  3. Alat dan perlengkapan berbasis gravitasi dan implementasi lainnya: Alat seperti plyometric boxes, step benches, stairs, ataukah overhead mounted ropes mengharuskan atlet untuk memindahkan berat badan mereka untuk melakukan tugas yang dapat diukur dan dievaluasi. Freestanding atau pull-up bars atau dip stations, handgrip dynamometers. Selain itu, alat yang digunakan untuk menguji keseimbangan, misalnya: balok keseimbangan dan bantalan stabilitas busa ataukah untuk membantu mencapai posisi tubuh tertentu. Bantalan atau bangku khusus mungkin juga diperlukan untuk melakukan tes dan pengukuran keseimbangan.
  4. Alat dan perlengkapan mengukur jarak atau panjang : Untuk pengukuran panjang yang lebih pendek, menggunakan meteran mungkin cukup, sementara jarak yang lebih jauh mungkin memerlukan pita pengukur yang lebih panjang. Permukaan standar seperti lintasan lari, lapangan rumput, atau lapangan basket. Pengukuran jenis skala besar seperti: measuring wheel, field string dan field paint. pengujian fleksibilitas dapat dilakukan dengan menggunakan sit and reach test dengan sistem pengukuran built-in dan pengujian lompat vertikal (vertical jump)
  5. Alat dan perlengkapan mengukur waktu : Peralatan untuk mencatat waktu adalah stopwatch, timing gates menampilkan infrared photocells tersedia untuk penilaian kecepatan dan kelincahan. 
  6. Alat dan perlengkapan menghitung denyut jantung dan monitor GPS : Menghitung secara manual jumlah detak jantung selama jumlah waktu yang ditentukan menggunakan arloji atau jam, banyak jam tangan sekarang juga menampilkan kemampuan sistem penentuan posisi global disebut GPS yang memungkinkan penentuan kecepatan dan akselerasi selain waktu dan jarak.
  7. Treadmills dan rowing ergometers : Tes dan pengukuran dilakukan menggunakan treadmill dan ergometer. Dalam kasus di mana cuaca buruk atau kesulitan dalam menentukan kondisi terkontrol atau kondisi geografi, menggunakan treadmill mungkin adalah pilihan yang ideal. 
  8. Instrumen dan kuesioner : Beberapa tes dan pengukuran dapat disampaikan sebagai instrumen kertas atau elektronik atau kuesioner. 
  9. Pakaian olahraga atau seragam khsusus olahraga : Pakaian dan seragam yang digunakan saat melakukan tes dan pengukuran sangat mempengaruhi hasil tes dan pengukuran. Misalnya: alas kaki menggunakan sepatu dan yang memakai sendal jepit pasti hasil teskurnya akan berpengaruh. Jadi dalam pelaksanaan tes dan pengukuran khusus olahraga harus menggunakan seragam standar yang biasanya digunakan saat latihan.
  10. Formula matematika dan nomogram : Data hasil tes dan pengukuran dapat digunakan untuk memperkirakan tes dan pengukuran lainnya yang mungkin sulit diukur. Formula matematika dan nomogram ini tidak membutuhkan peralatan yang mahal. Data-data hasil tes dan pengukuran ini berasal dari hasil penelitian yang telah dianalisis statistik. 


Jenis tes dan pengukuran olahraga

Tes dan pengukuran berbasis lapangan (Field-based tests) merupakan jenis tes dan pengukuran yang umumnya digunakan pada olahraga baik secara tim ataupun individu. Karena tes dan pengukuran dilakukan di lapangan, maka biaya yang dikeluarkan saat melakukan tes dan pengukuran tidak terlalu besar, tidak seperti jika melakukan tes dan pengukuran menggunakan laboratorium. Jumlah orang yang dapat kita tes dan ukur bisa lebih banyak jika menggunakan lapangan dan juga waktu yang dibutuhkan relatif jadi lebih singkat saat melaksanakan tes dan pengukuran. Desain protokol tes dan pengukuran berbasis lapangan sering dimodifikasi agar lebih spesifik atau dangan kata lain bentuk tes dan pengukurannya dibuat semirip mungkin dengan ciri khas dari cabang olahraganya [9]. 

Jenis tes dan pengukuran olahraga dapat juga dibagi atas dua jenis [10], yaitu:

  1. Tes dan pengukuran yang berhubungan dengan kesehatan meliputi tes dan pengukuran untuk komposisi tubuh, kekuatan dan daya tahan otot, daya tahan kardiovaskular, dan kelentukan (body composition, muscle strength and endurance, cardiovascular endurance, and flexibility).
  2. Tes dan pengukuran yang berhubungan dengan keterampilan mencakup tes dan pengukuran untuk kekuatan, kecepatan, kelincahan, dan keseimbangan/koordinasi (power, speed, agility, and balance/coordination). 

Adapun jenis tes dan pengukuran olahraga yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah tes dan pengukuran komponen fisik dasar (basic physical fitness), antara lain:

  1. Antropometrik dan komposisi tubuh (anthropometrics and body composition)
  2. Kelentukan dan keseimbangan (flexibility and balance)
  3. Kecepatan dan kelincahan (speed and agility)
  4. Daya ledak dan eksplosif (power dan explosiveness)
  5. Kekuatan otot dan daya tahan otot (muscular strength and endurance)
  6. Daya tahan jantung (cardiovascular fitness)
  7. Pemantauan Latihan (Monitoring Training)

1. Antropometrik dan komposisi tubuh (anthropometrics and body composition)

Antropometrik adalah istilah yang terkait dengan bidang antropologi dan berkaitan dengan pengukuran perbandingan tubuh manusia. Biasanya di bidang personal training, pengukuran antropometrik mengukur lebar, panjang, ketebalan, dan keliling komposisi tubuh (mis., Lingkar lengan atas, dll.). Antropometrik memiliki pengaruh besar pada kapasitas dan atribut fisik apa yang dapat dilatih dalam konteks spesifik olahraga [11]. 

Komposisi tubuh mengacu pada jumlah jaringan lemak dan bebas lemak di dalam tubuh [12]. Massa bebas lemak/massa tubuh tanpa lemak adalah komponen yang terdiri dari tulang, otot, air, dan jaringan nonfat lainnya. 

Komposisi tubuh dapat diukur dengan tes dan pengukuran di laboratorium dan di luar laboratorium.  Mengukur tubuh dengan menyeluruh atau bervariasi. Untuk biaya dan tingkat akurasi alat tes pengukuran komposisi tubuh bervariasi. 

Adapun tes dan pengukuran untuk komposisi tubuh, sebagai berikut:

  1. Tinggi dan berat badan
  2. Body mass index  (BMI)
  3. Rasio pinggang-pinggul (ukuran lingkar pinggang dan pinggul)
  4. Lipatan kulit (skinfolds)
  5. Bioelectrical impedance analysis (BIA)


Secara umum atau biasanya pengukuran dasar antropometrik, massa, komposisi tubuh, dan rentang gerak atau disebut juga range of motion (ROM) akan dilakukan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan melakukan tes dan pengukuran komponen fisik dasar yang lainnya.

2. Kelentukan dan keseimbangan (flexibility and balance)

Kelentukan adalah kemampuan untuk menggerakkan sendi melalui berbagai gerakan [13]. Latihan kelentukan harus menargetkan unit otot-tendon utama dari bahagian bahu, dada, leher, batang tubuh, punggung bawah, pinggul, kaki (posterior dan anterior), dan pergelangan kaki [14]. Rentang gerak maksimum menghasilkan gerakan fleksibilitas [15].

Adapun Tes dan pengukuran kelentukan dan keseimbangan, sebagai berikut : 

  1. Sit-and-reach test 
  2. Back-scratch test 
  3. Total body rotation test 
  4. Shoulder elevation test 
  5. Tandem gait test
  6. Functional reach test 
  7. Balance error scoring system (BESS)
  8. Lumbar stability tests 



3. Kecepatan dan kelincahan (speed and agility)

Kecepatan adalah jarak gerakan per satuan waktu dan biasanya diukur sebagai waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak [16]. Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan suatu keterampilan motorik secepat mungkin. Kecepatan adalah bagian integral dari olahraga.

Kelincahan secara tradisional dianggap sebagai kemampuan untuk berhenti, memulai, dan mengubah arah seluruh tubuh dengan cepat. Kelincahan terdiri dari dua komponen utama: kecepatan dalam mengubah arah dan faktor kognitif.

Adapun tes dan pengukuran kecepatan dan kelincahan, sebagai berikut:

  1. T-test
  2. 5-10-5 test (pro agility or 20-yard shuttle run)
  3. 300-yard shuttle run
  4. Three-cone drill 
  5. Y-shaped reactive agility test  
  6. Repeated sprint ability test 
  7. Repeated change-of-direction test
  8. Hexagon agility test 
  9. Straight-line sprint 


4. Power dan daya ledak (power dan explosiveness)

Power adalah hasil dari gabungan kemampuan antara kekuatan dan kecepatan. Power merupakan kemampuan untuk menerapkan kekuatan tertinggi dalam waktu singkat [17]. Power otot (muscular power) adalah kemampuan otot untuk mengerahkan sejumlah kekuatan per satuan waktu, juga disebut sebagai daya ledak (explosiveness). 

