Tuesday 14 July 2020

STKIP PARIS BARANTAI

STKIP PARIS BARANTAI

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Paris Barantai adalah perguruan tinggi swasta (PTS) yang beralamat di Jalan Veteran No.15-B Km.2 Komplek Perikanan, Dirgahayu, Pulau Laut Utara, Kab. Kotabaru, Kalimantan Selatan, 72113, Indonesia.

STKIP Paris Barantai didirikan pada Tanggal 20 Agustus 2009 sebagai salah satu perguruan tinggi dibawah naungan Yayasan Pembina dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (YPPSDM) Paris Barantai Kotabaru.

https://www.google.com/maps/place/Stkip+Paris+Barantai+Kotabaru


 MOTTO:
“Bersama Mencerdaskan Anak Bangsa”


LAMBANG STKIP PARIS BARANTAI

Gambar Logo STKIP PB Kotabaru
Arti Lambang
Lambang STKIP terdiri dari :
Lukisan = Gunung, Buku dan Gelombang Laut
Warna = Merah hati, hijau, kuning, putih, biru dan biru muda
Tulisan =  SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PARIS BARANTAI KOTABARU

Penjelasan
Gunung melambangkan kekokohan dan harapan yang besar dan tinggi, Buku melambangkan sumber ilmu pengetahuan dalam peningkatan SDM, gelombang laut melambangkan Kabupaten kotabaru yang terbagi menjadi 4 pulau / daratan, dikelilingi lautan dan terletak di antara selat Makassar dan Laut Jawa, sehingga laut menjadi penghubung dan pemersatu.

Warna
Merah melambangkan keberanian dalam menatap masa depan, 
Kuning melambangkan kebesaran dan kekukuhan,
Hijau melambangkan kemakmuran daerah dan penghuninya,
Biru melambangkan keteguhan dalam memandang cita-cta,
Biru muda melambangkan keteguhan dan kesucian dalam bertindak dan berfikir.

SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA STKIP PARIS BARANTAI

Kabupaten Kotabaru dengan wilayah yang luas dan geografis yang khas memiliki masalah dalam penempatan guru-guru SD yang bersedia ditempatkan untuk mengajar di wilayah kecamatan-kecamatan yang jauh dari ibukota Kabupaten. Pada awal terbentuknya Akademik Keguruan Paris Barantai (AKPB) Kabupaten dalam perjalannya selama ini telah mampu untuk tetap eksis dan mampu memberikan kontribusi membantu masalah kekurangan guru pada wilayah Kalimantan selatan dan Kalimantan timur, memperhatikan pemberlakuan UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional, UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen serta PP No 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan, dimana dipersyaratkan kualifikasi tenaga pengajar untuk semua tingkat satuan pendidikan minimal D IV dan S1, untuk itu mutlak dilakukan pengembangan kelembagaan dari Akademi Keguruan berubah bentuk menjadi sebuah Sekolah Tinggi dalam rangka mengakomodir pemenuhan kebutuhan tenaga pengajar.

Hak meningkatkan kualitas SDM merupakan Hak Asasi Manusia untuk itu, memperhatikan kondisi geografis di Kalimantan Selatan, dimana jarak antar satu kabupaten dengan kabupaten lainnya yang berjauhan, jarak antar ibukota kabupaten dengan kecamatan-kecamatannya yang jauh serta sulitnya transportasi baik karena faktor infrastruktur jalan maupun karena dipisahkan oleh laut dirasa perlu adanya Sekolah Tinggi yang dekat dengan masyarakat yang membutuhkan.

Mencermati masalah tersebut Yayasan Pembina dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (YPPSDM) Paris Barantai Kotabaru berdasarkan ; akte Notaris Nomor : 01 tanggal 03 bulan Agustus tahun 2009 SK. Mendiknas : 134/D/O/2009 tanggal 20 Agustus 2009 Dengan harapan nantinya lulusan dari STKIP Paris barantai Kotabaru dapat;
  • Menguasai dasar-dasar pengembngan ilmu pengetahuan sehingga mampu mengisi jabatan lowong pada badan/lembaga pendidikan dasar
  • Mampu menguasai konsepsi ilmu pendidikan yang optimal dan memiliki pengetahuan dibidang pengajaran dan praktik
  • Menjadi tenaga kependidikantingkat akademis untuk mengisi kebutuhan guru
  • Menyiapkan tenaga kependidikan yang handal dan menjadi warganegara yang produktif, adaptif, kreatif dan inovatif
  • Menjadi guru yang brdedikasi tinggi untuk mengajar di wilayah yang jauh dari ibukota kabupaten.

