Thursday 8 December 2016

METODE PEMBELAJARAN GERAK

 (METODE PEMBELAJARAN GERAK)

A. Faktor Belajar Gerak

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses kegiatan belajar. Faktor-faktor itu ada yang terdapat pada diri kita sendiri, tetapi ada pula yang di luar kita. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi proses belajar ada tujuh (Hutabarat), yaitu:

1. Faktor Kecerdasan

Yang dimaksud dengan kecerdasan ialah kemampuan seseorang melakukan kegiatan berpikir yang sifatnya rumit dan abstrak. Tingkat kecerdasan dari tiap-tiap siswa atau individu tidak sama  yaitu  ada yang tinggi, ada yang sedang dan ada pula yang rendah. Orang yang tingkat kecerdasannya tinggi dapat mengolah gagasan yang abstrak, rumit dan sulit. Hal ini  dilakukan dengan cepat tanpa banyak kesulitan-kesulitan dibandingkan dengan orang yang kurang cerdas. 

Orang yang cerdas itu dapat memikirkan dan mengerjakan lebih banyak, lebih cepat dengan tenaga yang relatif sedikit.Kecerdasan adalah suatu kemapuan yang dibawa dari lahir sedangkan pendidikan tidak dapat meningkatkannya, tetapi hanya dapat mengembangkannya. Tingginya kecerdasan seseorang bukanlah suatu jaminan bahwa ia akan berhasil menyelesaikan pendidikan dengan baik. Keberhasilan dalam belajar bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya.

2. Faktor Belajar

Faktor belajar adalah semua segi kegiatan belajar, misalnya kurang dapat memusatkan perhatian kepada pelajaran yang sedang dihadapi, tidak dapat menguasai kaidah yang berkaitan sehingga tidak dapat membaca seluruh bahan yang seharusnya dibaca.Siswa kurang menguasai cara-cara belajar efektif dan efisien.

3. Faktor Sikap

Banyak pengaruh faktor sikap terhadap kegiatan dan keberhasilan siswa dalam belajar. Sikap dapat menentukan apakah seseorang akan belajar dengan lancar atau tidak, tahan lama belajar atau tidak, senang pelajaran yang di hadapinya atau tidak dan banyak lagi yang lain. Di antara sikap yang dimaksud di sini adalah minat, keterbukaan pikiran, prasangka atau kesetiaan.Sikap yang positif terhadap pelajaran merangsang cepatnya kegiatan belajar.

4. Faktor Kegiatan

Faktor kegiatan ialah faktor yang ada kaitannya dengan kesehatan, kesegaran jasmani dan keadaan fisik seseorang.Sebagaimana telah diketahui, badan yang tidak sehat membuat konsentrasi pikiran terganggu sehingga menganggu kegiatan belajar.

5. Faktor Emosi dan Sosial

Faktor emosi seperti tidak senang dan rasa suka.  Faktor sosial seperti persaingan dan kerja sama.  Faktor-faktor ini sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar. Ada di antara faktor ini yang sifatnya mendorong terjadinya belajar tetapi ada juga yang menjadi hambatan belajar efektif.

6. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan ialah keadaan dan suasana tempat seseorang belajar.Suasana dan keadaan tempat belajar itu turut menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar. Kebisingan, bau busuk dan nyamuk  menganggu pada waktu belajar dan keadaan yang serba kacau di tempat belajar sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar. Hubungan yang kurang serasi dengan teman dapat menganggu kosentrasi belajar.