Adapun tes dan pengukuran power dan daya ledak, sebagai berikut:

  1. Vertical jump test 
  2. Single-leg triple hop test
  3. Standing long jump test
  4. Medicine ball chest pass test
  5. Stair sprint power (Margaria-Kalamen) test 
  6. Rowing ergometer peak power test
  7. Forward overhead medicine ball throw test
  8. Backward overhead medicine ball throw test 
  9. Rotating medicine ball throw test


5. Kekuatan otot dan daya tahan otot (muscular strength and endurance)

Kekuatan otot didefinisikan sebagai satu kali kekuatan maksimal yang diberikan pada daerah sendi atau kelompok otot [18]. 

Daya tahan otot juga khusus untuk sendi dan kelompok otot. Daya tahan otot menunjukkan kemampuan untuk menerapkan kekuatan berulang kali dari waktu ke waktu.

Adapun tes dan pengukuran kekuatan otot dan daya tahan otot, sebagai berikut: 

  • One-repetition maximum strength test: 

    1. Back squat
    2. Leg press 
    3. Bench press 
    4. Bench pull

  • Multiple-repetition maximum strength test 
  • Maximal handgrip strength test 
  • Static muscular endurance tests: 

    1. Prone bridge or plank 
    2. Half-squat or wall-sit 
    3. Flexed-arm or bent-arm hang 

  • Dynamic muscular endurance tests: 

    1. Partial curl-ups or bent-knee sit-ups
    2. Push-ups 
    3. Squats
    4. Pull-ups 

  • YMCA bench press test


6. Daya tahan jantung (cardiovascular fitness)

Daya tahan jantung adalah fungsi dari kapasitas aerobik tubuh atau kemampuannya untuk mengambil dan menggunakan oksigen melalui paru-paru, jantung, dan otot selama latihan. Daya tahan jantung identik dengan olahraga aerobik, dimana sistem energi dipengaruhi oleh penggunaan oksigen saat melakukan aktivitas olahraga.

Adapun tes dan pengukuran daya tahan jantung, sebagai berikut:

  1. Yo-Yo intermittent recovery test 
  2. Distance-based walk and run tests 
  3. 20-meter multi-stage shuttle run (or PACER or beep test)
  4. Time-based walk or run tests (12-minute test) 
  5. 45-second squat test (or Ruffier-Dickson test) 
  6. Submaximal step test (or Queens College or YMCA step test) 
  7. Submaximal rowing ergometer test 


7.  Monitoring Training

Seorang pelatih dapat mengetahui apakah atlet mengalami kemajuan atau tidak  melalui hasil tes dan pengukuran monitoring training secara berkala. Monitoring training secara ketat membantu pelatih mencegah overtraining, kelelahan, dan cedera. Monitoring dilakukan selama kegiatan pelatihan (teori dan praktek), pelaksanaan, sampai dengan tahap pendampingan[19]. 

Adapun tes dan pengukuran monitoring training, sebagai berikut:

  1. Heart rate measurement 
  2. Body weight maintenance and hydration status
  3. Fluid loss evaluation 
  4. External training load 
  5. Internal training load 
  6. Perceptual well-being 
  7. Physical readiness


Sumber :

[1] S. Schlosberg, M. A. Liz Neporent, and T. S. Drenth, Fitness For Dummies. 2005.

[2] D. H. Fukuda, Assessments for Sport and Athletic Performance. Human Kinetics, 2019.

[3] H. Ramsbottom, “Strength and Conditioning for Gymnastics,” Gymnast. BC, 2018.

[4] A. Dean et al., Advanced fitness assessment & exercise prescription, vol. 35, no. 11. 1998.

[5] T. O. Bompa and G. G. Haff, Periodization: theory and methodology of training, 5th ed. the United States of America: Human Kinetics, 2009.

[6] B. Mackenzie, 101 Performance Evaluation Test. London: Electric Word plc, 2005.

[7] A. Turner and P. Comfort, Advanced Strength and conditioning: An Evidence-based Approach. New York: Routledge, 2018.

[8] A. L. Golding, R. C. Myers, and E. W. Sinning, Y’s Way to Fitness Testing. 1989.

[9] P. Gamble, Strength and conditioning for team sports : sport-specific physical preparation for high performance. 2010.

[10] Ni. Ratamess, ACSM’s Foundation of Strength Training and Conditioning. Philadelphia, Baltimore, New York, London, Buenos Aires, Hongkong, Sidney, Tokyo: Lippincott Williams & Wilkins, 2012.

[11] A. Turner, Routledge Handbook Of Strength And Conditioning: Sport-specific Programming for High Performance. New York, USA: Routledge Taylor & Francis Group, 2018.

[12] J. A. Potteiger, ACSM’s introduction to exercise science: Second edition. 2013.

[13]L. Martin, Sports Performance Measurement and Analytics. New Jersey: Pearson Education, Inc, 2016.

[14] S. Blair et al., Guidelines for Exercise Testing and Prescription, Fourth Edition, vol. 23, no. 10. 1991.

[15] T. O. Bompa and M. C. Carrera, Periodization Training For Sports. 2005.

[16] G. G. Haff and T. N. Travis, Essentials of Strength Training and Conditioning, IV. USA: Human Kinetics, 2016.

[17] T. Bompa and C. Buzzichelli, Periodization Training for Sports, Third Edition, 3rd Editio. United States: Human Kinetics, 2015.

[18] W. R. Thompson, ACSM’S: Rersources for the Personal Trainer, 3rd ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2010.

[19] Sujarwo, I. Samsi, and L. Wibawa, “The Implementation Of Study Tour Learning Model To Nurture Environmental Care Behavior,” Yogyakarta State Univ., vol. 01, pp. 1–7, 2017, [Online]. Available: http://www.albayan.ae.

Sumber Gambar:

shorturl.at/ERSW7 shorturl.at/aHPVX shorturl.at/cdNU5 shorturl.at/aef24 shorturl.at/bfJMQ  

shorturl.at/pqtW2 shorturl.at/afgv6 shorturl.at/vWZ89 shorturl.at/fpT48 shorturl.at/aEW06  

shorturl.at/fqW15 shorturl.at/AMNR0 shorturl.at/dgpv7 shorturl.at/bLQTZ shorturl.at/EPTZ6  

shorturl.at/cjmrU shorturl.at/jEHUY shorturl.at/knuOR shorturl.at/ghs24 shorturl.at/ghov5  

shorturl.at/bGQ27 shorturl.at/enX58 shorturl.at/bLO12 shorturl.at/JKNZ6 shorturl.at/dgkP2  

shorturl.at/vXZ26  shorturl.at/eJKYZ shorturl.at/jXZ37 shorturl.at/AFJQ7 shorturl.at/abQ06

Wednesday 21 September 2022

Bisnis Olahraga

Bisnis adalah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam industri [1]. Olahraga merupakan kegiatan yang dilakukan manusia dalam sehari-hari untuk meningkatkan kebugaran saat ini mulai dilirik untuk dijadikan salah satu sektor dalam pengembangan industri ekonomi [2]. Brown dan Petrello menyatakan bahwa Bisnis Olahraga adalah usaha yang meliputi bidang keolahragaan baik itu menciptakan atau memproduksi suatu produk yang berkaitan dengan olahraga ataupun kegiatan jasa olahraga dan kemudian memasarkan kepada masyarakat atau konsumen [3].  

Industri olahraga sebagai suatu aktivitas bisnis yang dilakukan melalui proses atau pengolahan barang dan jasa secara berkelanjutan dalam batasan kegiatan keolahragaan seperti pengelolaan sarana dan prasarana olahraga yang memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan untuk industri itu sendiri, masyarakat serta kelompok-kelompok olahraga [2]. Menurut Pitts; Fielding, and Miller industri olahraga adalah “setiap produk, barang, servis/jasa, tempat, orang-orang dengan pemikiran yang ditawarkan pada publik berkaitan dengan olahraga [4]. Sama halnya di bidang industri secara umum, bidang industri olahraga juga dibedakan menjadi dua, yaitu industri barang dan industri jasa. Industri barang merupakan usaha untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi ataupun bahan jadi. Sedangkan industri jasa adalah kegiatan ekonomi dengan memberikan pelayanan jasa [5].  