VISI & MISI STKIP PARIS BARANTAI

Visi
Visi STKIP Paris Barantai adalah menjadi salah satu Sekolah Tinggi yang unggul secara Nasional dalam menghasilkan tenaga pendidik yang berkarakter dan kompeten tahun 2020.

Misi
Misi STKIP Paris Barantai yaitu Menyelenggarakan penataan organisasi dan penguatan kelembagaan di lingkungan STKIP Paris Barantai menuju efektivitas dan efisiensi; Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam manajemen pengelolaan berdasarkan prinsip tata kelola institusi yang baik; Menyelenggarakan pendidikan yang mencerminkan nilai-nilai dasar institusi untuk menghasilkan tenaga pendidik sesuai dengan kebutuhan dunia pendidikan; Meyelenggarakan dan memantapkan kerjasama bidang akademik dan non akademik dengan pihak lain guna peningkatan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi; Mewujudkan pemberdayaan sivitas akademika STKIP Paris Barantai dalam mendesain seluruh program pengembangan Institusi dalam rangka menjamin terwujudnya atmosfir akademik yang kondusif.

JENIS PENDIDIKAN

Program Sarjana (S-1). Mahasiswa yang berhasil menyelesaikan program ini diberi gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

PROGRAM STUDI

Terdapat Tiga Program Studi di STKIP Paris Barantai, Yaitu:
  1. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
  2. Program Studi Pendidikan Matematika
  3. Program Studi Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan Dan Rekreasi

Adapun Program Studi yang ada di lingkungan STKIP Paris Barantai seperti program studi pendidikan bahasa dan sastra indonesia, program studi pendidikan matematika, dan program studi pendidikan jasmani, kesehatan dan rekreasi, selalu mengacu pada visi, misi, tujuan, dan sasaran STKIP Paris Barantai. Visi Program Studi di lingkungan STKIP Paris Barantai tersebut kemudian dijabarkan menjadi beberapa misi yang dijalankan dan sasaran yang ingin dicapai serta strategi yang telah dan akan terus dilakukan. Program Studi menjabarkannnya ke dalam beberapa misi untuk mencapai tujuan dan harapan tersebut. Kemudian misi dianalisis dan dijabarkan ke dalam beberapa tujuan dan sasaran yang akan dicapai untuk mewujudkan pencapaian visi, pelaksanaan misi, dan pencapaian tujuan serta sasaran Program Studi.

Lembaga sertifikasi akreditasi BAN PT telah menerbitkan Sertifikat akreditasi Tingkat Nasional Tahun 2017 dengan masa berlaku Lima Tahun. Tiga Prodi yang telah terakreditasi tingkat Nasional yaitu Prodi Pendidikan Matematika (PM) kualifikasi Baik (C) dengan nomor BAN-PT 0814/SK/BAN-PT/Akred/S/III/2017, Prodi pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kualifikasi Sangat Baik (B) dengan nomor BAN-PT 1160/SK/BAN-PT/Akred/S/III/2017, dan Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi kualifikasi sangat baik (B) dengan nomor BAN-PT 0766/SK/BAN-PT/Akred/S/III/2017 yang di naungi oleh STKIP Paris Barantai.

STRUKTUR ORGANISASI STKIP PARIS BARANTAI




SARANA DAN PRASARANA

Kelayakan sarana dan prasarana STKIP Paris Barantai terlihat dari ketersediaan, kemutakhiran, kesiapakaian mencakup: fasilitas dan peralatan untuk Proses Belajar Mengajar (PBM), Penelitian, dan PkM. Mengacu kepada SN DIKTI Pasal 32. PT harus menyediakan sarana untuk yang berkebutuhan khusus. Untuk sarana seperti alat pendidikan dan sarana lainnya dirasakan sudah baik untuk pelaksanaan program Tri Dharma Perguruan Tinggi, pemenuhan ketersediaan alat pendidikan juga sangat didukung oleh Yayasan, sehingga tidak ditemui kendala yang berarti. Seperti semua ruang kelas yang digunakan bersama sudah menggunakan AC dan LCD Projektor serta Audio untuk pembelajaran, ruang kerja Program Studi sekaligus ruang kerja Dosen juga sudah masing-masing Prodi sehingga memudahkan dan memberikan ruang yang nyaman buat Dosen dalam melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan Tri Dharma.

Sarana yang dikembangkan pada unit yang masing-masing mempunyai beberapa alat utama yang potensial untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran, penelitian dan layanan jasa. Sarana dan prasarana internet sudah dipasang diseluruh areal lahan kampus sehingga semua unit sudah dapat mengakses internet. Database alat (barang inventaris) disusun untuk memudahkan dalam pengelolaan alat sekaligus pengadaannya.