7. Faktor Guru

Kepribadian guru, hubungan guru dengan siswa, kemampuan guru mengajar dan perhatian guru terhadap kemampuan siswanya turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Guru yang kurang mampu dengan baik dalam mengajar dan kurang menguasai bahan yang diajarkan dapat menimbulkan rasa tidak suka kepada yang diajarkan dan kurangnya dorongan menguasai pada siswa. Sebaliknya guru yang pandai mengajar menimbulkan pada diri siswa rasa menggemari bahan yang diajarkannya sehingga tanpa disuruh pun siswa banyak menambah pengetahuannya di bidang itu dengan membaca buku-buku, majalah dan bahan cetak lainnya. Guru dapat menimbulkan semangat belajar yang tinggi dan dapat juga mengendorkan keinginan belajar. Siswa yang baik berusaha mengatasi kesulitan ini dengan memusatkan perhatian kepada bahan pelajaran, bukan kepada kepribadian gurunya.

B. Fase Belajar Gerak

Proses belajar  bertujuan  menguasai gerakan keterampilan berlangsung dalam 3 tahapan atau fase.
Tiga fase belajar gerak menurut FITTS dan POSNER.

1.  Fase Kognitif

Fase kogtinif merupakan tahap awal dalam belajar gerak keterampilan.  Di sini pelajar berusaha  memahami bentuk gerakan yang dipelajari,  kemudian mencoba melakukan berulang-ulang.  Pada fase ini aktivitas kognitif atau aktivitas berpikir masih menonjol karena harus  memahami bentuk gerakan dan bagaimana harus melakukannya. 

Pada saat pelajar mencoba berulang-ulang melakukan gerakan, sangat dipengaruhi oleh fikirannya. Ia berusaha menampilkan bayangan gerakan yang ada dalam pikirannya ke dalam gerakan yang nyata,  pada awalnya seringkali pelajar masih mengalami kesulitan. Namun, cara berulang-ulang, pelajar akan mampu melakukannya dengan bentuk gerakan yang makin menyerupai  gerakan yang dibayangkannya.

2.  Fase Asosiatif

Fase asosiatif merupakan  fase kedua dalam belajar gerak keterampilan.  Yang membatasi antara fase kognitif dan fase asosiatif adalah rangkaian gerak yang biasa dilakukan oleh pelajar.  Pada fase asosiatif, pelajar sudah sampai pada taraf merangkaikan bagian-bagian gerakan secara keseluruhan.

Fase asosiatif disebut juga fase menengah. Fase ini ditandai dengan tingkat penguasaan gerakan,  pelajar sudah mampu melakukan gerakan-gerakan dalam bentuk rangkaian yang tidak tersendat-sendat pelaksanaannya. Dengan tetap mempraktikkan berulang-ulang, pelaksanaan gerakan akan semakin efisien, lancar, sesuai dengan keinginannya, dan kesalahan gerakan semakin berkurang.

Untuk meningkatkan penguasaan dan kebenaran gerakan, pelajar perlu tahu kesalahan yang masih diperbuatnya.Ia bisa tahu kesalahan yang diperbuatnya melalui pemberitahuan orang lain yang mengamatinya, merasakan gerakan yang dilakukan, atau melihat gambar rekaman pelaksanaan gerakan. Dari kesalahan gerakan yang dilakukan pelajar perlu mengarahkan perhatiannya membetulkan selama mempraktikkan berulang-ulang.Kemampuan mengenali kesalahan gerakan sangat diperlukan untuk peningkatan penguasaan gerak. Untuk meningkatkan pénguasaan gerak diperlukan kesempatan  berpraktik berulang-ulang.

Pada fase asosiatif, dengan cara melakukan rangkaian gerakan secara berulang-ulang, penguasaan atas gerakan akan  semakin meningkat. Peningkatan penguasaan atau keterampilan gerak akan tampak dalam hal: gerakan semakin lancar,  sesuai dengan kemauan atau bayangan gerakan yang ingin dilakukan, kesalahan gerakan semakin berkurang  dan konsisten, dan pelaksanaannya semakin halus. Pada fase asosiatif ini juga merangkaikan bagian-bagian gerakan menjadi rangkaian gerakan secara terpadu merupakan unsur penting menguasai berbagai gerakan keterampilan. Setelah rangkaian gerakan bisa dilakukan dengan baik, maka peserta didik segera bisa dikatakan memasuki fase belajar otonom.