Di Indonesia industri olahraga memang masih cukup memprihatinkan, tetapi adanya globalisasi membuka kesempatan pasar yang paling luas apalagi dengan pasar bebas [6]. Betul saja saat ini industri olahraga menjadi bisnis yang sangat menjanjikan seperti halnya yang diungkapkan oleh Mega & Ferdian (2021) Industri olahraga juga merupakan suatu bentuk usaha yang cukup prospektif karena perkembangan olahraga yang semakin pesat di indonesia, sehingga hal ini di jadikan peluang bisnis yang besar yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku-pelaku usaha untuk dijadikan peluang bisnis yang sangat besar. Dengan memfasilitasi pengembangan industri olahraga termasuk meningkatkan kemitraan dan kerja sama merupakan salah satu upaya untuk mendukung peningkatan prestasi olahraga [8].

Menurut Harsuki kondisi industri yang memiliki peluang untuk dikembangkan di Indonesia adalah meliputi [9]: 

  1. Industri barang olahraga (sporting goods industry); 
  2. Olahraga amatir (yang dibawah KOI /KONI dan Induk organisasi cabang olahraga); 
  3. Olahraga profesional (Tinju, Golf, Balap mobil & motor); 
  4. Kompleks olahraga ( Gelora Bung Karno, Gelanggang rekreasi Jaya Ancol); 
  5. Sponsor berbadan hukum ; yang telah banyak mendanai kegiatan olahraga; 
  6. Media berita olahraga baik cetak maupun penyiaran.

Dengan potensi yang dimiliki bumi nusantara ini, maka sangat terbuka lebar peluang bisnis olahraga. Bisnis industri olahraga telah memiliki dasar hukum yang sah dan sangat kuat, sehingga bisnis olahraga dapat ditumbuhkembangkan di Indonesia [10]. Adapun dasar hukum industri olahraga sebagai berikut:

  • UU No. 3 Tahun 2005 tentang SKN dan PP. NO. 16, 17, 18 TAHUN 2007. Pada Bab I ayat (18) ketentuan umum UU No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional berbunyi: “industri olahraga adalah kegiatan bisnis di bidang olahraga dalam bentuk produk barang dan/atau jasa”. 
  • Pasal 80 ayat 1 UU Sistem Keolahragaan Nasional Republik Indonesia Tahun 2005 dijelaskan bahwa pengembangan industri olahraga dilaksanakan melalui kemitraan yang saling menguntungkan agar terwujud kegiatan olahraga yang mandiri dan professional.
  • Bab XVI pasal 78 berbunyi: setiap pelaksanaan industri olahraga yang dilakukan Oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat dengan wajib memperhatikan tujuan keolahragaan nasional serta prinsip-prinsip penyelenggaraan keolahragaan. 
  • Pada pasal 79 ayat (1) industri olahraga dapat berbentuk prasarana dan sarana yang memproduksi, diperjual belikan dan/atau yang disewakan untuk masyarakat [9].

Olahraga dalam sistem ekonomi memunyai makna ganda, yaitu sebagai sebuah komoditas, dapat pula sebagai media pemasaran, atau bahkan sebagai pasar itu sendiri. Pada saat ini, olahraga sudah menjadi sebuah komoditas yakni layaknya sebagai barang yang laku unmk diperjualbelikan. Pangsa pasarnya pun relatif tinggi, baik itu berupa sebuah komoditas entertainment (dalam bisnis pertunjukkan) maupun sebagai komoditas yang dijual untuk dilakukan sebagai sebuah aktivitas rekreatif, terapi, prestasi, atau untuk menjaga kebugaran (fitness) [11]. Tumbuh kembangnva industri olahraga akan mampu membantu menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat dan usaha membantunya mengatasi persoalan pengangguran di tanah air dalam situasi seperti sekarang ini, olahraga sebaiknya mampu menjadi usaha mandiri secara keuangan dengan tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah. Dengan kata lain, olahraga harus berdaya secara ekonomi. 


Sumber: shorturl.at/ANX15

Bagi pebisnis pemula dalam mengembangkan bisnis olahraga perlu melakukan studi kelayakan meliputi: (a) aspek pemasaran, (b) teknis dan produksi, (c) keuangan dan (d) aspek manajemen. Dari beberapa aspek tersebut bisnis yang dilakukan akan memberikan financial benefit maupun social benefit. [6]

Peluang industri olahraga yang dapat dikembangkan pada industri barang contohnya seperti [2]  : 

  1. Cabang olahraga yang melibatkan adu tubuh (badan) meliputi: body protector, glove, genetal protector, head protector, gumshield, pakaian beladiri, deker, leg protector, dan lain-lain.
  2. Cabang olahraga permainan meliputi: bola untuk olahraga permainan menggunakan bola, glove, sepatu olahraga, shuttlecock untuk permainan Badminton, raket, bad, training suit, net, jaring, masker, stick, topi, dan lain- lain.
  3. Cabang olahraga atletik dapat memasuk kebutuhan meliputi: sepatu spice, tas, kaos kaki, pakaian, stop watch, deker, dan lain-lain.
  4. Cabang senam meliputi: pakaian khusus senam, assesoris senam, dan lain-lain. 


Sumber: shorturl.at/BGS37

Tantangan mengamankan posisi di industri olahraga dapat menjadi hal yang menakutkan dalam manajemen olahraga. Meskipun persaingan untuk pekerjaan di bidang olahraga sangat ketat, ada banyak peluang yang tersedia bagi siswa terampil yang mau bekerja keras, gigih, dan mempertimbangkan spektrum penuh segmen yang membentuk industri olahraga. Bagi pelajar dan bukan pelajar yang ingin mendapatkan pekerjaan di bidang olahraga, penting untuk memahami bagaimana fungsi sumber daya manusia bekerja dalam olahraga [12].

Jika kita mengamati profil usaha industri olahraga di Indonesia, mereka dalam operasionalnya menghadapi masalah pokok [4]: 

  1. Masalah permodalan. Untuk masalah modal para pengusaha dalam menjalankan usahanya belum mengenal dan memanfaatkan lembaga perbankan. Selain itu para pengusaha industri olahraga (kecil) sulit untuk memperoleh kredit dari bank swasta.
  2. Lemah dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. Umumnya usaha industri olahraga memperoleh pasar dengan cara-cara pasif. Mereka mengandalkan kekuatan promosi personel selling yaitu komunikasi antar personal.
  3. Keterbatasan pemanfaatan dan penguasaan teknologi. Hal ini disebabkan karena lemahnya sumber daya manusia dalam menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi.
  4. Masalah strategi pemasaran produk merupakan salah satu kendala besar bagi industri olahraga yang kecil untuk masuk pasar bebas. Seringkali pemasaran produk industri olahraga kecil harus melalui mata rantai.
  5. Lemah dalam jaringan usaha dan kerja sama usaha. 
  6. Kelemahan dalam mentalitas usaha dan kewirausahaan. Umumnya industri olahraga yang masih kecil sedikit sekali yang memiliki kreatifitas dan inovasi, kemandirian dan semangat untuk maju.

Pengembangan industri olahraga perlu mendapat perhatian yang serius agar mampu menciptakan suatu masyarakat yang maju dan lebih bersifat transformatif yaitu masyarakat maju baik secara struktual maupun kultrual. 

DAFTAR PUSTAKA

[1] H. A. Putra and Supriyono, “Survey Bisnis Wahana Olahraga Rekreasi Muncul River Tubing Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Tahun 2019,” Indones. J. Phys. Educ. Sport, vol. 1, no. 2, pp. 447–452, 2020, [Online]. Available: https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/inapes/article/view/40583.

[2] Sugito and M. A. H. Allsabah, “Peluang pengembangan industri keolahragaan dalam meningkatkan potensi olahraga dan perekonomian di Indonesia,” Pros. SNIKU (Seminar Nas. Ilmu Keolahragaan UNIPMA, vol. 1, no. 1, pp. 60–69, 2018, [Online]. Available: http://prosiding.unipma.ac.id/index.php/snik/index.

[3] N. A. Wahyudi, “Peran perkembangan industri olahraga dan rekreasi dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan bagi generasi muda,” Pros. SNIKU (Seminar Nas. Ilmu Keolahragaan UNIPMA), vol. 1, no. 1, pp. 34–42, 2018, [Online]. Available: http://prosiding.unipma.ac.id/index.php/snik/article/view/468.

[4] M. Kurnia and Agung Mahendra, “PELUANG INDUSTRI OLAHRAGA DI INDONESIA,” pp. 116–132, 2018.

[5] D. A. Setyawan, “Upaya meningkatkan industri olahraga,” no. 1981, pp. 191–198, 2017.

[6] Farida. M, “Pemberdayaan Industri Olahraga dalam Menghadapi Pasar Bebas,” Semin. Nas. KeIndonesiaan II Tahun 2017, pp. 1–23, 2017.

[7] S. A. Mega and M. I. Ferdian, “Analisis Strategi Bisnis Dalam Meningkatkan Penjualan Sepatu Futsal Pada Toko Olahraga Soccer Corner Di Bandar Lampung,” no. 26, 2021.

[8] S. Nugroho, INDUSTRI OLAHRAGA. Yogyakarta: UNY Press, 2019.