Pengembangan pendidikan sudah dimanfaatkan untuk praktikum maupun pelayanan jasa, dan jumlah buku yang tersedia di perpustakaan terus ditingkatkan terutama untuk jurnal nasional maupun internasional yang memiliki indeks sitasi dan impact factor yang tinggi. Penyesuaian sarana pembelajaran yang up to date dan sesuai dengan perkembangan jaman sehingga lebih mempermudah dosen dan mahasiswa dalam melaksanakan Tri Dharma dan proses pembelajaran. 

Website STKIP Paris Barantai :
Website institusi Situs resmi STKIP Paris Barantai adalah www.stkip-ktb.ac.id.


Sedangkan situs resmi untuk program studi:


References
  1. TIM PENYUSUN LED STKIP Paris Barantai. 2020. AKREDITASI PERGURUAN TINGGI, LAPORAN EVALUASI DIRI. Kotabaru: STKIP PARIS BARANTAI
  2.  https://www.google.com/maps/place/Stkip+Paris+Barantai+Kotabaru/@-3.2457181,116.2196221,17z/data=!4m5!3m4!1s0x0:0xf61028afabd9c265!8m2!3d-3.2439778!4d116.2183464 http://www.stkip-ktb.ac.id/
  3.  http://www.stkip-ktb.ac.id/halaman/detail/profil-stkip
  4.  https://www.banpt.or.id/direktori/institusi/pencarian_institusi.php

Monday 6 July 2020

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA

Manajemen Pembelajaran

Pembelajaran merupakan proses yang terjadi dalam interaksi proses belajar mengajar antara guru dan siswa (Adang, 1993). Lebih lanjut Pane & Darwis Dasopang (2017) Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong peserta didik melakukan proses belajar. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2004: 6) menyatakan “pembelajaran dapat diartikan sebagai proses membuat orang belajar, tujuannnya adalah membantu orang belajar, atau memanipulasi lingkungan sehingga memberi kemudahan bagi orang yang belajar”. Sedangkan Oemar Hamalik (1995: 51) mengemukakan “pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan”.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada bab XI, pasal 39, ayat 2 mengatakan “Guru sebagai pendidik adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penilaian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”.

Guru mempunyai peranan dan kedudukan kunci dalam keselurahan proses pendidikan formal. Keberhasilan proses pendidikan sangat ditentukan oleh efektif dan tidaknya guru dalam mengatur atau memenej pembelajaran, sehingga dengan manajemen pembelajaran yang baik akan mengasilkan tujuan pembelajaran yang baik pula. Menurut pendapat Kelvin Seivert ( 2005: 1) bahwa: “intensitas dan efektifitas hasil pendidikan (out put/graduated) sangat ditentukan oleh manajemen mutu pembelajaran dan instruksi yang dijalankan dalam lembaga pendidikan tersebut”.

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Sarana Pendidikan (1996-1997: 35) mengemukakan ”fungsi dan tugas guru sebagai seorang pendidik dan pengajar adalah: a) menyusun perangkat program pengajaran, b) pelaksanaan pelajaran, c) evaluasi, d) analisa hasil ulangan, dan e) pelaksanaan program perbaikan dan pengayaan”.

Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Dalam SK. Menpora Nomor 053/A/MENPORA/1994 menyatakan Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pendidikan yang dilakukan secara sadar dan sistematis melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan pembentukan watak.Olahraga adalah bentuk kegiatan jasmani yang terdapat di dalam permainan, perlombaan, dan kegiatan jasmani yang intensif dalam rangka memperoleh kesenangan rekreasi, kesehatan, kesegaran, dan prestasi optimal (www.arhamsyahban.com/2016/05/pengertian-pendidikan-jasmani-olahraga.html).