3.  Fase Otonom

Fase otonom merupakan fase akhir dalam pembelajaran keterampilan gerak. Pada fase ini pelajar mencapai tingkat penguasaan gerakan tertinggi. Pelajar bisa melakukan rangkaian gerakan keterampilan secara otonom dan secara otomatis. Gerakan bisa dilakukan secara otonom artinya pelajar mampu melakukan gerakan keterampilan tertentu walaupun pada saat yang bersamaan ia harus melakukan aktivitas lain.

Gerakan otomatis adalah gerakan  dilakukan secara otomatis  yang bisa dilanjutkan seperti yang dikehendaki walaupun tidak memikirkan unsur-unsur bentuk gerakan yang ingin dilakukan.  Misalnya pada pemain sepak bola yang sedang mendribling, begitu ia mengamati bahwa bolanya akan direbut oleh lawan maka secara otomatis dia akan menjauhkan bola tersebut baik itu dengan cara mendribling lebih cepat atau melakukan gerakan membelokan bola (Caping).

Untuk mencapai fase otonom, diperlukan praktik gerakan berulang secara teratur dalam jumlah ulangan yang banyak dalam waktu lama.  Gerakan yang telah mampu dilakukan secara otomatis, sulit diubah polanya. Oleh karena itu, bagi pelatih olahraga perlu berhati-hati melatihkan bentuk gerakan tertentu. Setelah dibaca fase otonom kelancaran dan kebenaran gerakan masih dapat ditingkatkan, namun peningkatannya tidak lagi secepat pada fase-tase belajar sebelumnya. Pada fase ini gerakan sudah menjadi otomatis, untuk mengubah bentuk gerakan cukup sulit memerlukan ketekunan.

Mengingat sulitnya mengubah bentuk gerakan setelah gerakan menjadi otomatis, maka pembetulan gerakan harus dilakukan pada fase belajar sebelumnya. Sejak awal pelajar harus diarahkan melakukan gerakan-gerakan yang benar secara mekanis, agar setelah fase otonom gerakannya benar-benar efisien.

Perlu dijelaskan bahwa gerakan otomatis tidak sama dengan gerakan yang efisien atau gerak yang terampil. Gerakan yang otomatis belum tentu efisien. Gerakan yang salah secara mekanis dapat menjadi otomatis apabila terus dilakukan herulang-ulang. Sedangkan gerakan yang benar dan dilakukan secara otomatis akan menjadi gerakan yang efisien.

C. Belajar Gerak

Kondisi belajar gerak adalah suatu keadaan yang diperlukan agar proses belajar gerak dapat berlangsung ke arah pencapaian tujuan.  Keadaan yang diperlukan itu meliputi keadaan pada diri pelajar dan keadaan yang ada di luar diri pelajar.