[9] E. Faridah, “Seminar Nasional Seminar Nasional Pendidikan Olahraga,” Prosiding, Semin. Nas. Pendidik. Olahraga, Univ. Negeri Medan, no. September, pp. 442–447, 2018.

[10] C. F. Sriwahyuniati, E. R. S, A. N. AM., and F. Kurniawan, “MEMBUKA PELUANG BISNIS OLAHRAGA KEBUGARAN (FITNESS DAN SENAM) DALAM MENGEMBANGKAN PROGRAM INDUSTRI OLAHRAGA MELALUI PROGRAM KULIAH KEWIRAUSAHAAN,” Inotek, vol. 14, 2010.

[11] Y. Sukarmin, “Pemasaran Olahraga Melalui Berbagai Event Olahraga,” Medikora, no. 2, pp. 55–63, 2015, doi: 10.21831/medikora.v0i2.4692.

[12] D. Covell, S. Walker, P. Hess, and J. Siciliano, Managing Sports Organizations. 2012.

Monday 1 August 2022

DBON (DESAIN BESAR OLAHRAGA NASIONAL)

DESAIN BESAR OLAHRAGA NASIONAL (DBON)


🏆Pengertian Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) adalah ?

Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 86 Tahun 2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional (pasal1 pada ayat1), Pengertian Desain Besar Olahraga Nasional yang selanjutnya disingkat DBON adalah dokumen rencana induk yang berisikan arah kebijakan pembinaan dan pengembangan keolahragaan nasional yang dilakukan secara efektif, efisien, unggul, terukur, sistematis, akuntabel, dan berkelanjutan dalam lingkup olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, olahraga prestasi, dan industri olahraga

 



🏆Apakah tujuan DBON ?

Adapun tujuan dari DBON, yaitu;

  1. Meningkatkan budaya Olahraga di Masyarakat
  2. Meningkatkan kapasitas, sinergitas, dan produktivitas Olahraga Prestasi Nasional
  3. Memajukan perekonomian Nasional berbasis Olahraga


🏆Sebutkan fungsi DBON ?

Fungsi DBON adalah;

Memberikan pedoman bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah kabupaten/kota, Organisasi Olahraga, Induk Organisasi Cabang Olahraga, Dunia usaha dan industri, akademisi, media, dan Masyarakat dalam penyelenggaraan Keolahragaan Nasional sehingga pembangunan Keolahragaan Nasional dapat berjalan secara efektif, efisien, unggul, terukur, akuntabel, sistematis, dan berkelanjutan


🏆Sebutkan ruang lingkup DBON ?

Ruang lingkup DBON, yaitu; 

  1. Olahraga Rekreasi
  2. Olahraga Pendidikan
  3. Olahraga Prestasi
  4. Industri Olahraga (Wisata Olahraga)


🏆Sebutkan visi dan misi DBON Tahun 2O2l-2O45 ?

Adapun Visi DBON sebagai berikut: "Mewujudkan Indonesia Bugar, Berkarakter Unggul, dan Berprestasi Dunia”

Sedangkan, Misi DBON sebagai berikut: 

  • Mewujudkan masyarakat Indonesia yang berpartisipasi aktif berolahraga dengan tingkat kebugaran jasmani baik; 
  • Mewujudkan peserta didik pada satuan pendidikan yang berpartisipasi aktif berolahraga sehingga berkarakter unggul, memiliki kecakapan gerak, dan tingkat kebugaran jasmani baik; 
  • Mencetak atlet-atlet berprestasi dunia dengan pembinaan atlet jangka panjang yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi Keolahragaan sebagai faktor pendukung utama; 
  • Mengembangkan Industri olahraga yang mendukung pembinaan dan pengembangan Olahraga nasional serta berkontribusi kepada pertumbuhan ekonomi nasional; dan 
  • Mewujudkan tata kelola pembinaan dan pengembangan Olahraga nasional yang modern, sistematis, sinergi, akuntabel, berjenjang, dan berkelanjutan




🏆Sebutkan tahapan DBON ?

Tahapan DBON diselenggarakan secara bertahap dalam 5 (lima) tahap untuk periode Tahun 2021 - 2045 dengan rincian sebagai berikut:

  • Tahap pertama ----> Tahun 2021 - 2024 
  • Tahap kedua ------> Tahun 2025 - 2029
  • Tahap ketiga ------> Tahun 2030 - 2034
  • Tahap keempat ---> Tahun 2035 - 2039 
  • Tahap kelima------> Tahun 2040 – 2045


🏆Sebutkan faktor-faktor keberhasilan pelaksanaan DBON ?

Adapun yang menjadi faktor kunci keberhasilan tercapainya target pelaksanaan DBON antara lain: 

  1. Komitmen nasional; 
  2. Dukungan anggaran dan sistem kesejahteraan, jaminan masa depan, dan kehidupan sosial;
  3. Kualitas dan kuantitas calon atlet berbakat; d. kualitas dan kuantitas tenaga Keolahragaan; 
  4. Sistem festival dan kompetisi Olahraga berjenjang, berkelanjutan, dan berkualitas;
  5. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi Keolahragaan dan ketersediaan sistem informasi Olahraga; dan
  6. Prasarana dan sarana Olahraga sesuai standar internasional dan nasional.


🏆Sebutkan tingkat pelaksanaan DBON ?

Pelaksanaan DBON dilakukan melalui 3 (tiga) tingkat pelaksanaan, yaitu:

  1. PUSAT (Tim Koordinasi Pusat Desain Besar Olahraga Nasional)
  2. PROVINSI (Tim Koordinasi Provinsi Desain Besar Olahraga Nasional)
  3. KABUPATEN / KOTA (Tim Koordinasi Kabupaten / Kota Desain Besar Olahraga Nasional)


TIM KOORDINASI PUSAT DBON 

  • Ketua : Wakil Presiden
  • Wakil Ketua : Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
  • Ketua Pelaksana merangkap Anggota : Menteri Pemuda dan Olahraga
  • Anggota : 

    1. Menteri Dalam Negeri 
    2. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia 
    3. Menteri Agama 
    4. Menteri Keuangan 
    5. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 
    6. Menteri Kesehatan 
    7. Menteri Sosial 
    8. Menteri Perindustrian 
    9. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 
    10. Menteri PPN/Bappenas 
    11. Menteri Badan Usaha Milik Negara 
    12. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

sedangkan,

TIM KOORDINASI PROVINSI / KABUPATEN / KOTA DBON

Dipimpin oleh:

  1. Gubernur 
  2. Bupati  
  3. Walikota


Sumber:

Kemenpora Sosialisasikan DBON di. (2021). https://www.realitarakyat.com/2021/11/kemenpora-sosialisasikan-dbon-di-dki-jakarta/?print=print

MENTERI PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA. (n.d.). DESAIN BESAR (GRAND DESIGN) OLAHRAGA NASIONAL. KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA.

Presiden. (2021a). Desain Besar Olahraga Nasional. Perpres No. 86, 5700. https://www.kemenpora.go.id/tag/desain-besar-olahraga-nasional

Presiden. (2021b). Lampiran Perpres No. 86 tahun 2021. Lampiran Perpres No. 86.

Foto di Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia. Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Indonesia. (Tahun 2022)

Monday 14 February 2022

LONG-TERM ATHLETE DEVELOPMENT (LTAD) SEPAK BOLA INDONESIA

 (MAKALAH)

Long-Term Athlete Development (LTAD) Sepak Bola Indonesia 

Kata kunci: LTAD, sepak bola.

Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir adopsi model Pengembangan Atlet Jangka Panjang atau Long-Term Athlete Development (LTAD) telah menyebar luas dalam olahraga begitu juga di olahraga sepak bola. Menurut Balyi & Way, (2009:6) Long-Term Athlete Development (LTAD) requires the identification of early, average and late maturers in order to help to design appropriate training and competition programs in relation to optimal trainability and readiness. Model Long Term Athlete Development (LTAD) Balyi telah menjadi model yang paling populer dan tak tertandingi karena model ini  digunakan oleh National Sports Organization (NSO). Model pengembangan partisipasi dalam olahraga karya milik Balyi ini merupakan suatu pendekatan alternatif yang sangat baik digunakan karena tidak hanya menghasilkan ulasan tetapi juga alternatif asli untuk model sehingga menjadi  lebih populer ini dibandingkan dengan pendekatan model yang lainnya.

Meskipun demikian terdapat masalah dengan model-model ini diantaranya sebagian besar masih berbentuk teoritis dan belum banyak contoh aplikasi praktis yang kuat dan tepat dalam penggunaannya. Dalam sebuah organisasi yang dikenal dengan National Sports Organization (NSO) seringkali model yang diusulkan tidak sesuai dengan struktur yang ada yang sebagian besar tetap karena sejumlah alasan historis dan politik. Tidak masuk akal untuk menerapkan model seperti LTAD Balyi dengan benar ke organisasi atau NSO yang sebenarnya jadi dasar-dasar model setidaknya harus dipertimbangkan dan model individu untuk Setiap lingkungan yang terpisah perlu dikembangkan. 

