Sunday 26 January 2020

Uji Normalitas : Statistika Penjas

Contoh Uji Normalitas menggunakan aplikasi SPSS 22

Uji normalitas adalah salah satu uji persyaratan analisis dalam statistik untuk mengetahui data sampel dari populasi penelitian berdistribusi normal atau tidak normal. Oh iya teman-teman distribusi normal juga biasa disebut dengan Distribusi Gausse.

Beberapa teknik uji normalitas yang kita kenal diantaranya: Uji Lilliefors, Kolmogrov-Smirnov, Chi-Square dan Q-Q Plot. Analisis Varian dengan teknik analisis uji-t dan uji F menjadikan uji normalitas sebagai salah satu prasyarat dalam teknik analisis varian. Apabila prasayarat uji normalitas terpenuhi (Sig. > 0,05) maka teman-teman bisa melanjutkan ke uji analisis berikutnya sampai ke uji hipotesis.

Pada postingan kali ini kita akan menguji normalitas data dengan menggunakan bantuan program IBM SPSS Statistics 22. Berikut contoh data kekuatan otot lengan (X1), Keseimbangan Badan (X2) dan Kemampuan Servis atas Permainan Bola Voli (Y) dengan jumlah sampel (N) berjumlah 30 orang.

Contoh data Hasil Penelitian Sampel 
No
Nama Sampel
Kekuatan Otot Lengan (X1)
Keseimbangan Badan (X2)
Kemampuan Servis Atas Bolavoli (Y)
1
Abdillah
9
17,05
48
2
Adriansyah
8
7,23
22
3
Fauzi
12
9,27
37
4
Nurhadi
4
23,39
39
5
Ahmad
8
3,57
27
6
Ari
6
7
46
7
Ashar
2
3,89
26
8
Eko
10
12,38
48
9
Guritno
4
7,86
25
10
Hendra
2
5,13
28
11
Hery
8
7,23
35
12
Hudi
5
12,94
41
13
Irfan
4
18,12
28
14
Jaka
3
9,27
25
15
Jamalludin
6
7
37
16
Jecky
9
3,57
34
17
Juhriansyah
8
17,73
33
18
Kurniawan
6
12,68
27
19
Hairi
9
11,23
39
20
Buhari
6
18,12
39
21
Kadir
10
7
28
22
Arifin
6
12,94
38
23
Yaltsin
8
5,89
36
24
Niharja
6
10,92
37
25
Jaki
7
6,89
38
26
Romia
3
10,92
34
27
Rusdi
8
12,68
40
28
Sapto
9
17,73
41
29
Sugi
12
5,13
38
30
Wahyu
13
13,89
42

Selanjutnya, kita  melakukan perhitungan normalitas data dengan salah satu teknik uji normalitas yaitu Uji Kolmogrov-Smirnov dengan menggunakan bantuan aplikasi IBM SPSS 22. Berikut langkah-langkahnya:

a) Buka aplikasi SPSS 22

b) Klik sheet “Variable View” silahkan isi nama variabel


c) Klik sheet “Data View” silahkan ‘copas’ data kalian


d) Klik menu "Analyze" pada toolbar

e) Klik "Nonparametric Test"

f) Klik "Legacy Dialogs"

g) Pilih "1-Sample K-S"


h) Masukan ke tiga data variabel ke "Test Variable List"

i) Pada "Test Distribution" centang "Normal"

j) Klik "Ok". dan “Bim salabim”.....


k) Muncullah Output Normalitas data SPSS 22



Cara mengetahui signifikan atau tidak signifikan hasil uji normalitas pada output SPSS 22 adalah dengan memperhatikan bilangan pada kolom signifikansi Asymp. Sig. (2-tailed). Untuk menetapkan kenormalan, kriteria yang berlaku adalah sebagai berikut:
  1. Jika signifikansi yang diperoleh  > α , maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau H0 diterima.
  2. Jika signifikansi yang diperoleh < α , maka sampel bukan berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau H1 ditolak.
Dengan demikian akan mendapatkan hasil uji normalitas untuk data kekuatan otot lengan (X1) dengan jumlah sampel (N) sebanyak 30 maka hasil yang diperoleh dengan menggunakan aplikasi SPSS 22 dengan nonparametric test yaitu Kolmogorov-Smirnov Test adalah = 0,130 sedangkan taraf signifikanfi adalah  0,200  > 0,05 sehingga berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan sampel yang diambil dari populasi berdistribusi normal. 

Hasil uji normalitas untuk data keseimbangan badan (X2)  dengan jumlah sampel (N) sebanyak 30 maka hasil yang diperoleh dengan menggunakan aplikasi SPSS 22 dengan nonparametric test yaitu Kolmogorov-Smirnov Test adalah = 0,145 sedangkan taraf signifikan adalah 0,106  > 0,05 sehingga berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan sampel yang diambil dari populasi berdistribusi normal. 

Hasil uji normalitas untuk data kemampuan servis atas bolavoli (Y) dengan jumlah sampel (N) sebanyak 30  maka hasil yang diperoleh dengan menggunakan aplikasi SPSS 22 dengan nonparametric test yaitu Kolmogorov-Smirnov Test adalah = 0,148 sedangkan  taraf  signifikan adalah  0,092 > 0,05 sehingga berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan sampel yang diambil dari populasi berdistribusi normal.

Sumber:

Jackson, S.L. 2009. Research Methods and Statistics: A Critical Thinking Approach. Third Edit ed. United States: Wadsworth, Cengage Learning.

https://www.arhamsyahban.com/2016/05/statistika-penjas-validasi-instrumen-tes.html

SYAHBAN, ARHAM. "KONTRIBUSI KEKUATAN OTOT LENGAN DAN KESEIMBANGAN BADAN TERHADAP KEMAMPUAN SERVIS ATAS BOLAVOLI PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JASMANI, KESEHATAN DAN REKREASI STKIP PARIS BARANTAI KOTABARU." CENDEKIA: JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN 5.1 (2017).

Wednesday 22 January 2020

PSIKOLOGI PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA

Conceptual

Psikologi pendidikan adalah studi tentang orang yang belajar, pembelajaran, dan pengajaran (Reynolds & Miller, 2003 dalam Muhid, n.d.: 1). Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang belajar, pertumbuhan, dan kematangan individu serta penerapan prinsip-prinsip ilmiah terhadap reaksi manusia yang nantinya mempengaruhi proses mengajar dan belajar (djiwandono, 2002:2)

Sport and exercise psychology is the scientific study of people and their behavior in sport and exercise activities. Sport and exercise psychologists seek to understand and help elite athletes, children, the physically and mentally disabled, seniors, and average participants achieve peak performance, personal satisfaction, and development through participation (Psikologi olahraga dan latihan adalah studi ilmiah tentang orang-orang dan perilaku mereka dalam kegiatan olahraga dan olahraga. Psikologi olahraga dan olahraga berusaha untuk memahami dan membantu atlet elit, anak-anak, para penyandang cacat fisik dan mental, senior, dan peserta rata-rata mencapai kinerja puncak, kepuasan pribadi, dan pengembangan melalui partisipasi) (Weinberg & Gould, 1995 dalam Volkwein & Caplan, 2004:24).