Paradigma pendidikan jasmani dan olahraga
1. Paradigma Tradisional
Tim KBK Penjas Direktorat Menengah Kejuruan (2003 :3) mengatakan bahwa “manusia itu terdiri dari dua komponen utama yang dengan sendirinya dapat terpilah-pilah, yaitu komponen jasmani dan rohani (dikhotomi). Pandangan semacam ini mempunyai anggapan bahwa pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan hanya semata-mata mendidik jasmani saja atau sebagai penyeimbang atau penyelaras pendidikan rohani”, dengan perkataan lain pendidikan jasmani hanya sebagai pelengkap saja.
Pandangan seperti di atas bisa menimbulkan salah kaprah seorang guru pendidikan jasmani dalam merumuskan tujuan, program pelaksanaan, dan penilaian. Pada kenyataannya bahwa pelaksanaan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan cenderung mengarah kepada upaya dalam memperkuat badan,
memperhebat keterampilan fisik, atau mengarah pada kemampuan jasmaniah saja mereka lupa bahwa sebenarnya manusia juga terdiri dari unsur rohaniah dan sosial.
2. Paradigma Modern
Pandangan modern sering juga disebut pandangan holistik. Pandangan ini mengganggap bahwa sebenarnya manusia itu bukan terdiri dari bagian-bagian yang terpilah-pilah. Manusia adalah satu kesatuan dari berbagai bagian yang terpadu menjadi satu. Oleh karena itu pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan tidak hanya berorientasi pada satu komponen jasmaniah saja, tetapi pendidikan jasmani harus dipandang secara utuh dan menyeluruh. 
Tim KBK Penjas Direktorat Menengah Kejuruan (2003 :4) mempunyai anggapan bahwa “ pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan pendidikan melalui aktivitas jasmani untuk mencapai perkembangan individu secara menyeluruh. Pendidikan jasmani modern lebih menekankan pada pendidikan melalui aktivitas jasmaniah didasarkan pada anggapan bahwa jiwa dan raga merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan”. Pandangan semacam itu memandang bahwa kehidupan manusia adalah sebagai totalitas.
Dari paradigma diatas memberi gambaran bahwa pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan yang lainnya dan hubungan dari perkembangan tubuh fisik dengan pikiran serta jiwanya. Jadi dengan pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan sekaligus akan diperoleh tiga aspek, yaitu psikomotorik, afektif, dan kognitif. Itulah yang menjadikan ciri bahwa mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan berbeda dengan mata pelajaran yang lain, tidak ada mata pelajaran lainnya yang seperti mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang mempunyai kepentingan dengan perkembangan manusia secara menyeluruh.
Tujuan Pendidikan Jasmani dan Olahraga Disekolah
  1. Pembentukan fisik, dengan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan akan dapat mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan, memperbaiki dan meningkatkan kualitas kesehatan serta kebugaran jasmani dan meningkatkan gairah dan keceriaan siswa untuk belajar.
  2. Pembentukan mental dan sosial, bahwa secara mental dan sosial siswa didik akan lebih sportif, mampu mengembangkan kerjasama, lebih toleransi dan lebih berdisiplin dalam melaksanakan tugas dan kehidupan sehari-hari.
  3. Pembentukan moral, secara moral menjadi tanggap, jujur, peka dan tulus dalam menghadapi permasalahan dan tuntutan pergaulan sehari-hari.
  4. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia no. 22 tahun 2006 tujuan mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan diberikan di sekolah adalah agar para siswa didik mempunyai kemampuan sebagai berikut:
  • Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktifitas jasmani dan olahraga yang terpilih.
  • Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik.
  • Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar.
  • Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung didalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan.
  • Mengembangkab sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis.
  • Mengembangkan keterempilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
  • Memahami konsep aktifitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
Menutur buku laporan hasil belajar siswa yang dibuat oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, aspek-aspek yang dinilai pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adalah meliputi: 
  1. Permainan dan Olahraga, 
  2. Aktifitas Pengembangan, 
  3. Uji diri/Senam, 
  4. Aktifitas Ritmik, dan 
  5. Aquatik/Pendidikan luar sekolah.
Manajemen Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga

Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dilaksanakan untuk mencapai indikator-indikator pelajaran dalam pendidikan jasmani dan olahraga yang telah direncanakan sebelum proses pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dimulai. Seorang guru dituntut bisa mengelola tugas-tugas pokok sebagai seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran. Menurut pakar pendidikan Oemar Hamalik (2001:123-124) mengatakan bahwa: ”peran guru dapat juga sebagai seorang pemimpin, artinya guru berkewajiban mengadakan supervisi atas kegiatan belajar murid, membuat rencana pengajaran bagi kelasnya, mengadakan manajemen belajar sebaik-baiknya, melakukan manajemen kelas, mengatur disiplin kelas secara demokratis”.

Sedangkan menurut Abdul Majid (2007:112) mengatakan ”guru dapat mengatur dan merekayasa segala sesuatunya. Guru dapat mengatur siswa berdasarka situasi yang ada ketika proses belajar mengajar berlangsung”. Pendapat lain dari Martinis Yamin (2007:55) menyatakan bahwa: ”peran guru di sekolah mempunyai peran ganda, di pundak merekalah terletak mutu pendidikan. Guru juga sebagai seorang menajerial yang akan mengelola proses pembelajaran, merencanakan pembelajaran, mendesain pembelajaran, melaksanakan aktivitas pembelajaran bersama siswa, dan mengadakan pengontrolan atas kecakapan dan prestasi siswa masing-masing”. Dari uraian di atas menghambarkan bahwa dalam menjalankan tugasnya seorang guru termasuk guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan harus bisa memanaj atau mengatur pembelajarannya, karena apabila guru termasuk didalamnya guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dapat mengatur pembelajarannya dengan baik miscaya hasil yang diharapkan juga akan lebih baik. Sukardi (2006:26) mengatakan ”sebagai seorang guru yang profesional dan harus dilakukan oleh setiap guru di sekolah memiliki lima tugas pokok, yaitu merencanakan, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi hasil pembelajaran, menindaklanjuti hasil pembelajaran, serta melakukan bimbingan dan konseling”.