Kelvin Giles dan rekan-rekannya telah mengatasi kesenjangan antara aplikasi teoretis dan praktis LTAD dengan mengembangkan alat pelatihan baru seperti komponen Dinamika Gerakan untuk latihan dan gerakan. Misalnya pekerjaan Giles didasarkan pada pengalaman yang luas di bidang pengembangan atlet. Mengandalkan terapi fisik dan penilaian gerak yang populer untuk menyediakan jadwal pelatihan yang dapat dinilai secara subjektif yang memungkinkan pelatih memprogram dan melatih  atlet individu yang disesuaikan sepanjang perjalanan keugaran olahraga mereka. 

Sebagai penanda  untuk level ini gerakan latihan penting dan akan sangat bernilai. Kriteria untuk setiap penilaian difokuskan pada kesempurnaan gerakan dan kontrol utuh total. Seiring berkembangnya disiplin demikian pula kekhususan masing-masing olahraga serta kompleksitas dan tingkat kesulitan gerakannya. Ini biasanya dicapai dengan meningkatkan dan memasukkan lebih banyak kerumitan ke dalam gerakan atau membutuhkan kecepatan yang lebih besar. Latihan disusun dengan jelas dan harus cukup relevan dengan program pengembangan Talent/Atlit dengan persyaratan dan penampilan kompetisi yang lebih tinggi jenjangnya. Peta jalan untuk setiap caang olahraga dirancang melalui proses konsultasi yang panjang dan intens yang melibatkan spesialis pembinaan atlet pelatih olahraga dan spesialis kedokteran olahraga. Hal ini memungkinkan untuk pendekatan holistik untuk pengembangan olahraga setiap pemain.  

Dalam upaya membina prestasi yang baik, maka pembinaan harus dimulai dari pembinaan usia muda dan pembinaan atlet muda berbakat sangat menentukan menuju tercapainya mutu prestasi optimal dalam cabang olahraga sepakbola. Bibit atlet yang unggul perlu pengolahan dan proses kepelatihan secara ilmiah, barulah muncul prestasi atlet semaksimal mungkin pada umur-umur tertentu. Atlet berbakat yang umurnya muda dapat ditemukan di sekolah-sekolah, klub, organisasi pemuda dan kampung-kampung. Dalam pembelajaran sepakbola, mengenal aspek-aspek yang perlu dikembangkan yaitu: 

1) Pembinaan teknik (keterampilan); 

2) Pembinaan fisik (kesegaran jasmani); 

3) Pembinaan taktik; 

4) Kematangan juara. 

Modal utama dalam bermain sepakbola antara lain fisik, teknik, taktik, dan mental. Salah satu hal yang juga harus diperhatikan dalam bermain sepakbola adalah keterampilan dasar bermain sepakbola. Dalam peningkatan kecakapan permainan sepakbola, keterampilan dasar erat sekali hubungannya dengan kemampuan koordinasi gerak fisik, taktik dan mental.

Keterampilan dasar harus dikuasai dan dipelajari lebih awal untuk mengembangkan mutu permainan yang merupakan salah satu faktor yang menentukan menang atau kalahnya suatu kesebelasan dalam suatu pertandingan. Untuk meningkatkan prestasi sepakbola banyak faktor yang harus diperhatikan seperti sarana prasarana, pelatih yang berkualitas, pemain berbakat dan kompetisi yang teratur serta harus didukung oleh ilmu dan teknologi yang memadai. Untuk meningkatkan keterampilan sepakbola akan dilakukan drill mengenai Dribble, Passing, Control, Shooting, dan Heading. Dalam sepakbola terdapat berbagai pemain yang di antaranya ada penyerang (striker) atau pemain depan, gelandang (midfielder) atau pemain tengah, pemain belakang (defender), dan penjaga gawang (goal keeper).

Dalam sepak bola seperti dalam kebanyakan olahraga ada konflik keyakinan tentang cara terbaik untuk mempersiapkan pemain. Pelatih akan cenderung memprioritaskan efisiensi teknis dan definisi  luas dari karakteristik fisik. Pedoman beberapa Federasi Sepak Bola mendukung pengembangan semua  pemain untuk memasukkan keterampilan sepak bola  khusus sepak bola. Ini bisa menjadi kontroversi karena untuk mengembangkan kemampuan teknis seorang pemain adalah bijaksana dan logis bahwa mereka harus terlebih dahulu mampu secara fisik untuk melakukan keterampilan. Program Sepak Bola yang telah ada  sudah berusaha untuk mengintegrasikan semua aspek pedoman nasional serta filosofi permainan pribadi ke dalam jalur atlit dalam pengembangannya. Dukungan  dan kerjasama penuh dari semua penyedia layanan dan instruktur dalam program telah memungkinkan struktur ini dilaksanakan. Berikut ini adalah deskripsi singkat dari jalur yang telah berkembang selama ini; bagaimana perkembangan LTAD sepak bola di Indonesia; tantangan untuk pengembangan lebih lanjut dari proses dan pada akhirnya manfaat dari penerapan struktur seperti itu ke organisasi dan olahraga  lain.

Rumusan Masalah

  • Tinjauan tentang Long-Term Athlete Development (LTAD)
  • Tinjauan tentang LTAD dan Sepak Bola Indonesia

Tujuan

  • Untuk memahami konsep pendekatan LTAD Sepak Bola Indonesia


Pembahasan

LONG-TERM ATHLETE DEVELOPMENT (LTAD)

LTAD adalah hasil pemikiran dari Dr.Istvan Balyi, seorang pakar dalam bidang perencanaan, periodisasi dan peningkatan prestasi melalui program latihan jangka pendek dan jangka panjang. Kira-kira empat tahun yang lalu dalam laporan kepelatihan (Coaches Report), Balyi membahas masalah-masalah pokok yang dihadapi oleh system olahraga di British Columbia dan Kanada dan menawarkan LTAD sebagai jalan penyelesaian. Di dalam negeri penerapannya berjalan lambat, tetapi pada tahun-tahun berikutnya Balyi telah memperbaiki dan mengembangkan modelnya dan selanjutnya bekerjasama dengan pemegang otoritas olahraga di Inggris dan Ireland untuk mengimplementasikan LTAD dalam sistem mereka. Dia juga menjalin suatu hubungan yang produktif dengan manajemen olahraga di Australia dan Selandia Baru, dimana konsep-konsepnya banyak dipakai. Sekarang tibalah saatnya LTAD dipakai untuk melakukan revolusi pengembangan sistem olahraga di Kanada. Beberapa federasi olahraga nasional sudah siap mengimplementasikan LTAD secara luas, dan otoritas olahraga Kanada sudah memberikan sinyal untuk menyediakan dana sebesar $1 juta untuk “suatu system pembinaan atlet yang mengintegrasikan organisasi olahraga mulai tingkat regional, provinsi dan nasional.” Masalah kita sekarang adalah apa yang akan kita lakukan ? Di depan kita hanya ada dua pilihan, mempertahankan status quo sambil menyaksikan prestasi kita terus menurun atau menciptakan kondisi yang baru sama sekali yang memungkinkan kita meraih prestasi cemerlang di masa depan.” Berdasarkan hal di atas, inilah saatnya untuk mempertimbangkan LTAD dan menggunakan potensinya guna mendorong perubahan.

LTAD adalah program pelatihan, kompetisi dan pemulihan (recovery) berdasarkan pada usia biologis atlet (tingkat kematangan individu) dan bukan berdasarkan pada usia kronologis. Dengan fokus utama pada atlet, didukung oleh pelatih yang baik, administrasi, ilmu olahraga dan sponsor maka seorang atlet yang menjalani program latihan dan kompetisi LTAD akan mendapatkan suatu perencanaan periodisasi yang sesuai dengan usia biologisnya dan perkembangan kebutuhannya. “Di Kanada kita seolah peduli dengan pembinaan yang berfokus pada atlet (atlet centered), padahal sebenarnya tidak, karena kita justru mengabaikan masalah pembinaan atlet,” kata Balyi yang pernah bekerja untuk 16 tim nasional dan anggota tim pelatih nasional sejak 1985. “Kita memusatkan perhatian pada atlet-atlet yang berprestasi tinggi, saya setuju bahwa kondisi mereka harus ditingkatkan akan tetapi memberikan uang begitu saja pada mereka bukanlah jalan penyelesaian untuk meningkatkan prestasi mereka.”