Jadi, Psikologi mempelajari tingkah laku dan pengalaman manusia. Objek dari pendidikan jasmani dan olahraga adalah guru dan siswa dalam proses belajar-mengajar mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. Psikologi pendidikan adalah akumulasi pengetahuan, kebijaksanaan, dan teori yang didasarkan pada pengalaman yang mestinya dimiliki setiap guru pendidikan jasmani dan olahraga untuk memecahkan masalah pengajaran sehari‐hari dengan cerdas. Psikologi pendidikan jasmani dan olahraga bermaksud untuk menerapkan psikologi ke dalam proses perubahan tingkah laku guru dan siswa dalam proses belajar mengajar mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. 

Untuk memahami Psikologi Pendidikan jasmani dan olahraga dalam pengembangannya kita akan mengadaptasi pendekatan Weinberg & Gould, 1995, dimana secara umum terdapat tiga pendekatan yang berbeda: pendekatan perilaku, psikofisiologis dan kognitif-perilaku (Volkwein & Caplan, 2004). 
ORIENTASI PERILAKU: Orang dengan orientasi perilaku menganggap faktor penentu yang paling penting untuk perilaku atau belajar siswa sebagai bentuk lingkungan. Faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi perilaku, seperti pikiran, kepribadian, dan persepsi, tidak ditekankan. Penguatan dan hukuman dari lingkungan dianalisis dalam pendekatan ini. 
ORIENTASI PSIKOLOGIS-FISIOLOGIS: Psikolog pendidikan jasmani dan olahraga meyakini bahwa cara terbaik untuk mempelajari perilaku selama belajar pendidikan jasmani dan olahraga adalah dengan menyelidiki proses fisiologis otak dan pengaruhnya terhadap aktivitas fisik. Teknik biofeedback biasanya digunakan untuk melatih siswa belajar, misalnya dalam bermain sepak bola, siswa mengalami detak jantung yang berdetak kencang hubungannya dengan akurasi siswa saat akan menembak bola ke gawang.  
ORIENTASI KOGNITIF-PERILAKU: Para psikolog ini berasumsi bahwa perilaku ditentukan oleh lingkungan dan kognisi. Dimana siswa dapat melatih fokus dan pikiran mereka sambil berpartisipasi dalam kegiatan fisik, yang secara positif akan memengaruhi hasil partisipasi mereka. Teknik yang digunakan oleh psikolog perilaku kognitif meliputi penilaian kepercayaan diri, kecemasan, penargetan, bahasa visual, dan motivasi intrinsik. Penilaian ini kemudian dapat digunakan, misalnya, untuk evaluasi hasil belajar pendidikan jasmani dan olahraga.
Adapun konsep komponen-kompenen psikologi pendidikan Jasmani dan olahraga dapat di lihat pada bagan di bawah ini:
Manfaat dan tujuan dari psikologi pendidikan jasmani dan olahraga atau dengan kata lain Kontribusi psikologi pendidikan jasmani dalam perkembangannya adalah sebagai berikut (diadaptasi dari Reynolds & Miller, 2003):
  1. Mengakui kompleksitas perilaku manusia dan perlunya teori dan penelitian integratif yang mengontekstualisasikan pengajaran dan pembelajaran di sekolah sebagai sistem kehidupan yang kompleks, dinamis, dan dibangun berdasarkan prinsip individu dan relasional.
  2. Melihat manusia dan perilaku mereka secara holistik dan fokus tidak hanya pada proses kognitif dan intelektual, tetapi juga pada proses sosial dan emosional yang secara berbeda memengaruhi pembelajaran, motivasi, dan pengembangan.
  3. Menempatkan studi pengajaran dan pembelajaran dalam konteks sekolah yang beragam dan dalam domain konten tertentu dengan campuran metodologi kuantitatif dan kualitatif.
  4. Menganggap guru sebagai pembelajar yang pengembangan profesionalnya sendiri harus mencerminkan yang terbaik dari apa yang kita ketahui tentang pembelajaran, motivasi, dan pengembangan.
  5. Memikirkan kembali asumsi kritis tentang kemampuan dan bakat manusia, timbal balik dalam peran guru dan pelajar, dan fungsi dan tujuan sekolah sehingga kita dapat mempersiapkan siswa dengan lebih baik untuk kontribusi produktif ke dunia global dan pembelajaran seumur hidup dengan teknologi yang muncul.
  6. Mengakui peran sentral dari pemikiran dan persepsi peserta didik tentang pengalaman mereka dalam pembelajaran dan motivasi — untuk semua peserta didik dalam sistem, termasuk guru, administrator, orang tua, dan siswa. 
Sampai disini dulu ya gaess... nnti akan kita lanjutkan kembali..
Postingan  kali ini spesial untuk sang istri tercinta; Lolita Achraeny, S.Psi.
Semoga bermanfaat. Wassalam.. Salam Pendidikan Jasmani.. Jaya!

Daftar Pustaka :
  • Djiwandono, S. esti wuryani. (2002). Psikologi Pendidikan. Library Stikes Pekajangan.
  • Muhid, A. (n.d.). Psikologi Pendidikan. Diambil dari http://digilib.uinsby.ac.id/20023/1/Psikologi Pendidikan.pdf
  • Reynolds, W. M., & Miller, G. E. (2003). HANDBOOK of PSYCHOLOGY. In I. B. Weiner (Ed.), Educational Psychology (Volume 7, hal. 1–668). John Wiley & Sons, Inc.
  • Volkwein, K. A. E., & Caplan. (2004). Culture, Sport and Physical Activity. Sport, Culture & Society (Vol. 5). Meyer & Meyer Sport.

Wednesday 15 January 2020

VO2max

Apa itu VO2max ?

VO2max singkatan dari Maximal Oxygen Uptake. Penyerapan oksigen maksimal (VO2max) adalah kekuatan aerobik maksimal tubuh dan didefinisikan sebagai 'penyerapan oksigen tertinggi yang dapat dicapai seseorang selama kerja fisik menghirup udara di permukaan laut' (Astrand dan Rodahl, 1986 dalam Dick, 2014). Penyerapan oksigen adalah perbedaan kandungan oksigen antara udara yang diilhami dan udara yang kadaluarsa, dinyatakan dalam ml / kg berat badan / menit. Dengan kata lain, itu adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh untuk memenuhi fungsinya pada waktu tertentu. Tentunya lebih banyak oksigen akan dibutuhkan dalam olahraga berat dan karenanya penyerapan oksigen akan meningkat. Namun, suatu titik akhirnya tercapai di mana tubuh tidak dapat mengambil oksigen lagi. Pada titik ini, nilainya disebut sebagai pengambilan oksigen maksimal.