Dari beberapa pendapat di atas bahwa seorang guru termasuk didalamnya guru pendidikan jasmani dan olahraga dalam menjalankan tugas kesehariannya harus bisa mengelola pembelajarannya dengan sebaik mungkin. Karena pengertian manajemen pembelajaran mengandung arti yang sangat luas, maka dalam tulisan ini penulius membatasi tentang pengertian manajemen pembelajaran termasuk didalamnya manajemen pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga adalah sebagai berikut:
Suatu usaha sadar yang dilakukan oleh guru pendidikan jasmani dan olahraga dalam melakukan proses belajar mengajar dengan cara merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan melakukan tindaklanjut hasil evaluasi mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. 
Seorang guru pendidikan jasmani dan olahraga dalam melaksanakan manajemen pembelajaran di kelas harus melaksanakan kegiatan yang terdiri dari empat tahapan, yaitu: 1) membuat perencanaan pembelajaran, 2) pelaksanaan pembelajaran, 3) melaksanakan evaluasi, dan 4) melaksanakan tindaklanjut hasil evaluasi.
1. Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran memainkan peran yang sangat penting dalam memandu guru untuk melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan melayani terhadap siswanya. Perencanaan pembelajaran juga merupakan langkah awal untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran. Apabila perecanaan dipersiapkan dengan baik maka tujaun pembelajaran juga akan tercapai dengan baik pula, tetapi sebaliknya apabila perencanaan pembelajaran kurang dipersipakan baik maka pelaksanaan pembelajarannya juga akan kurang baik, sehingga hasil yang diharapkan juga akan kurang baik pula. 
Abdul Majid (2007: 22) mengemukakan, terdapat beberapa manfaat perencanaan pembelajaran, yaitu:
  • Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
  • Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.
  • Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik guru maupun siswa.
  • Sebagai alat ukur efektif dan tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelambanan kerja.
  • Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.
  • Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat, dan biaya.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tugas seorang guru dalam melaksanakan perencanaan pembelajaran adalah: 1) merencanakan AMP, 2) membuat program tahunan dan program semester, 3) membuat pemetaan, 4) membuat silabus, dan 5) membuat rencana program pembelajaran (RPP).
2. Pelaksanaan Pembelajaran
Melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas merupakan salah satu kegiatan inti guru di sekolah. Setelah guru selesai merencanakan pembelajaran maka guru harus melakukan kegiatan berikutnya yaitu mempraktikkan perencanaan yang dibuatnya di dalam kelas atau pelaksanaan pembelajaran. Menurut Moh. Uzer Usman (2006: 4) “pelaksanaan pembelajaran sama artinya dengan kegiatan belajar mengajar yang berarti merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu”. 
Kemp (1994: 141-149) membagi beberapa azas yang dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran, yaitu “1) persiapan sebelum belajar, 2) sasaran belajar, 3) model pembelajaran, 4) susunan materi pembelajaran, 5) perbedaan individu, 6) motivasi, 7) sumber pembelajaran, 8) keikutsertaan, 9) balikan, 10) penguatan, 11) latihan dan pengulangan, 12) urutan kegiatan belajar, 13) penerapan, dan 14) sikap pengajar”. 
Sedangkan Sukardi (2006: 28) mengatakan, “dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran seorang guru harus benar-benar siap materi, siap mental, siap metodologi, siap media, dan siap strategi pembelajaran. Hal ini akan didapat apabila sebelumnya guru tersebut melaksanakan langkah pertama yaitu membuat perencanaan pembelajaran dengan baik”. 
Dari beberapa pendapat di atas maka, seorang guru pendidikan jasmani dan olahraga  harus mampu menampilkan diri seprima mungkin saat melaksanakan kegiatan pembelajaran, artinya seorang guru harus menunjukkan kemampuan terbaiknya di depan para siswanya, penjelasannya mudah dipahami, penguasaan keilmuannnya benar, metodologinya menguasai, serta mempunyai strategi pembelajaran yang tepat. Khomsin (2001: 8) berpendapat bahwa “dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah, kemampuan guru dalam memilih strategi pembelajaran yang tepat merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan”. 
Strategi Pembelajaran
Menurut H.D. Sudjana (2005: 6) “strategi pembelajaran mencakup penggunaan pendekatan, metode dan teknik, bentuk media, sumber belajar, pengelompokan peserta didik, untuk mewujudkan interaksi edukatif antara pendidik dengan peserta didik, dan antara peserta didik dan lingkungannya, serta upaya pengukuran terhadap proses, hasil, dan/atau dampak kegiatan pembelajaran”. 
Syaiful Sagala (2007:221) berpendapat bahwa “ konsep dasar strategi belajar mengajar meliputi: (1) menentukan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku belajar, (2) menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar, memilih prosedur, metode dan teknik belajar mengajar, dan (3) norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar”.
Berikut model strategi pembelajaran dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang dikutip oleh Khomsin dari bukunya Gabbard (1987: 101)
Tahap Pembelajaran
Tahap Intruksional. Tahapan kedua ini sering disebut dengan tahapan pembelajaran atau tahap inti yakni tahapan memberikan bahan pelajaran yang telah disusun guru sebelumnya. Secara umum tahapan ini dapat diuraikan sebagai berikut: (1) menjelaskan kepada siswa tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai, (2) menentukan materi pokok atau kompetensi dasar yang akan di pelajarai, (3) membahas pokok materi yang telah ditentukan, (4) penggunaan alat bantu atau media pembelajaran, dan (5) menyimpulkan hasil pembahasan dari pokok materi. 
Tahap evaluasi dan tindaklanjut. Tahapan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari kegiatan intruksional. Adapun kegiatan pada tahap ini adalah: (1) mengajukan pertanyaan atau siswa disuruh melakukan kegiatan tentang materi yang telah dipelajarinya, (2) apabila 75 % siswa belum bisa melakukan, maka guru hendaknya mengulangi kembali penjelasan meteri yang telah diberikan (3) guru bisa memberikan tugas-tugas dirumah yang ada hubungannya dengan materi pokok, dan (4) mengakhiri pelaksanaan pembelajaran. 