Seperti diilustrasikan dalam gambar 1, LTAD meliputi setiap aspek dari pengembangan fisik manusia dan didasarkan pada anggapan bahwa kaum muda harus dipersiapkan dengan baik agar dapat hidup melalui olahraga. LTAD membantu menumbuhkan benih kesadaran atau budaya agar kaum muda terliat dalam olahraga sepanjang hidup mengetahui bahwa olahraga  bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan dan membantu mengidentifikasi jalan yang dapat diambil seorang atlet dalam karir mereka dari pemula hingga  mahir dan diakui secara luas. LTAD memantu menciptakan lingkungan yang memungkinkan peserta mencapai potensi penuh mereka memastikan bahwa setiap orang  mempelajari dasar-dasar selama pembinaan  berkelanjutan. 

Mari kita mulai dengan pernyataan Balyi tentang sistem olahraga saat ini. “Kanada seperti negara-negara lain telah mencoa untuk mengisi kesenjangan dalam sistem olahraga saat ini. Tetapi triknya bukanlah mencoba  merancang sistem baru yang berfungsi untuk Kanada tetapi untuk meniru apa yang dilakukan Uni Soviet pada 1970-an dan 1980-an; Pada tahun 1990 kami meniru Jerman Timur dan kemudian Australia dan sekarang kami juga akan meniru Cina. Dengan demikian Balyi  mempertahankan pendapatnya bahwa model LTAD harus disesuaikan dengan kondisi sosial politik dan ekonomi Kanada dan diintegrasikan ke dalam struktur lokal dan regional, provinsi dan negara. 

 

Gambar 1. Tahapan LTAD dan Kepemimpinan Strategis untuk Olahraga. Sumber: Way et al., (2016:45)

Sistem Olahraga Kanada melibatkan  lebih banyak pemangku kepentingan dalam pengemangan atlet mereka daripada pesaing kita. Richard Way dalam ukunya “Strategic Action Plan for Coaches and Coaches in British Columbia” menemukan bahwa di tingkat provinsi saja 2 pihak  terliat dalam kegiatan pelatihan. Jelas bahwa  ada  keutuhan untuk jalur pengembangan yang jelas yang akan spesifik untuk setiap cabang olahraga. Setelah jalur pelatihan ditentukan semua pemangku kepentingan di setiap tingkat akan dapat menentukan apa yang dapat mereka lakukan untuk mendukung perkembangan atlet berdasarkan tanggung jawab dan peran mereka.

LTAD  dirancang untuk memerikan proses yang mudah dipahami bagi atlet pemula dan mahir. LTAD dibangun di atas pengetahuan tentang pertumbuhan perkembangan dan apa artinya bagi program pelatihan yang dapat memungkinkan atlet untuk mencapai potensi penuh mereka. 

Latihan efektif untuk atlet luar biasa tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. “Penelitian ilmiah menunjukkan ahwa dibutuhkan delapan hingga 10 tahun latihan” kata Balyi. Dalam literatur ilmiah ini dikenal  sebagai aturan 10 tahun atau aturan 10.000 jam atau dalam sehari Anda kehilangan sekitar 3 jam pelatihan dalam waktu kurang dari 10 tahun. Kita juga tahu bahwa dibutuhkan komitmen yang kuat dalam latihan untuk  menghasilkan atlet yang berprestasi. Sayangnya banyak orang tua dan pelatih  masih menganggap bahwa olahraga tidak lebih dari kegiatan akhir pekan. LTAD memerikan imingan kepada pelatih atlet administrator dan orang tua di semua bidang termasuk  perencanaan pelatihan kompetisi dan pemulihan. Ini termasuk kompetisi atau kejuaraan yang terus berubah dan semua aspek yang diperlukan untuk atlet. 

Agar LTAD berhasil itu berarti kita harus berbagi peran kita dengan komunitas olahraga sehingga pelatihan atlet jangka panjang menjadi pusat pemikiran kita. LTAD juga harus mampu mengidentifikasi dan membuka peluang sehingga potensi ini dapat direalisasikan sepenuhnya dalam praktik. Oleh karena itu harus dipastikan bahwa setiap orang yang ingin mendalami olahraga ini bisa mendapatkan kesempatan. 

Dalam sistem olahraga yang memperlakukan setiap orang sebagai individu yang tunduk pada aktivitas fisik sepanjang hidup mereka setiap organisasi olahraga menganggap setiap anggota sebagai aset bagi masyarakat dan berfokus pada pengembangan jangka panjang  setiap orang. Untuk itu diperlukan perubahan paradigma dimana jika ingin mencapai tujuan maka perlu adanya hubungan yang kuat antara pembangunan berprestasi masyarakat dan sekolah olahraga. Dengan  sumer daya yang teratas Kanada tidak bisa begitu saja menyalin program lain. Program sekolah dan masyarakat harus dapat saling melengkapi dengan program LTAD. 

 


Gambar 2. Hubungan Antara Tahap Perkembangan Atlet Jangka Panjang dan Tahap Perkembangan Kognitif, Emosional dan Moral. Sumber: Way et al., (2016:37)

Sangat sedikit klub atau sekolah yang mampu menerapkan prinsip-prinsip LTAD sehingga dalam jangka panjang perlu ada semacam model yang dapat digunakan oleh klub organisasi olahraga provinsi refleks dll yang mencerminkan keutuhan masing-masing. olahraga dan menyesuaikannya dengan tujuan  LTAD. Balyi setuju ahwa pendekatan ini bisa memicu  perubahan  radikal. Kita tidak bisa lagi mengatakan "kita berada dalam bisnis seperti biasa" atau "ini adalah bagaimana kita melakukan sesuatu dalam organisasi kita". Sekarang mari kita bicara tentang model dasar  LTAD dan prinsip-prinsip yang terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan seorang atlet (manusia) yang membentuk kerangka dasar LTAD. Semua tahapan LTAD dengan hati-hati mempertimbangkan tahapan perkembangan yang  harus dilalui seseorang dalam hidupnya. Tingkat perkembangan setiap orang dari masa kanak-kanak hingga dewasa pada dasarnya  sama; Waktu dan kecepatanlah yang membedakannya dan perbedaan inilah yang harus diperhitungkan.

LTAD menawarkan dua model menurut Balyi (2013:7) meninjau literatur yang ada membantu kami untuk menyimpulkan bahwa olahraga spesialisasi awal memerlukan model empat tahap, sedangkan olahraga spesialisasi akhir memerlukan model lima tahap:

Early Specialisation Model

1 Training to Train 

2 Training to Compete 

3 Training to Win 

4 Retirement/Retaining

Late Specialisation Model

1 FUNdamental 

2 Training to Train 

3 Training to Compete 

4 Training to Win 

5 Retirement/Retaining Since

Pendidikan jasmani harus mampu memberikan landasan yang memadai yang dikenal dengan literasi jasmani mengenai keterampilan motorik umum dan keterampilan teknis dan taktis untuk  gaya hidup yang dinamis. Jelas bahwa tidak adanya pengetahuan fisik menghambat dan membatasi partisipasi dalam olahraga kompetitif dan rekreasi. Jika literasi fisik dipersiapkan sejak awal anak dapat memilih untuk berpartisipasi dalam olahraga kompetitif atau rekreasi atau bahkan keduanya. Dengan menyediakan platform yang sesuai dan pengalaman positif sistem olahraga dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk mencapai kesehatan fisik mental dan emosional dan mampu berpartisipasi dalam aktivitas fisik secara penuh sepanjang hidup mereka. Hal ini juga menguntungkan secara ekonomi karena  berarti mencegah risiko penyakit. 

LTAD & SEPAK BOLA INDONESIA

Menurut Prakarsa & Umar (2020:193) Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga beregu yang masing-masing terdiri dari 11 orang pemain dan salah satu diantaranya penjaga gawang. Permainan berlangsung pada satu lapangan yang berukuran panjang 100 sampai 110 meter dan lebar lapangan 65 sampai 75 meter, yang di batasi dengan garis selebar 12 cm serta dilengkapi dengan 2 gawang yang tingginya 2,24 meter dan lebar 7,32 meter ( low of the game 2009/2010 ). Dalam beberapa tahun terakhir fokusnya adalah pada pengembangan bakat dalam sepak bola. Klub sepak bola profesional di seluruh dunia membangun dan mensponsori program pelatihan khusus yang  dikenal sebagai akademi atau SSB (Sekolah Sepak Bola). Mills dalam Larkin (2014:9) juga mencatat bagaimana program terstruktur seperti akademi bisa dibilang merupakan langkah terpenting dalam perjalanan seorang atlet untuk menjadi pemain profesional atau elit. Banyak penelitian percaya bahwa telah terjadi pergeseran dari identifikasi bakat ke pengembangan bakat. Ini sebagian karena keuntungan finansial dari pengembangan bakat dalam sepak bola yang  mengarah pada pembentukan akademi dan pusat keunggulan di banyak tim negara sepak bola profesional. 