Mengambil oksigen maksimum atau volume oksigen maksimum yang dapat digunakan dalam 1 menit selama latihan maksimum atau lengkap. Itu diukur sebagai mililiter oksigen yang digunakan dalam 1 menit per kilogram berat badan. Penyerapan VO2max  atau oksigen maksimal adalah salah satu faktor yang dapat menentukan kapasitas atlet untuk melakukan olahraga berkelanjutan dan terkait dengan daya tahan aerobik. (Mooren, 2012: 891)

VO2max mudah diukur; masih dianggap sebagai tes laboratorium standar emas untuk mengukur kebugaran aerobik (Gambetta, 2007).

Jika Anda bekerja sekeras yang Anda bisa, mungkin berjalan lebih cepat dan lebih cepat di atas treadmill sampai Anda lelah, pada akhirnya Anda akan mencapai puncak kemampuan Anda untuk menggunakan oksigen untuk membuat ATP. Ini dikenal sebagai pengambilan oksigen maksimal atau VO2max. (Hatzel et al., 2014)

Definisi Penyerapan oksigen maksimal (VO2max) merupakan penyerapan oksigen tertinggi yang dicapai selama latihan, sebagaimana dibuktikan oleh kegagalan untuk meningkatkan VO2max meskipun terjadi peningkatan output daya VO2max, oleh karena itu, kekuatan maksimal yang dapat diekspresikan oleh mekanisme aerobik. 

Kapan VO2max digunakan ?

VO2max secara luas dianggap sebagai pengukuran tunggal terbaik dari daya tahan kardiorespirasi atau kebugaran aerobik (Kenney et al., 2012). VO2max sering diganti dengan puncak VO2, yang mewakili VO2 tertinggi yang diperoleh saat kelelahan selama latihan tambahan. Dengan kata lain, secara tegas istilah VO2max harus digunakan hanya ketika dataran tinggi dalam relasi output daya VO2 selama tes latihan tambahan tercapai, lihat Gambar dibawah ini (Mooren, 2012):

Mengukur panas yang dihasilkan selama berolahraga itu sulit. Untungnya, oksigen, yang digunakan untuk membuat ATP, juga dapat diukur. Sebagai hasilnya, itu telah menjadi variabel utama ketika menentukan intensitas kerja dan kalori yang terbakar.

Konsentrasi oksigen di udara dapat digunakan untuk mengukur panas. Udara di sekitar Anda adalah sekitar 21 % oksigen. Sekarang ambil nafas dan buang napas. Konsentrasi oksigen di udara yang baru Anda hembuskan hanya sekitar 16 % oksigen. Ke mana sisa oksigen pergi? Anda menggunakannya di mitokondria untuk membuat ATP!

Kenapa VO2Max sangat penting ?

Olahraga meningkatkan kebutuhan energi jauh melebihi tingkat metobelisme istirahat (resting metabolic rate disingkat RMR). Metabolisme meningkat dalam proporsi langsung dengan peningkatan intensitas latihan (Kenney et al., 2012). 

Dengan mengukur berapa banyak udara yang Anda bergerak setiap menit (menghirup masuk dan keluar), Anda kemudian dapat menentukan volume oksigen (VO2) yang Anda gunakan setiap menit. VO2 biasanya diukur dalam liter yang digunakan per menit (L / mnt). Saat istirahat, VO2 mungkin serendah 0,25 L / mnt; selama latihan puncak, mungkin setinggi 6,0 L / mnt (Hatzel et al., 2014).

Bagaimana kerja VO2Max ?

VO2 On-Kinetics
Pola peningkatan penyerapan O2 selama transisi dari tingkat metabolisme yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, biasanya dari kondisi istirahat ke kondisi olahraga. Besarnya respons dijelaskan oleh amplitudo perubahan VO2 dari diam ke kondisi mantap latihan. Tingkat kenaikan ini biasanya digambarkan oleh konstanta waktu (waktu yang diperlukan untuk? 63% dari perubahan yang terjadi).
Dalam istilah aljabar, VO2max adalah produk dari cardiac output maksimal yang dikalikan dengan perbedaan konsentrasi O2 arteriovenous maksimal. Untuk variabel-variabel ini, perbedaan utama antara populasi, terutama yang bertanggung jawab atas perbedaan VO2max, terletak pada curah jantung maksimal, dan lebih khusus lagi dalam volume stroke maksimal, yang dapat sekitar 100% lebih tinggi dalam daya tahan yang sangat terlatih. atlet dibandingkan dengan kontrol tidak terlatih yang sehat. 

Di sisi lain, denyut jantung maksimal biasanya hanya terkait dengan usia subjek / atlet. Atas konsep-konsep ini, dalam mata pelajaran yang sehat, dan pada atlet faktor pembatas utama VO2max biasanya diidentifikasi dalam kapasitas maksimal pengiriman O2 ke otot rangka oleh sistem kardiovaskular, sedangkan difusi O2 perifer dan kapasitas oleh serat otot rangka untuk memanfaatkan O2 akan mewakili faktor yang relatif kecil (meskipun masih signifikan). Situasi dapat berbeda dalam kondisi seperti latihan dengan massa otot kecil, atau hipoksia, dll. Sedangkan untuk pasien, setiap gangguan dalam mekanisme yang mengatur jalur kompleks untuk O2, dari udara sekitar ke mitokondria dari serat otot rangka (paru dan alveolar ventilasi, difusi O2 alveolo-kapiler, ketidakcocokan ventilasi / perfusi, fungsi kardiovaskular, kapasitas angkut darah O2, kapilarisasi otot dan difusi O2 perifer, metabolisme oksidatif otot rangka), dapat menurunkan VO2max.