Muska Moston (1981: 6) seorang pakar pendidikan jasmani mengatakan, “mengajar adalah merupakan sebuah rangkaian yang permanen dari sebuah kejadian yang sudah diputuskan. Keberhasilan dalam mengajar dapat dikembangkan dari sejumlah keputusan yang dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori yaitu: (1) pra pertemuan (persiapan), (2) selama pertemua, dan (3) pasca pertemuan”. 
Wahjoedi (2005: 1) memaparkan, “pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan umumnya dilakukan dalam serangkaian dari tiga tahapan, yaitu: pemanasan (warming up), latihan inti, dan pendinginan (cooling down). Latihan inti mendapat porsi waktu terbesar setiap kali pertemuan yaitu 70% sampai 80%, sisanya 10% sampai 15% untuk pemanasan, dan 5% sampai 10% untuk pendinginan”.
3. Evaluasi Hasil Belajar
Langkah ketiga yang harus dilakukan oleh seorang guru setelah melakukan kegiatan pembelajaran adalah melakukan evaluasi pembelajaran. Kegiatan evaluasi ini dimaksudkan unutuk mendapatkan umpan balik (feet back) atas kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan oleh guru. Dengan evaluasi, kita dapat mengetahui pencapaian standar kompetensi atau pencapaian tujuan yang diharapkan. Selain itu evaluasi juga dimaksudkan untuk mengetahui efektifitas pembelajaran yang dilakukan, karena seorang guru tidak akan mungkin mengetahui perkembangan siswa didiknya tanpa melakukan evaluasi. 
Menurut Oemar Hamalik (2001: 145-146) “istilah evaluasi sering disebut juga assessment yang mempunyai arti serangkaian kegiatan yang dirancang unutuk mengukur prestasi belajar (achievement) siswa sebagai hasil dari suatu program intruksional”. 
Nana Sudjana (2007: 243) “evaluasi dibagi menjadi dua yaitu: (1) evaluasi proses pengajaran dan (2) evaluasi hasil pengajaran”. Evaluasi terhadap proses pengajaran dilakukan guru sebagai bagian integral dari pengajaran itu sendiri, artinya evaluasi harus tidak terpisahkan dengan penyusunan dan pelaksanaan pengajaran, sedangkan evaluasi hasil pengajaran merupakan bentuk hasil akhir dari sebuah pengajaran. 
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi yang harus dilakukan oleh guru adalah evaluasi proses bukan evaluasi hasil, karena evaluasi hasil cenderung mengukur prestasi. Sebuah pembelajaran terutama pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan penampilan gerak dan kesegaran jasmani adalah merupakan tujuan utama dari pembelajaran tersebut. 
Karena evaluasi dapat berfungsi sebagai umpan balik dan remedial pengajaran, apapun hasil evaluasi tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan guru untuk melaksanakan strategi pembelajaran berikutnya, sehingga strategi pembelajaran guru dari waktu ke waktu akan selalu berubah menyesuaikan kondisi lapangan.
4. Tindak Lanjut Hasil Evaluasi
Setelah dilakukan kegiatan evaluasi, guru kemudian melaksanakan kegiatan berikutnya yaitu tindaklanjut hasil evaluasi, kegiatan ini dimaksudkan untuk perbaikan dan pengayaan, perbaikan dilakukan terhadap anak yang belum mencapai ketutasan belajar, sedangkan pengayaan dilakukan kepada siswa yang sudah mencapai ketuntasan, atau yang sering kita kenal dalam pembelajaran tuntas yaitu dengan istilah program layanan. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. (2004: 21) mengatakan program layanan dalam pembelajaran tuntas adalah sebagai berikut:
  • Bagi siswa yang belum mencapai skor 75 untuk kompetensi dasar (KD) tertentu, maka siswa yang bersangkutan harus diberi layanan yang berupa program remedial (perbaikan)
  • Bagi siswa yang mencapai skor untuk kompetensi dasar (KD) tertentu antara 75 – 90, kelompok siswa ini perlu diberikan program pengayaan (enrichment).
  • Sedangkan siswa yang skor penguasaan kompetensi dasar (KD) tertentu lebih dari 90, maka siswa tersebut sebaiknya diberikan layanan program percepatan (akselerasi). 
Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. (2006: 20) mengatakan “sekolah boleh menetapkan atau membuat sendiri kriteria ketuntasan minimum (KKM) boleh lebih rendah atau kalau mungkin boleh lebih tinggi dari 75% dengan memperhatikan dan mempertimbangkan tingkat kerumitan (kompleksitas), tingkat kemampuan rata-rata siswa, dan tingkat kemampuan sumber daya dukung dari sekolah tersebut.
Program Perbaikan
Menurut Abdul Majid ( 2006: 236) “ yang dimaksud dengan program perbaikan adalah merupakan bentuk khusus dari pengajaran yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Jadi program perbaikan adalah sebuah proses pembelajaran yang bertujuan untuk memperbaiki atau melayani peserta didik yang kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran dengan bentuk mengulangi kompetensi dasar (KD) yang belum dikuasai siswa. Adapun model atau cara yang dapat ditempuh untuk pelaksanaan kegiatan remedial adalah seperti yang diuraikan oleh Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2004: 25):
  • Menjelaskan kembali kompetensi dasar (KD) yang bersangkutan dengan penyederhanaan materi.
  • Pemberian bimbingan secara khusus.
  • Pemberian tugas-tugas atau perlakuan (treatment) secara khusus, yang sifatnya penyederhanaan dari pelaksanaan pembelajaran regular.
  • Guru dapat memanfaatkan model pembelajaran tutor sejawad (peer tutor)
Program Percepatan
Abdul Majid ( 2006: 243) mengatakan “program percepatan diberikan kepada siswa didik untuk melalui masa belajar di sekolah dengan waktu yang relatif cepat. Sedangan Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. (2004: 31) program layanan percepatan diberikan kepada siswa yang luar biasa cerdas dan mampu menyelesaikan kompetensi-kompetensi secara cemerlang, jauh lebih cepat dengan nilai yang amat baik yaitu (>90). Dengan program percepatan tersebut siswa yang mempunyai kecerdasan yang luar biasa belajarnya akan lebih optimal, maka siswa yang termasuk dalam kategori ini harus diberikan pelayanan khusus pula agar tetap dapat mempertahankan kecepatan belajarnya.