Kondisi belajar gerak meliputi kondisi internal dan  eksternal yang meliputi:
1. Kondisi Internal
Kondisi internal adalah keadaan pada diri pelajar yang diperlukan selama proses belajar berlangsung. Selama proses belajar gerak, pelajar perlu:
  • Berusaha mengingat bentuk bagian-bagian gerakan yang dipelajari 
  • Berusaha mengingat urutan rangkaian bagian-bagian gerakan dalam gerakan keterampilan secara keseluruhan.
Pada awal proses belajar gerak, pelajar harus memahami gerakan, yang perlu dipahami kemudian diingatnya gerakan dan urutan rangkaiannya.  Istilah mengingat dalam pembahasan proses belajar gerak tidak hanya menyangkut ingatan kognitif, tetapi juga ingatan gerak. Ingatan gerak adalah kemampuan melakukan kembali gerakan-gerakan yang pernah dilakukan.
2. Kondisi Eksternal
Kondisi eksternal dalam belajar gerak adalah keadaan luar diri pelajar yang mempengaruhi proses belajarnya.  Kondisi internal yang utama dalam belajar gerak adalah berbentuk stimulus yang diberikan oleh guru atau pelatih. Stimulus tersebut diberikan dalam ; 
  • Pemberian Penjelasan Gerak
Pemberian penjelasan mengenai gerakan atau disebut juga sajian instruksi verbal perlu diperhatikan oleh guru secara singkat dan jelas, dengan menggunakan kata-kata yang sederhana agar mudah dimengerti.  Hal-hal penting yang perlu dijelaskan adalah unsur-unsur bentuk gerakan dan kunci cara melakukannya, dan urutan gerakan yang seharusnya dilakukan.
  • Pemberian Contoh Gerakan 
Pemberian contoh gerakan merupakan rangkaian pemberian penjelasan gerakan.  Pemberian contoh gerakan akan memberikan gambaran yang nyata dan jelas mengenai apa dan bagaimana gerakan dilakukan. 
Contoh gerakan sebagai model yang akan ditiru oleh pelajar seharunya dilakukan dengan benar dan diulang untuk memberi kesempatan memahaminya. Apabila gerakan cukup rumit, hendaknya ditunjukan unsur-unsur pokoknya dan kunci-kunci gerakan yang bisa mempermudah gerakan.
Setelah pelajar diberi penjelasan dan contoh gerakan secukupnya, mereka diinstruksikan mempraktikan gerakan.  Mempraktikan gerakan merupakan kegiatan utama yang melibatkan aktivitas fisik.  Pelajar harus melakukan berulang-ulang gerakan yang dipelajari.
Pada awal mempraktikan gerakan yang baru, pelajar kadang mengalami kesulitan. Tetapi dengan mempraktikan berulang ulang kesulitan akan berkurang dan penguasaan gerakan semakin meningkat. Meningkatnya penguasaan gerakan keterampilan ditandai oleh indikator-indikator : 
  • Prinsip pengaturan giliran. 
  • Gerakan semakin terkontrol sesuai dengan kemauannya. 
  • Kesalahan gerakan makin berkurang, 
  • Penampilan terbaiknya dicapai semakin konsisten.

D. Prinsip & Praktik Belajar Penjas

Agar peningkatan penguasaan keterampilan, gerak dicapai secara optimal, perlu dilakukan pengaturan kondisi praktik yang baik melalui pemberian intruksi yang tepat. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengaturan kondisi praktik.