Nilai oksigen pada sistem pernapasan 
Otot-otot diafragma, tulang rusuk, dan perut melakukan kedua pekerjaan elastis untuk menghasilkan ekspansi paru-paru selama inspirasi dan kerja resistif untuk menghasilkan peningkatan aliran inspirasi dan ekspirasi, yang belakangan meningkat secara tidak linier pada latihan yang sangat tinggi. intensitas saat aliran menjadi sepenuhnya bergolak. Dengan demikian, kerja total otot pernafasan meningkat beberapa kali lipat dari istirahat ke latihan intensitas tinggi. Perkiraan biaya oksigen dari peningkatan pekerjaan ventilasi ini rata-rata 1,8 mL.VO2 . L-1 VE . min- 1 selama latihan sedang. Setelah itu, biaya oksigen untuk bernapas naik tidak sebanding dengan peningkatan VE dan rata-rata 2,9 mL VO2 . L-1 VE . min- 1 pada latihan maksimal. Sebagai bagian dari total tubuh VO2, biaya oksigen untuk olahraga hiperpnea rata-rata 3% hingga 5% selama latihan sedang dan 8% hingga 10% pada ˙VO2max pada dewasa muda yang tidak terlatih (40-50 mL . Kg-1 . min-1). Nilai untuk otot pernapasan VO2 selama latihan maksimal adalah variabel di antara subyek, dengan beberapa subjek terlatih (VO2max > 60 mL .  Kg-1 .  Min-1) yang membutuhkan 13% hingga 16% dari total VO2max ( 47). (Peter A. Farrell, Michael Joyner, 2012), lebih jelasnya lihat gambar dibawah berikut:
Keterangan Gambar: 
Pekerjaan dan nilai oksigen untuk bernafas pada tingkat yang berbeda dari ventilasi kondisi-mantap selama latihan di empat jenis subjek berbeda. Pada pria berusia 30 tahun yang tidak terlatih pada pengambilan oksigen maksimum (VO2max), biaya oksigen untuk pernapasan mendekati 10% dari VO2max, sedangkan pada pria berusia 70 tahun yang sangat terlatih dan wanita berusia 30 tahun (pada VO2max sebanding) sebagai pria muda yang tidak terlatih) biaya kerja dan oksigen untuk bernafas secara signifikan lebih tinggi. Pada atlit muda yang sangat terlatih yang bekerja pada VO2max yang jauh lebih tinggi (75 mL . kg-1 .  min-1) dan pada ventilasi yang jauh lebih tinggi, biaya oksigen untuk pernapasan mendekati 15% hingga 16% dari VO2max.

Tekanan maksimum pada laju aliran dan volume paru apa pun juga ditunjukkan untuk inspirasi dan kedaluwarsa. Untuk orang dewasa muda yang sehat dengan VO2max normal dan VE maksimum sekitar 110 hingga 120 mL . kg-1 .  min-1, batas mekanis maksimum dari aliran-volume amplop tidak tercapai, bahkan selama latihan maksimal. EELV tetap di bawah level istirahat dan EILV adalah 70% hingga 80% dari TLC. 

Perubahan pola pernapasan saat berolahraga. Spirogram di sebelah kiri adalah dari subjek istirahat yang menunjukkan volume tidal normal, ekspirasi maksimal ke volume residu, kemudian inspirasi maksimal untuk kapasitas paru total. Dengan olahraga ringan hingga berat (pada subjek yang tidak terlatih dan sangat terlatih) peningkatan ventilasi dicapai dengan meningkatkan frekuensi pernapasan dan volume pasut. Volume tidal meningkat dengan melanggar pada volume cadangan ekspirasi dan inspirasi. Volume paru ekspirasi yang berkurang dipertahankan pada latihan maksimal pada subjek yang tidak terlatih (VO2max 45 mL. kg-1. min-1). Pada subjek terlatih (VO2maks 75 mL. kg-1. min-1), ventilasi, frekuensi pernapasan, dan volume pasut semua lebih tinggi, dan pada latihan maksimal, volume paru akhir ekspirasi meningkat.

Tes dan Pengukuran VO2Max

Tes untuk mengukur v.VO2max mudah dijalankan dan ditafsirkan. Pada lintasan standar 400 meter dalam kondisi angin sepoi-sepoi, seorang atlet berlari sejauh mungkin dalam enam menit. Rekam jarak lari dalam meter. Untuk menentukan v.VO2max, ambil jarak lari dalam meter dan bagilah dengan waktu lari dalam detik. Waktu selalu 360 detik (6 menit 3 60 detik = 360). Misalnya, jika atlet mampu menempuh jarak 1.560 meter, maka itu akan dibagi dengan 360, menunjukkan v.VO2max sebesar 4,3 meter per detik. Sangat penting untuk mengulang tes setiap enam hingga delapan minggu untuk menentukan level baru. Penelitian dan praktik menunjukkan bahwa variabel-variabel ini meningkat cukup cepat. Bahkan, dalam penelitian awal Billat menggunakan enam latihan per minggu yang terdiri dari empat sesi mudah dan satu sesi di v.VO2max dan satu sesi di ambang laktat selama empat minggu, ia bisa mendapatkan peningkatan 3 persen dalam v.VO2max dan 6 peningkatan persen dalam ekonomi berjalan (Anderson 2000 dalam Gambetta, 2007).

Daftar Pustaka : 
  • Dick, F.W. 2014. Sports Training Principles 6th Edition. Bloomsbury.
  • Gambetta, V. 2007. Athletics Development : the art & science of functional sports conditioning.
  • Hatzel, B. & Albrecht, R. n.d. Kinesiology for Dummies.
  • Hatzel, B., Albrecht, R. & Glass, S. 2014. Kinesiology for Dummies. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
  • Kenney, W., Wilmore, J. & Costil, D. 2012. Physiology of Sport and Exercise 5th edition.
  • Mooren, F.C. 2012. VO2max. Encyclopedia of Exercise Medicine in Health and Disease. Springer.
  • Peter A. Farrell, Michael Joyner, V.C. 2012. ACSM’s Advanced Exercise Physiology Second Edition. 2nd ed. ed. American College of Sports Medicine. Tersedia di https://www.researchgate.net/publication/304951799_ACSM’s_advanced_exercise_physiology_Second_edition.

Saturday 11 January 2020

PENGERTIAN OLAHRAGA, RUANG LINGKUP DAN INDUK ORGANISASI OLAHRAGA

PENGERTIAN OLAHRAGA
  • Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial. (UU RI Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional)
  • Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan prestasi puncak dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila (Cholik Mutohir).

RUANG LINGKUP OLAHRAGA

Di dalam UU RI Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional di jelaskan juga mengenai bentuk-bentuk Olahraga, yaitu:
  1. Olahraga Pendidikan adalah pendidikan jasmani dan olahraga yang dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani.
  2. Olahraga Rekreasi adalah olahraga yang dilakukan oleh masyarakat dengan kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan nilai budaya masyarakat setempat untuk kesehatan, kebugaran, dan kegembiraan.
  3. Olahraga Prestasi adalah olahraga yang membina dan mengembangkan olahragawan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan.
  4. Olahraga Amatir adalah olahraga yang dilakukan atas dasar kecintaan atau kegemaran berolahraga.
  5. Olahraga Profesional adalah olahraga yang dilakukan untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk uang atau bentuk lain yang didasarkan atas kemahiran berolahraga.
  6. Olahraga Penyandang Cacat adalah olahraga yang khusus dilakukan sesuai dengan kondisi kelainan fisik dan/atau mental seseorang.