Foto Bersama Dosen-Dosen Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Daftar Pustaka:
  • Adang, S. 1993. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Yayasan Kesuma Karya, (1940): 1–15.
  • Pane, A. & Darwis Dasopang, M. 2017. Belajar dan Pembelajaran. Fitrah:Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman, 3(2): 333.
  • Bucher, Charles A., and Krotee, Marc L. 2002. Management of Physical Education and Sport, McGraw-Hill, Boston.
  • Davis, Howard M. 1993. Basic Concept of Sport Information, Jeste Publishing Co., East Longmeadow.
  • https://www.arhamsyahban.com/2016/05/pengertian-pendidikan-jasmani-olahraga.html 
  • Krotee. March L dan Charles A Bucher. 2002. Management of Physical Education and Sport, Mc Graw Hill Press.
  • Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 1993. Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia, CV. Haji Masagung, Jakarta.
  • Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). 1999. Sistem Manajemen Nasional (Simenas), Lemhannas, Jakarta.
  • Lewis, Guy, and Appenzeller, Herb. 1985. The Susccesful Sport Management, The Michie Company Law Publishers, Charlottesville, Virginia.
  • Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. 1994. Pola Dasar Pembangunan Olahraga, Kantor Menpora, Jakarta.
  • Siagian, Sondang P. 1998. Filsafat Administrasi, CV Haji Masagung, Jakarta.
  • Sagala, Saeful. 2000. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta. 
  • Sudjana, H.D. 2000. Manajemen Program Pendidikan. Bandung: Falah Production.
  • Terry, George. R. 1986. Asas-asas Manajemen. (terjemahan). Bandung: Alumni.
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Jakarta, 2007. 