1). Prinsip Pengaturan Giliran
Pengaturan giliran adalah mempraktikkan gerakan  yang akan berpengaruh terhadap kecepatan peningkatan penguasaan gerakan.  Kepada semua pelajar perlu diberikan kesempatan yang cukup secara merata jangan sampai ada yang memperoleh giliran terlalu berlebihan dan ada yang terlalu kurang. Kadang-kadang ada pelajar yang terlalu bersemangat dan ada yang terlalu pasif. Dalam hal itu, pelatih perlu mengendalikannya. Kepada yang terlalu bersemangat diarahkan agas bisa mengatur pemanfaatan tenaganya secara efisien tanpa menjadikan semangatnya menurun, sedangkan yang terlalu pasif perlu diberi motivasi agar mau berlatih.
Pengaturan giliran erat kaitannya dengan pengaturan beban belajar atau beban latihan. Ada 2 model pengaturan giliran, yaitu: 
  • Distributed condition adalah prinsip pengaturan giliran mempraktikan gerakan, pengaturan waktu  praktik dan  istirahat secara bergantian. 
  • Condition adalah prinsip pengaturan giliran mempraktikan gerakan yaitu pelajar harus mempraktikan gerakan secara terus-menerus tanpa  istirahat.
Model pengaturan giliran praktik bertujuan menguasai gerakan keterampilan. Model Distributed Condition efektif daripada model Massed condition.
2). Prinsip Beban Belajar Meningkat
Pengaturan peningkatan beban belajar gerak dapat diwujudkan dalam bentuk pengaturan materi belajar : 
  • Dimulai dari yang mudah ke yang sukar. 
  • Dimulai dari yang sederhana ke yang kompleks. 
  • Dimulai dari gerakan yang kurang memerlukan tenaga ke yang lebih banyak memerlukan tenaga.
3). Prinsip Kondisi Praktik Bervariasi
Di dalam belajar gerak, mempraktikan gerakan merupakan tahapan belajar paling berat karena harus melakukan aktivitas fisik yang cukup lama. Di samping faktor kelelahan, faktor kejemuan yang merupakan hambatan belajar yang paling besar. Apabila kejemuan  menghinggapi diri pelajar, maka sulit  untuk bisa segera menguasai gerakan yang dipelajari. Oleh karena itu, pelatih perlu mengatur kondisi praktik agar tidak mudah menimbulkan kejemuan. Cara yang bisa dilakukan adalah mengatur kondisi praktik yang bervariasi.
Variasi kondisi praktik bisa dibuat dalam bentuk:
  • Dalam satu jam latihan jangan hanya mempraktikan satu pola gerak saja, melainkan perlu mempraktikan beberapa pola gerak dengan mempertimbangkan kesesuaian pola-pola gerak untuk dipadukan dan waktu yang tersedia. 
  • Praktik dilakukan dalam pemberian  bermacam-macam formasi. 
  • Memperhatikan pemberian waktu istirahat secara berkala 
  • Memberikan  cukup kebebasan dalam upaya  pelajar  menguasai gerakan.
4. Prinsip Pemberian Motivasi dan Menyemangati
Seseorang yang melakukan sesuatu dipengaruhi oleh kondisi kejiwaannya.  Seseorang mau berbuat sesuatu apabila didorong oleh adanya alasan tertentu.  Demikian juga dalam belajar gerak. Motivasi yang dinilai paling kuat adalah motivasi yang bersifat intrinsik yaitu yang timbul dari dalam diri pelajar sendiri.  Walaupun motivasi intrinsik adalah yang lebih baik, namun motivasi ekstrinsik tetap harus diberikan kepada pelajar. Prinsip pemberian hadiah atau pemberian hukuman bisa diterapkan. Bisa juga melakukan pujian, penghargaan atau pengakuan atas prestasi yang telah dicapai.  
Penyampaian Umpan balik
Umpan balik adalah informasi yang diperoleh oleh pelajar setelah mempraktikan gerakan mengenai benar atau salahnya gerakan yang telah dilakukan.  Informasi tersebut sangat penting agar pelajar tahu mengenai seberapa baik ia telah mampu melakukan gerakan. Dengan demikian ia menjadi tahu  perbaikan apa yang seharusnya diusahakan selanjutnya. Berdasarkan sumbernya umpan balik dapat dibedakan menjadi 2 macam.
  • Umpan balik internal
 Yaitu umpan balik yang diperoleh secara langsung pada saat gerakan dilakukan.
  • Umpan balik external
 Yaitu umpan balik yang diperoleh melalui informasi yang didengar.
Pemberian umpan balik adalah penting, tetapi hendaknya dilakukan secukupnya saja karena apabila terlalu banyak umpan balik bisa menjemukan bagi pelajar. Secara kognitif sebenarnya pelajar sudah tahu kesalahannya.

Referensi:

http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._OLAHRAGA/196308241989031-AGUS_MAHENDRA/Modul_Perkembangan_%26_Belajar_Motorik_Agus_Mahendra/Modul_11-_Pembelajaran_Gerak.pdf di akses tanggal 8 Desember 2016

No comments:

Post a Comment

MOTOR LEARNING

MOTOR LEARNING ğŸŽ¯Olahraga dalam pendidikan merupakan kegiatan belajar yang dapat menghasilkan kemampuan, keterampilan, atau keahlian gerak d...

OnClickAntiAd-Block