Sebuah penelitian dilakukan oleh Mills et al. (2012) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi perkembangan pemain akademi muda elit. Pesertanya adalah sepuluh pelatih pengembangan spesialis dari klub Liga Premier dan liga profesional di Inggris. Setelah melakukan serangkaian wawancara dengan sepuluh dosen diperoleh hasil sebagai berikut. Faktor-faktor yang menurut mereka mempengaruhi perkembangan pemain elit adalah kesadaran ketahanan atribut berorientasi tujuan kecerdasan dan atribut khusus olahraga faktor olahraga dan  lingkungan. Reilly dkk. (2000) menemukan hasil yang sama dalam sebuah penelitian terhadap pemain sepak bola elit. Ditemukan bahwa pemain sepak bola elit  dibandingkan dengan pemain non-elit menunjukkan toleransi kelelahan yang lebih baik kekuatan aerobik kekuatan otot dan kecepatan. Akhirnya dalam sebuah studi oleh Williams dan Reilly (2000) mereka menemukan sejumlah prediktor bakat pada pemain sepak bola yang semuanya perlu dikembangkan melalui rejimen pelatihan yang dibangun dengan hati-hati untuk menciptakan pemain elit. Prediktor dibagi menjadi empat kategori: fisik fisiologis psikososial dan sosiologis.

 

Gambar 3. Potensi prediktor bakat dalam sepak bola. Sumber: Larkin (2014:10)

Faktor dan prediktor seperti yang disebutkan sebelumnya tidak dapat dikembangkan dalam jangka pendek; mereka harus dikembangkan dalam jangka waktu yang lama. Seperti yang dikemukakan oleh Balyi seringkali orang tua dan pelatih di berbagai cabang olahraga termasuk sepak bola mengambil pendekatan “peaking by Friday”. Padahal sebenarnya Balyi menemukan bahwa jika atlet elit ingin dihasilkan pengabdian jangka panjang untuk pelatihan sangat penting.

Sebenarnya perkembangan pemain sepak bola dan sepak bola Indonesia saat ini berdasarkan kurikulum sepak bola yang diterbitkan oleh PSSI sebagai organisasi yang menanungi sepak bola di Indonesia.  Kurikulum pembinaan sepak bola Indonesia ini tergambar dengan jelas filosofi permainan sepakbola yang Indonesia anggap cocok untuk menuju pentas dunia. Kurikulum ini juga memberikan penjelasan mendalam tentang karakteristik pesepakbola usia muda sesuai dengan kelompok usianya. Berdasarkan karakteristik pengelompokkan usia, Kurikulum kemudian menjabarkan tahap-tahap pembinaan sepakbola usia muda yang harus dilalui pemain. Dimana pada setiap tahapan tersebut, terdapat sistematika dan metode latihan yang spesifik sesuai kebutuhan tiap kelompok umur. Tahapan pembinaan ini akan mencetak pemain yang mencintai permainan sepakbola, memiliki skill aksi sepakbola mumpuni, dan kompetensi dalam permainan (PSSI, 2017:x). Jika dilihat lebih dekat, kurikulum ini dapat sejalan dengan LTAD karena sama-sama memfokuskan tahapan-tahapan pembinaan berdasarkan kategorisasi kelompok usia, namun sayang tahapan LTAD di kurikulum ini tidak semua diserap atau diadopsi dengan baik. 



Pengembangan atlet jangka panjang (Long-term athlete development) telah menjadi visi bagi banyak Badan Pengurus Nasional dan Dewan Olahraga di seluruh dunia. Banyak olahraga di seluruh dunia telah mengadopsi model LTAD sebagai bagian dari program pengembangan mereka. Padahal secara khusus ada beberapa negara sepakbola yang berhasil mengadaptasi LTAD Istvan Balyi seperti Inggris, Portugal, Chile, Australia dan Amerika Serikat. Tujuan dari rumusan ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi pelatih sepak bola Indonesia tentang LTAD dan seberapa banyak mereka menerapkannya. Meskipun belum ada bukti  yang menunjukkan bahwa LTAD diimplementasikan dalam Sepak Bola Indonesia  dan tingkat implementasi yang sebenarnya sampai sekarang belum dihitung. Namun, sebagai bahan kajian dan pengembangan sangatlah baik untuk mendalami dan terbuka menerapkan berbagai model pengembangan olahraga salah satunya model LTAD (Long-term athlete development) milik Balyi ini. 

Hanya sedikit klub atau sekolah yang dapat menjalankan prinsip-prinsip dari LTAD sehingga untuk untuk jangka panjang harus ada semacam template yang dapat dipakai oleh klub-klub, organisasi olahraga provinsi yang merefleksikan kebutuhan dari masing-masing cabang olahraga dan menyesuaikannya dengan tujuan dari LTAD. Balyi sepakat bahwa pendekatan ini dapat memicu terjadinya perubahan yang radikal. Kita tidak bisa lagi berkata, “Kita sudah kerjakan seperti biasa” atau “beginilah cara yang kita kerjakan dalam organisasi kita”. Sekarang mari kita membahas tentang model dasar dari LTAD dan prinsip-priinsip mengenai tumbuh kembangnya seorang atlet (manusia) yang menjadi kerangka dasar dari LTAD.

Sesuai dengan pembahasan dan beberapa teori-teori yang dirangkum pada makalah ini,  dapat dikonsepkan Pembinaan sepak bola Indonesia dengan menggunakan pendekatan model LTAD milik Balyi sebagai berikut: 

  • Pemain memulai pada fase FUNdamental yang sebagian besar didasarkan pada level klub lokal untuk pemain. Penekanan pada fase FUNdamental adalah untuk mengembangkan keterampilan gerakan dasar pemain dalam lingkungan yang menyenangkan dan positif. Keterampilan motorik dasar yang tepat dan benar seperti teknik lari, lompat dan lempar diajarkan pada usia 6-9 tahun. Lanjutan dari fase FUNdamental adalah fase Learning to train. Fase belajar untuk melatih khusus untuk atlet berusia antara 9 dan 12. Seperti fase FUNdamental, belajar untuk melatih didasarkan pada tingkat klub lokal untuk atlet tetapi mulai berkembang melalui pengenalan kompetisi di tingkat U-12. Tujuan utama dari fase belajar untuk melatih adalah untuk mengembangkan keterampilan yang berhubungan dengan sepak bola dan menerapkannya menggunakan keterampilan FUNdamental. Penekanan dalam fase belajar untuk melatih adalah pada pengembangan teknis dengan atlet diperkenalkan ke situasi permainan 7v7 dan 9v9.
  • Tahap pengembangan pemain sepak bola selanjutnya adalah tahap training to train. Tahap pelatihan untuk melatih menargetkan pemain berusia antara 12 dan 16 tahun. Melanjutkan dari pengembangan di level klub dan pengenalan kompetisi melihat terwujudnya Emerging Talent Program di tingkat antar kabupaten dan juga di tingkat regional. The Emerging Talent Program menyatukan para pemain terbaik dari level klub lokal dan memberi mereka kesempatan pelatihan yang mengingatkan para pemain elit untuk membantu perkembangan mereka. Tujuan utama dalam fase training to train adalah menggabungkan keterampilan dasar dengan pengenalan elemen taktis dasar. Fase training to train juga melihat munculnya perkembangan fisik berupa aerobik dan pengembangan kekuatan. Tahap pelatihan untuk melatih juga melihat pengenalan turnamen nasional antar negara di mana pemain memiliki kesempatan untuk menunjukkan bakat mereka dan berpotensi diperhatikan oleh manajer dari klub profesional. Lanjutan dari fase training to train adalah fase training to competition.
  • Fase training to competition. Fase ini didominasi oleh usia 16-18 tahun. Tujuan dari fase pelatihan untuk bersaing adalah untuk mengoptimalkan tingkat kebugaran di samping pengembangan keterampilan individu dan posisi tertentu. Tahap pelatihan untuk bersaing juga melihat pengenalan elemen permainan taktis yang lebih maju. Penekanan khusus ditempatkan pada replikasi situasi permainan dan kompetisi dengan memodelkan pelatihan ke kompetisi. Dalam fase pelatihan untuk bersaing pemain masih terlibat dengan ETP tetapi juga disaring ke sepak bola Internasional. Persaingan dalam sepak bola internasional mulai terbentuk pada fase pelatihan untuk bersaing dengan turnamen seperti Kejuaraan-kejuaraan Internasional. Pemain dalam fase pelatihan untuk bersaing dalam sepak bola diperkenalkan dengan cita rasa pertama mereka dari sepak bola profesional elit melalui Liga kelompok U19. Liga U-19 diatur dalam struktur yang mirip dengan Liga utama, yang merupakan kompetisi sepak bola utama yang diadakan di Indonesia. Liga U-19 membantu mempersiapkan pemain untuk menghadapi kompetisi yang panjang namun membatasi pemain untuk bersaing dengan pemain seusia mereka atau yang seusia.
  • Fase terakhir dari jalur pemain sepakbola adalah fase pelatihan untuk menang atau train to win. Karena fase pelatihan bersaing menargetkan pemain berusia 16-18 tahun, ini pasti berarti pelatihan untuk memenangkan fase menargetkan pemain berusia 18 tahun ke atas. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan persiapan kebugaran dan sepak bola, keterampilan khusus individu dan posisi serta kinerja. Karena kapasitas pemain sekarang sepenuhnya terbentuk, pemain dilatih untuk mencapai puncaknya untuk kompetisi besar. Pelatihan ditandai dengan intensitas tinggi dan volume yang relatif tinggi dengan periode istirahat yang sering. Sama halnya dengan fase training to competition, sepak bola internasional juga ditonjolkan pada fase training to win. Turnamen internasional di mana para pemain bersaing termasuk Piala AFF dan Dunia U-20. Pemain dalam fase pelatihan untuk menang juga mencapai puncak sepak bola Indonesia yaitu liga sepak bola profesional senior di Indonesia. 