Wednesday 1 July 2020

Homo Ludens_ Pendidikan Jasmani

Di dalam Pendidikan Jasmani dan Olahraga sering kita mendengar guru dan dosen dalam menguraikan materi tentang pendidikan jasmani sering menyebutkan tentang Homo Ludens. Pernahkah kalian bertanya kenapa begitu sangat penting? Ya benar saja, karena homo ludens merupakan suatu tatanan konsep dasar dalam pendidikan jasmani yang mengaitkan pemahaman bahwa anak merupakan sebagai makhluk bermain. Pemahaman inilah yang menginspirasi pendekatan aktivitas bermain dalam pendidikan jasmani untuk dilaksanakan. Hebat bukan!!, tapi apakah kalian sungguh mengenal Homo Ludens?? ........... Alright, dalam posisi itu kita pernah sama. Langsung saja, berikut materi tentang homo ludens yang telah saya rangkum untuk kalian semua:

Homo Ludens

Apa Itu Homo Ludens?

Homo Ludens merupakan sebuah konsep yang memahami bahwa manusia merupakan seorang pemain yang memainkan permainan. Singkatnya, homo (manusia) dan ludens (bermain) berarti manusia yang bermain. Homo ludens merupakan pasangan dari Homo faber yaitu konsep yang memperlihatkan gambaran manusia sebagai pekerja. 

Siapa, Kapan dan darimana asal Homo Ludens?

Pencetus Homo Ludens bernama JOHAN HUIZINGA, seorang pria berkebangsaan Belanda yang lahir pada tanggal 7 Desember 1872 dan meninggal dunia pada tanggal 1 Februari 1945. Johan Huizinga dikenal sebagai seorang sejarawan dan teoritikus budaya yang diakui secara internasional karena karya-karyanya. Salah satu karyanya yang sangat terkenal adalah Homo Ludens (Man the Player) pada tahun 1938.

Dasar Pemikiran Johan Huizinga?

Johan Huizinga mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari sejarah dengan memberi penekanan khusus pada proses perkembangan kebudayaan. Dalam Homo Ludens karya Johan Huizinga, permainan adalah kategori utama kehidupan. Homo ludens sendiri merupakan sebuah konsep yang muncul atau ditemukan dalam kebudayaan. Unsur-unsur utama kebudayaan memiliki asal-usulnya dalam permainan. Johan Huizinga dalam Homo Ludens mengokohkan sifat ludik (bermain) sebagai sifat hakiki manusia. 

Konsep homo ludens merupakan sebuah fenomena budaya, Konsep tentang bermain itu terjadi tanpa perlu suatu pola atau petunjuk. Dalam kasus ini, bermain dapat dikatakan sebagai insting. Permasalahannya adalah ketika kita mengatakan bahwa bermain sebagai insting maka permainan itu berarti sempit. Sedangkan jika bermain dikatakan sebagai sebuah kehendak atau sebuah pikiran maka makna dari bermain itu akan menjadi luas.

Nilai-Nilai Homo Ludens?

Menurut Johan Huizinga nilai-nilai dasar tentang Homo Ludens adalah sebagai berikut:
  1. Sosial (Fair Play)
  2. Sportifitas
  3. Estetis dan,
  4. Etis. 

Permainan yang sesuai dengan sifat ludik manusia yang murni selalu mengandung dan mengajarkan nilai-nilai diatas. Johan Huizinga juga mengemukakan bahwa manusia tidak dapat mematikan sifat bermain dalam dirinya. Ada kalanya sifat yang terpendam itu menjelma menjadi kekuatan yang menyeret manusia pada tindakan-tindakan irasional (diluar nalar). 

Demikianlah postingan kali ini, semoga bermanfaat buat teman-teman, khususnya  untuk penulis sendiri. Terima kasih sudah membaca. Wassalam.

Salam Pendidikan Olahraga... Jaya!!




Daftar Pustaka:
Wikipedia. (2020). Homo Ludens. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Homo_ludens pada tanggal 18 Februari 2020
Wikipedia. (2020). Johan Huizinga. Diakses dari  https://id.wikipedia.org/wiki/Johan_Huizinga#cite_ref-8 pada tanggal 18 Februari 2020

MOTOR LEARNING

MOTOR LEARNING ğŸŽ¯Olahraga dalam pendidikan merupakan kegiatan belajar yang dapat menghasilkan kemampuan, keterampilan, atau keahlian gerak d...

OnClickAntiAd-Block