Di dalam UU RI Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional pada Pasal 17, 18, 19, dan 20 di jelaskan juga mengenai Ruang Lingkup Olahraga, yaitu:
Olahraga Pendidikan
Olahraga pendidikan diselenggarakan sebagai bagian proses pendidikan yang dilaksanakan baik pada jalur pendidikan formal  maupun nonformal melalui kegiatan intrakurikuler dan/atau ekstrakurikuler. Olahraga pendidikan dimulai pada usia dini pada jalur pendidikan formal yang dilaksanakan pada setiap jenjang pendidikan  dan dibimbing oleh guru/dosen olahraga dan dapat dibantu oleh tenaga keolahragaan yang disiapkan oleh setiap satuan pendidikan. 
Olahraga Rekreasi
Olahraga rekreasi dilakukan sebagai bagian proses pemulihan kembali kesehatan dan kebugaran yang dapat dilaksanakan oleh setiap orang, satuan pendidikan, lembaga, perkumpulan, atau organisasi olahraga. Olahraga Rekreasi bertujuan: memperoleh kesehatan, kebugaran jasmani, dan kegembiraan; membangun hubungan sosial; atau melestarikan dan meningkatkan kekayaan budaya daerah dan nasional.  
Olahraga Prestasi
Olahraga prestasi dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan potensi olahragawan dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa yang dilakukan oleh setiap orang yang memiliki bakat, kemampuan dan potensi untuk mencapai prestasi. Olahraga prestasi dilaksanakan melalui proses pembinaan dan pengembangan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan dengan dukungan pengetahuan dan teknologi keolahragaan serta Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat berkewajiban menyelenggarakan, mengawasi, dan mengendalikan kegiatan olahraga prestasi.

ORGANISASI OLAHRAGA

Organisasi Olahraga adalah sekumpulan orang yang menjalin kerja sama dengan membentuk organisasi untuk penyelenggaraan olahraga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 
  1. Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee/IOC) adalah sebuah organisasi yang berbasis di Lausanne, Swiss, yang didirikan oleh Pierre de Coubertin pada 1894 untuk mengadakan kembali Olimpiade Kuno yang diadakan di Yunani, dan melangsungkan ajang olahraga ini setiap empat tahunnya. 
  2. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) atau Komite Olahraga Nasional (KON) adalah lembaga otoritas keolahragaan di Indonesia. Badan Keolahragaan tertinggi di Indonesia. 
  3. Komite Olimpiade Indonesia (KOI) adalah komite olimpiade nasional (national olympic committee) Indonesia. KOI melaksanakan keikutsertaan Indonesia dalam pekan olahraga internasional seperti Olimpiade, Asian Games, SEA Games, dan lain-lain. 

INDUK ORGANISASI OLAHRAGA INDONESIA

Induk organisasi cabang olahraga adalah organisasi olahraga yang membina, mengembangkan, dan mengoordinasikan satu cabang/jenis olahraga atau gabungan organisasi cabang olahraga dari satu jenis olahraga yang merupakan anggota federasi cabang olahraga internasional yang bersangkutan. 
Berikut Induk Organisasi cabang Olahraga di Indonesia:
  1. Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI)
  2. Equestrian Federation of Indonesia (EFI)
  3. Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (FORKI)
  4. Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI)
  5. Federasi Aero Sport Indonesia (FASI)
  6. Federasi Olahraga Kabaddi Seluruh Indonesia (FOKSI)
  7. Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI)
  8. Federasi Hockey Indonesia (FHI)
  9. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI)
  10. Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi)
  11. Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)
  12. Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI)
  13. Ikatan Motor Indonesia (IMI)
  14. Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI)
  15. Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (Ikasi)
  16. Indonesia Woodball Association (IWbA)
  17. Indonesia Jetsport Boating Association (IJBA)
  18. Indonesia Jetsport Boating Association (PP. IJBA / Jetski Indonesia )
  19. Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat)
  20. Muaythai Indonesia (MI)
  21. Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI)
  22. Persatuan Panahan Indonesia (Perpani)
  23. Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI)
  24. Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI)
  25. Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi)
  26. Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina)
  27. Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi)
  28. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI)
  29. Persatuan Senam Indonesia (Persani)
  30. Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI)
  31. Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI)
  32. Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (Porlasi)
  33. Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin)
  34. Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI)
  35. Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (Pelti)
  36. Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI)
  37. Persatuan Gulat Amatir Seluruh Indonesia (PGSI)
  38. Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI)
  39. Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi)
  40. Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia (PSTI)
  41. Persatuan Squash Indonesia (PSI)
  42. Persatuan Ski Air Seluruh Indonesia (PSASI)
  43. Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI)
  44. Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi)
  45. Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI)
  46. Persatuan Boling Indonesia (PBI)
  47. Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI)
  48. Persatuan Golf Indonesia (PGI)
  49. Persatuan Rugby Union Indonesia
  50. Persatuan Gateball Seluruh Indonesia
  51. Persatuan Cricket Indonesia (PCI)
  52. Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia (Perbasasi)
  53. Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia (Perkemi)
  54. Taekwondo Indonesia (TI)
  55. Wushu Indonesia (WI)
Induk Organisasi Olahraga Fungsional, yaitu:
  1. Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (SIWO PWI)
  2. Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (Bapomi)
  3. Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (Bapopsi)
  4. Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC)
  5. Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi)
  6. Perhimpunan Pembina Kesehatan Olahraga Indonesia (PPKORI)
  7. Badan Pembina Olahraga Korps Pegawai Republik Indonesia (Bapor Korpri)
Dan, Induk organisasi lain dalam ruang lingkup keolahragaan adalah :
  1. ISORI - Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia
  2. KON - Komite Olahraga Nasional
  3. DISPORA - Dinas Pemuda dan Olahraga


Sumber:
http://www.sjdih.depkeu.go.id/fulltext/2005/3TAHUN2005UU.htm
http://pengertiandefinisi.com/pengertian-olahraga-menurut-pendapat-para-ahli/
https://id.wikipedia.org/wiki/Komite_Olahraga_Nasional_Indonesia
https://id.wikipedia.org/wiki/Komite_Olimpiade_Indonesia#Organisasi
https://id.wikipedia.org/wiki/Komite_Olimpiade_Internasional
http://ok-review.com/pengertian-komite-olahraga-nasional-indonesia/

Saturday 4 January 2020

Cara Menggunakan Program Mendeley

Program Mendeley

Mendeley adalah program komputer dan web yang dikembangkan Elsevier untuk mengelola dan berbagi makalah penelitian, mencari data penelitian, dan bekerja sama secara daring (Mendeley - Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas)


Bagi Mahasiswa dan Dosen, program Mendeley sangat berguna untuk mendapatkan, mencari  atau mengumpulkan referensi / daftar pustaka karya ilmiah dalam menyusun Makalah, Jurnal, Skripsi, Tesis, Disertasi, dll., tanpa perlu lagi mengetikkan satu-persatu referensi ke dalam daftar pustaka, artinya Otomatis gaess,,,. Program Mendeley ini juga dapat kita operasikan baik secara online maupun offline, serta Program Mendeley dapat terhubung ke Microsoft Word kita.

Sebelum memulai perlu dipahami kembali bahwa Program Mendeley ini terbagi dua yaitu Mendeley Desktop dan Mendeley Web. Mendeley desktop artinya program mendeley yang telah kita download dan terinstall ke laptop/PC yang berarti tersedia secara offline sedangkan Mendeley Web artinya program mendelay yang tersedia secara online.