Kesimpulan

Dalam sepak bola seperti dalam kebanyakan olahraga ada konflik keyakinan tentang cara terbaik untuk mempersiapkan pemain. Pelatih akan cenderung memprioritaskan efisiensi teknis dan definisi  luas dari karakteristik fisik. Pedoman beberapa Federasi Sepak Bola mendukung pengembangan semua  pemain untuk memasukkan keterampilan sepak bola  khusus sepak bola. Ini bisa menjadi kontroversi karena untuk mengembangkan kemampuan teknis seorang pemain adalah bijaksana dan logis bahwa mereka harus terlebih dahulu mampu secara fisik untuk melakukan keterampilan

LTAD adalah program pelatihan, kompetisi dan pemulihan (recovery) berdasarkan pada usia biologis atlet (tingkat kematangan individu) dan bukan berdasarkan pada usia kronologis. Dengan fokus utama pada atlet, didukung oleh pelatih yang baik, administrasi, ilmu olahraga dan sponsor maka seorang atlet yang menjalani program latihan dan kompetisi LTAD akan mendapatkan suatu perencanaan periodisasi yang sesuai dengan usia biologisnya dan perkembangan kebutuhannya.

Faktor dan prediktor seperti yang disebutkan sebelumnya tidak dapat dikembangkan dalam jangka pendek; mereka harus dikembangkan dalam jangka waktu yang lama. Seperti yang dikemukakan oleh Balyi seringkali orang tua dan pelatih di berbagai cabang olahraga termasuk sepak bola mengambil pendekatan “peaking by Friday”. Padahal sebenarnya Balyi menemukan bahwa jika atlet elit ingin dihasilkan pengabdian jangka panjang untuk pelatihan sangat penting

Pengembangan atlet jangka panjang (Long-term athlete development) telah menjadi visi bagi banyak Badan Pengurus Nasional dan Dewan Olahraga di seluruh dunia. Banyak olahraga di seluruh dunia telah mengadopsi model LTAD sebagai bagian dari program pengembangan mereka. Diharapkan di Indonesia lebih banyak lagi penerapan Model LTAD ini dalam sepak bola bukan hanya sekedar teori semata. Kurikulum PSSI jika dipehatikan lebih seksama dapat sejalan dengan LTAD karena sama-sama memfokuskan tahapan-tahapan pembinaan berdasarkan kategorisasi kelompok usia, namun sayang tahapan LTAD di kurikulum ini tidak semua diserap atau diadopsi dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

  • Aprilianto, M., & Tomoliyus, T. (2016). Pengembangan model bermain sepakbola untuk meningkatkan aspek psikologis anak usia 12 -13 tahun di Yogyakarta. Jurnal Keolahragaan, 4(1), 34. https://doi.org/10.21831/jk.v4i1.8138
  • Balyi, I. (2013). Long-Term Athlete Development: The System and Solutions (pp. 1689–1699).
  • Balyi, I., & Way, R. (2009). The Role of Monitoring Growth in Long-Term Athlete Development. Canadian Sport for Life.
  • Behm, D. G., Young, J. D., Whitten, J. H. D., Reid, J. C., Quigley, P. J., Low, J., Li, Y., Lima, C. D., & Hodgson, D. D. (2017). Effectiveness of Traditional Strength vs . Power Training on Muscle Strength , Power and Speed with Youth : A Systematic Review and. Frontiers in Physiology, 8(June). https://doi.org/10.3389/fphys.2017.00423
  • Boyle, M. J. (2010). Advances in Functional Training Training Techniques for Coaches, Personal Trainers and Athletes. On Target Publications.
  • Cross, K. (2013). The Football Coaching Process. Official Football Federation Australia Publication.
  • Cuevas, C., Quilón, D., & García, N. (2020). Techniques and applications for soccer video analysis: A survey. In Multimedia Tools and Applications (Vol. 79, Issues 39–40). https://doi.org/10.1007/s11042-020-09409-0
  • David Goldblatt, & Acton, J. (2018). The Soccer Book (Vol. 51, Issue 1). DK Publishing. www.dk.com
  • FIFA. (2004). FIFA Coaching. Druckerei Feldegg AG, 8125 Zollikerberg, Suisse. www.fifa.com
  • FIFA. (2016). Youth Football Training Manual. www.FIFA.com
  • Ford, P., de Ste Croix, M., Lloyd, R., Meyers, R., Moosavi, M., Oliver, J., Till, K., & Williams, C. (2011). The Long-Term Athlete Development model: Physiological evidence and application. Journal of Sports Sciences, 29(4), 389–402. https://doi.org/10.1080/02640414.2010.536849
  • Gambetta, V. (2007). Athletics Development : the art & science of functional sports conditioning. Human Kinetics.
  • García-Ramos, A., Haff, G. G., Feriche, B., & Jaric, S. (2018). Effects of different conditioning programmes on the performance of high-velocity soccer-related tasks: Systematic review and meta-analysis of controlled trials. International Journal of Sports Science and Coaching, 13(1), 129–151. https://doi.org/10.1177/1747954117711096
  • Granacher, U., Lesinski, M., Büsch, D., Muehlbauer, T., Prieske, O., Puta, C., Gollhofer, A., & Behm, D. G. (2016). Effects of resistance training in youth athletes on muscular fitness and athletic performance: A conceptual model for long-term athlete development. Frontiers in Physiology, 7(MAY). https://doi.org/10.3389/fphys.2016.00164
  • Harries, S. K., Lubans, D. R., & Callister, R. (2012). Resistance training to improve power and sports performance in adolescent athletes: A systematic review and meta-analysis. Journal of Science and Medicine in Sport, 15(6), 532–540. https://doi.org/10.1016/j.jsams.2012.02.005
  • Higa, H. (2015). The Power of Soccer: A Promising Tool for Youth Empowerment A Case of Soccer-Based Health Program at El Nacional Public School in Ecuador. 17. http://commons.cu-portland.edu/gradprojhttp://commons.cu-portland.edu/gradproj/17
  • John, G. J. (2014). Soccer injury prevention and treatment : a guide to optimal performance for players, parents and coaches. Demos Medical Publishing, LLC.
  • Larkin, H. (2014). The Application of a Long Term Athlete Development Model in Irish Football. In Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952. (Issue April). School of Health Sciences Waterford Institute of Technology.
  • Peter, R., & Bode, G. (n.d.). Modern Youth Training In Soccer: The phylosophy of children’s soccer. Soccer-Coaches. www.soccer-coaches.com
  • Pichardo, A. W., Oliver, J. L., Harrison, C. B., Maulder, P. S., & Lloyd, R. S. (2018). Integrating models of long-term athletic development to maximize the physical development of youth. International Journal of Sports Science and Coaching, 13(6), 1189–1199. https://doi.org/10.1177/1747954118785503
  • Prakarsa, A. A., & Umar. (2020). Pengaruh Variasi Latihan Plyometric Terhadap Akurasi Shooting Pemain Akademi PSP Padang. Jurnal Patriot, 2(1), 25–28.
  • PSSI. (2017). Kurikulum Pembinaan Sepakbola Indonesia PSSI (Danurwindo, G. Putra, B. Sidik, & J. L. Prahara (eds.)). Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.
  • Stølen, T., Chamari, K., Castagna, C., & Wisløff, U. (2016). Physiology of Soccer: An Update. International Journal of Applied Engineering Research, 11(7), 5060–5066.
  • Way, R., Trono, C., Mitchell, D., Laing, T., Vahi, M., Meadows, C., & Lau, A. (2016). Sport for Life – Long-Term Athlete Development Resource Paper 2.1. Sport for Life Society. https://proxy.lib.ohio-state.edu/login?url=http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=s3h&AN=23787650&site=ehost-live
  • Williams, P. (2010). Soccer Coach 101: A Beginner’s Guide To Running Successful Soccer Practices. Better Football Ltd. betterfootball.net

MOTOR LEARNING

MOTOR LEARNING ğŸŽ¯Olahraga dalam pendidikan merupakan kegiatan belajar yang dapat menghasilkan kemampuan, keterampilan, atau keahlian gerak d...

OnClickAntiAd-Block