Cara Menggunakan Program Mendeley


  • Sambil menunggu program mendeley desktop terdownload, buat akun mendeley di Pojok kanan atas



  • Setelah di Download, selanjutnya Instal program mendeley di Laptop atau PC Komputer sampai selesai.
  • Buka Program Mendeley Desktop di Laptop atau PC Komputer. Mendeley siap digunakan
  • Tampilannya sebagai berikut:



Singkron Microsoft Word
  • Pilih menu 'tools' pada program mendeley desktop, klik “install MS Word Plugin”


  • Ikuti petunjuknya sampai selesai
  • Buka Microsoft word dan pilih menu 'References'
  • jika berhasil maka di Microsoft word akan tampak seperti gambar dibawah ini:



Singkron Akun Mendeley Web 
  • Untuk singkron ke Mendeley Web (Akun Elsevier, google, mozilla, dsb.), Klik ‘Profil’ (contoh: akun profil saya; 'Arham'bagian atas ujung paling kanan 


  • Secara otomatis akan mengantar kita ke Akun Mendeley Web kita (peramban menggunakan google). contoh gambar akun mendeley web saya:


  • Jika belum punya akun, register dulu. (pengaturan sinkron exstension juga di peramban yang digunakan)

Cara memasukkan literatur secara offline (Mendeley desktop)
  • Klik file atau gambar kertas +, pada mendeley desktop
  • Pilih 'add files' (jurnal, buku dll, yang pernah di download sebelumnya)

  • Masukkan file sesuai dengan kebutuhan kalian, biasanya format file berbentuk Pdf. seperti contoh dibawah ini:


  • kemudian, Fokus ke kolom sebelah kanan (nomor 2) diatas; pada bagian itu kita dapat mengedit seperti: nama penulis, judul, nama judul, dan lain-lain sesuai kebutuhan kita
  • Pada Kolom tengah (nomor 1) jika kita klik, maka buku/jurnal akan terbuka pada sheet kedua; dibagian ini kita bisa membaca buku / jurnal yang kita masukkan ke mendeley. contoh seperti gambar dibawah ini:


Cara memasukkan literatur secara online (Mendeley Web)
  • Pada program mendeley desktop, klik literature search (Nomor 1), kemudian masukkan judul buku, jurnal dll yang kalian inginkan (Nomor 2). (Contoh Pendidikan Jasmani) kemudian klik ENTER. Maka Literature pendidikan jasmani secara online akan tersedia di mendeley.
  • Untuk melihat literature secara online, klik ‘view research katalog entry for this papers’ (Nomor 3)
  • Maka literature kalian akan tersedia di internet sesuai peramban yang kalian gunakan (google, mozilla dan lain-lain)

  • Klik add to library maka otomatis akan ter-save ke program mendeley kita dalam bentuk web referensi dan kalau beruntung, akan tersedia buku, jurnal dll. dalam bentuk pdf. bisa kita download dengan gratis.



Cara memasukkan literatur Mendeley ke Microsoft Word 
  • Buka Microsoft Word, pilih menu ‘references’
  • Klik ‘insert citation’ (nomor 1) ketik nama pengarang atau judul buku pada kolom search


  • Untuk memunculkan Daftar pustakanya; klik ‘insert Bilbliography’ (nomor 2)
  • Done
Demikianlah yang dapat saya share pada kesempatan kali ini Selamat belajar dan Semoga bermanfaat, terima kasih telah mampir di blog saya dan salam pendidikan jasmani dan olahraga,,..




Daftar pustaka:

Mendeley - Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Mendeley. Accessed 2 Jan. 2020.

Thursday 2 January 2020

ATP-PC

ATP adalah singkatan dari adenosine triphosphate. Tubuh manusia berjalan dengan satu sumber bahan bakar yaitu ATP. Manusia dapat menyimpan hanya sejumlah kecil ATP (seperti baterai). Dengan kata lain ATP merupakan sumber energi tubuh manusia. Beberapa sistem ini bekerja dengan cepat dan geram, memberikan pasokan ATP yang hampir instan; yang lain menyediakan energi pada tingkat yang lebih lambat. Beberapa terkuras dengan cepat; yang lain bisa pergi selamanya. Beberapa kegiatan dan gerakan olahraga menggunakan satu sistem lebih dari yang lain (Hatzel & Albrecht, 2014).

Ketika konsep pelatihan sistem energi pertama kali diartikulasikan oleh Fox dan Mathews dalam buku Interval Training (1974), itu adalah terobosan besar. Konsep pelatihan sistem energi itu disajikan sedemikian rupa sehingga konsep yang pernah menjadi domain eksklusif ilmuwan di laboratorium diartikulasikan dalam istilah yang pelatih dan praktisi dapat terapkan (Gambetta, 2007).

Komponen penting yang mendorong reaksi kimia adalah katalis. Di dalam tubuh manusia, katalis ini adalah enzim. Dibutuhkan reaksi dengan air dan bantuan enzim khusus - ATPase - untuk membebaskan energi dari ATP. Setelah energi dibebaskan (bersama dengan fosfat hilang), Anda berakhir dengan adenosin difosfat, atau ADP (bagian di difosfat berarti "two"). Ketika ADP hadir, sistem mulai hidup untuk mengisi kembali ATP. Inilah yang terjadi: 
ATP + H2O → ADP + Pi = ENERGI 
ADP + P * → ATP + Creatine
Di otot, ada penyimpanan senyawa, creatine phosphate (CrP), yang terdiri dari creatine plus sejumlah besar fosfat. Jika, setelah ATP dipecah menjadi ADP, fosfat ditambahkan ke ADP, sehingga merekonstitusi ATP, maka proses produksi energi dapat dilanjutkan. Penyimpanan fosfat akan diperlukan untuk ini, dan di situlah CrP masuk. Saat ATP terurai menjadi ADP, fosfat dapat diambil dari toko CrP untuk membuat ATP. Proses ini dapat dilanjutkan sampai toko CrP habis. Hidrolisis CrP untuk mensintesis ulang ATP diatur oleh enzim creatine kinase (Dick, 2014).



Sayangnya, energi ini tidak dapat diproduksi dengan cepat. Otot hanya menyimpan cukup ATP selama sekitar dua detik kerja. Hal ini dibatasi oleh kemampuan tubuh untuk memecah karbohidrat dan lemak dengan bantuan oksigen dan, pada gilirannya, kemampuan tubuh untuk mengirimkan oksigen yang dibutuhkan ke otot. (Gambetta, 2007). Diperlukan pemulihan 25-30 detik untuk resintesis sekitar setengah dari cadangan energi CrP ATP. Senyawa energi ini di otot kadang-kadang dikenal sebagai simpanan fosfagen dan ini mengacu pada CrP plus ATP (Dick, 2014). Untungnya, tubuh kita memiliki cara untuk menghasilkan energi berkelanjutan yang kita butuhkan. 

Untuk memahami cara kerja sistem energi tubuh manusia, kita mencontoh cara kerja kompresor udara. Kompresor udara adalah tangki besar yang menampung udara yang dapat  digunakan untuk mengisi ban atau menjalankan mesin. Pada tangki ini terdapat motor kecil yang mengompres udara dan pengukur yang menunjukkan jumlah tekanan udara di dalam tangki.

Sekarang bayangkan tangki penuh dengan udara bertekanan dan motor dimatikan. Bagaimana caranya menghidupkan kompresor kembali? Sederhana: kita menggunakan udara! Saat kita menggunakan udara, tekanan di dalam tangki turun dan tekanan di dalamnya menandakan motor menyala untuk mengompres lebih banyak udara.

Sistem energi tubuh Kita pada dasarnya mengikuti prinsip yang sama. Kita hanya memiliki dua detik ATP yang tersimpan di tubuh kita, tetapi ketika kita menggunakannya, kita menghidupkan sistem energi tubuh kita untuk mulai membuat ATP. Energi untuk bekerja dapat diturunkan secara anaerob atau aerobik. Sistem analitik menghasilkan energi dengan sangat cepat, menghasilkan output daya yang besar tetapi singkat. Tetapi terbatas dalam jumlah total energi yang dapat dihasilkannya. Sistem anaerob menyebabkan penumpukan asam laktat dan menipisnya simpanan PC (fosfokreatin), yang menghasilkan pengurangan daya yang cepat dan penurunan kecepatan yang signifikan. Sistem aerobik justru sebaliknya. Ini dapat menghasilkan energi dalam jumlah besar. Sayangnya, energi ini tidak dapat diproduksi dengan cepat. Ini dibatasi oleh kemampuan tubuh untuk memecah karbohidrat dan lemak dengan bantuan oksigen dan, pada gilirannya, kemampuan tubuh untuk mengirimkan oksigen yang dibutuhkan ke otot (Gambetta, 2007)

Menurut Martens (2012) terdapat tiga sistem energi atau metode untuk menghasilkan ATP:
  1. Sistem fosfagen
  2. Sistem anaerob
  3. Sistem aerobik
Sistem fosfagen/Phosphocreatine (ATP-PC)
Adenosine triphosphate (ATP) adalah satu-satunya bahan bakar yang dapat digunakan sel untuk berkontraksi otot, membangun jaringan baru, dan mengangkut mineral dan limbah ke seluruh tubuh. Ketika tubuh membutuhkan ledakan energi untuk daya atau kecepatan, ia menggunakan ATP yang disimpan dalam sel, tetapi sel-sel hanya dapat menyimpan sekitar 80 hingga 100 gram ATP, cukup untuk bahan bakar berjalan satu menit atau lima hingga enam - sprint kedua. Ketika ATP dikonsumsi, phosphocreatine (PCr), yang disimpan dalam sel, meregenerasi ATP pada tingkat yang sangat tinggi melalui proses kimia yang kompleks. Ketika ATP dan PCr habis, asam laktat — produk sampingan dari pemecahan ATP terakumulasi dalam sel, yang memberi sinyal kepada rekan setimnya, sistem anaerob dan aerob, untuk ikut membantu. Karena PCr, atau hanya creatine, sangat penting untuk menghasilkan ATP, atlet dalam kekuatan dan kecepatan olahraga tidak ingin kehabisan asam amino esensial ini. Dengan demikian, banyak atlet saat ini mengambil creatine sebagai suplemen. Sistem ini memberikan dorongan energi langsung yang hanya berlangsung beberapa detik.

Sistem anaerob / Glikolisis anaerob
Ketika PCr dan dengan demikian ATP habis dan tubuh membutuhkan lebih banyak energi, sistem anaerob (juga dikenal sebagai sistem laktat) melompat untuk mengisi kembali ATP. Ia melakukannya dengan menggunakan karbohidrat sebagai bahan bakar, yang disimpan di hati dan otot dalam bentuk glikogen atau sebagai glukosa dalam aliran darah. Glikogen hanyalah sekelompok molekul glukosa yang bergabung bersama. Sistem ini memberikan energi untuk aktivitas yang berlangsung lebih dari beberapa detik (mendekati lima menit) tetapi itu masih membutuhkan banyak ATP dengan cepat.
Glikolisis
Proses kimia memecah glikogen menjadi glukosa disebut glikolisis dan dapat terjadi sangat cepat atau lebih lambat. Glikolisis cepat (kadang-kadang disebut glikolisis anaerob) berarti memecah glikogen menjadi glukosa sedemikian cepat sehingga menghasilkan asam laktat. Glikolisis lambat (juga disebut glikolisis aerob) menghindari produksi asam laktat. Glikolisis cepat bukanlah sumber energi yang efisien. Ini hanya menghasilkan 2 molekul ATP per molekul glukosa sedangkan glikolisis lambat menghasilkan 38 molekul ATP per molekul glukosa. Glikolisis lambat tidak dianggap sebagai bagian dari sistem anaerob. 
Sistem glikolisis yang cepat memberikan energi hanya sekitar 60 hingga 90 detik ketika seseorang melakukan latihan yang intens. Kita mungkin berpikir bahwa itu adalah pasokan bahan bakar karbohidrat dalam bentuk glukosa dan glikogen yang membatasi produksi energi, tetapi itu tidak benar. Ini adalah musuh utama kita, asam laktat, akumulasi yang merupakan harga yang harus kita bayar ketika memproduksi energi terlalu cepat.
Asam laktat
Saat asam laktat menumpuk, ia menghambat produksi ATP, menghambat kekuatan yang dihasilkan oleh otot, dan merusak koordinasi. Inilah yang disebut: Sakit, secara harfiah, menyebabkan sensasi terbakar di otot. Ini juga merupakan sumber kelelahan fisik dan mental, ini bukan sumber nyeri otot setelah berolahraga. Berita baiknya adalah dengan melatih sistem glikolisis lambat, atlet dapat menunda produksi asam laktat, dan dengan melatih sistem glikolisis cepat, mereka dapat membersihkan asam laktat dari otot dan darah dengan lebih cepat.
Apa yang terjadi dengan asam laktat dalam tubuh? Sebagian besar dihilangkan dari otot melalui aliran darah dengan sangat cepat, dan luar biasa itu diubah menjadi bahan bakar untuk sistem energi aerobik. Ketika ahli fisiologi olahraga mempelajari hal ini, mereka menyadari bahwa olahraga ringan setelah latihan yang intens - disebut pemulihan aktif - membuat darah terus bergerak dan dengan demikian membantu menghilangkan asam laktat dari tubuh, alasan penting untuk mendapatkan pendinginan yang tepat.
Ketika intensitas latihan tinggi, tubuh memproduksi asam laktat lebih cepat daripada yang bisa membersihkannya. Asam laktat kemudian dengan cepat menumpuk di dalam darah. Titik di mana laktat darah mulai meningkat tiba-tiba disebut ambang laktat darah, atau ambang anaerob. Atlet yang sangat terkondisikan mengalami ambang batas ini pada 70 hingga 80 persen dari kapasitas latihan aerobik maksimum mereka, dibandingkan dengan atlet yang tidak terlatih, yang melakukannya pada 50 hingga 60 persen dari kapasitas aerobik maksimum mereka. Ambang laktat penting untuk dipahami karena merupakan indikator kapan seorang atlet beralih dari sistem energi yang didominasi aerobik ke dominan anaerob.
Sistem Energi Aerobik / Sistem Oksidatif
Untuk penggunaan jangka panjang yang efisien dari energi yang disimpan tubuh, sistem energi aerobik (glikolisis lambat) menang dengan mudah. Sistem ini menggunakan karbohidrat dan lemak, dikombinasikan dengan oksigen, untuk menghasilkan glukosa, yang diubah menjadi ATP. Saat istirahat, lemak menyediakan sekitar 67 persen energi untuk kehidupan sehari-hari dan karbohidrat sekitar 33 persen. Perhatikan bahwa hanya sistem energi aerobik yang menggunakan lemak untuk energi; lemak tidak dibakar oleh fosfagen atau sistem anaerob. Selama tubuh memiliki oksigen yang cukup, ia membakar lemak dan meminimalkan penggunaan pasokan karbohidrat yang terbatas, yang disimpan dalam bentuk glikogen. Dengan cara ini, tubuh secara cerdik menjaga glikogen tersedia sebagai cadangan untuk latihan intensif. Meskipun, ketika sistem energi aerobik menggunakan lemak sebagai bahan bakar, perlu karbohidrat untuk mengubah lemak menjadi glukosa dan karena itu bergantung pada sistem glikolisis cepat untuk menjaga ketersediaan karbohidrat tersedia untuk tujuan ini.

Kita cenderung berpikir negatif tentang lemak karena banyak dari kita menyimpan kelebihan lemak akibat makan terlalu banyak dan berolahraga terlalu sedikit. Namun, lemak adalah sumber energi yang sangat baik, menghasilkan 9 kalori energi per gram dibandingkan dengan hanya 4 kalori per gram dari karbohidrat. Jika seorang atlet memiliki berat 90 kilogram (198 pon) dan memiliki lemak tubuh 15 persen, ia akan memiliki 13,5 kilogram (30 pon) lemak. Jika dia bisa membakar semua lemaknya, dia akan memiliki energi 121.500 kalori — cukup untuk berlari 1.350 mil dengan kecepatan lambat atau bermain tenis selama 225 jam. Protein sebagai sumber energi. Protein digunakan terutama untuk pemeliharaan, perbaikan, dan pertumbuhan jaringan. Namun, protein dapat digunakan untuk produksi glukosa jika simpanan glikogen terlalu rendah, yang dapat terjadi ketika latihan terlalu keras dan tubuh tidak cukup istirahat dan diet untuk pulih. Kita tidak ingin membiarkan atlet menggunakan protein sebagai sumber energi. Ketika mereka melakukannya, mereka mengkanibal jaringan otot mereka dan bekerja terlalu keras untuk ginjal mereka. Sistem ini menyediakan energi untuk aktivitas yang tidak membutuhkan ATP dengan laju yang sangat tinggi tetapi membutuhkan ATP untuk bertahan lama sekali tanpa kelelahan.

Rekap dan interaksi sistem
Pemahaman kita tentang ketiga sistem energi ini akan membantu kita merencanakan dan melakukan program pelatihan kebugaran energi yang sehat. Jadi mari kita rekap bagaimana tiga sistem ini bekerja:
  1. Ketika tubuh membutuhkan ledakan energi segera, itu membakar ATP yang disimpan dalam sel, melakukannya secara anaerob. Phosphocreatine (PCr) melalui proses kimia yang kompleks dengan cepat mengisi kembali ATP. Sistem ini dapat menjadi sumber energi utama selama sekitar 5 hingga 60 detik tergantung pada intensitas kegiatan.
  2. Saat PCr dan dengan demikian ATP habis, tubuh memanggil sistem anaerob untuk mengisi kembali ATP. Itu melakukannya dengan menggunakan karbohidrat sebagai bahan bakar, yang diubah menjadi glukosa untuk menghasilkan ATP. Ketika proses ini terjadi dengan cepat dan tanpa oksigen, ia menghasilkan asam laktat yang membatasi pergerakan. Sistem ini menyediakan energi selama sekitar 60 hingga 90 detik.
  3. Untuk pasokan energi jangka panjang, sistem aerobik memenuhi kebutuhan dengan menggunakan karbohidrat dan lemak, dikombinasikan dengan oksigen, untuk menghasilkan glukosa, yang diubah menjadi ATP.

Mungkin terdengar seolah-olah ketiga sistem energi ini bekerja secara independen satu sama lain, tetapi bukan itu masalahnya. Apakah seorang atlet berlari 100 meter atau bersepeda 100 mil, ketiga sistem berkontribusi untuk total kebutuhan energinya, tetapi proporsi dari masing-masing bervariasi sesuai dengan aktivitas. Sistem fosfagen adalah sumber utama dalam sprint 100 meter, dan sistem aerobik dominan dalam kegiatan bersepeda 100 mil.

Semua sistem energi bergantung pada ATP. Ini diperlukan untuk gerakan yang diproduksi secara aerobik atau anaerob, tergantung pada intensitas latihan. Semua sistem dapat dilatih ke berbagai tingkatan. Seperti disebutkan sebelumnya, yang paling penting adalah fokus pada efisiensi dan interaksi sistem daripada mencoba menargetkan satu sistem untuk pengembangan. Kita akan mencapai ini dengan mendistribusikan pekerjaan kita dalam rencana pelatihan untuk mencocokkan tuntutan pengkondisian olahraga dengan kebutuhan atlet individu.

Dalam tuning yang sama, manusia akan mengembangkan kapasitas dan daya aerobik sebagaimana diperlukan dalam konteks meningkatkan kapasitas kerja secara keseluruhan. Ini semua sangat sejalan dengan pendekatan sistem untuk pengembangan atletik (Sports). Tidak ada satu komponen yang secara signifikan lebih penting daripada yang lain; yang penting adalah bagaimana masing-masing komponen cocok dengan konteks kesatuan yang utuh untuk setiap atlet.

Daftar Pustaka:
  • Dick, F.W. 2014. Sports Training Principles 6th Edition. Bloomsbury.
  • Gambetta, V. 2007. Athletics Development : the art & science of functional sports conditioning.
  • Hatzel, B. & Albrecht, R. 2014. Kinesiology for Dummies.
  • Martens, R. 2012. Successful Coaching. IV ed. Developing Your Coaching Philosophy. Human Kinetics.

MOTOR LEARNING

MOTOR LEARNING 🎯Olahraga dalam pendidikan merupakan kegiatan belajar yang dapat menghasilkan kemampuan, keterampilan, atau keahlian gerak d...

OnClickAntiAd-Block