Wednesday 7 March 2018

Pengembangan Kurikulum Penjas


Hai teman-teman pecinta pendidikan jasmani yang berbahagia dimanapun berada, postingan kali ini akan membahas mengenai kurikulum pendidikan jasmani.
Kurikulum pendidikan jasmani yang akan kita bahas saat ini adalah menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Semoga postingan kali ini lagi-lagi dapat menambah referensi mengenai kurikulum pendidikan jasmani. “Let’s Rock”
A.   KURIKULUM PENDIDIKAN JASMANI
Peningkatan keterampilan gerak, kesegaran jasmani, pengetahuan, dan sikap positif terhadap Pendidikan Jasmani sangat ditentukan oleh sebuah kurikulum yang baik. Kurikulum itu sendiri nampaknya terlalu abstraks untuk didefinisikan secara tegas dan jelas sebab di dalam kurikulum tersebut termasuk segala sesuatu yang direncanakan dan diterapkan oleh para guru, baik secara implisit maupun eksplisit. Namun secara sederhana mungkin dapat dikatakan bahwa kurikulum pada dasarnya merupakan perencanaan dan  program jangka panjang tentang berbagai pengalaman belajar, model, tujuan, materi, metode, sumber, dan  evaluasi termasuk pula ‘apa’ dan  ‘mengapa’ diajarkan.
Seperti halnya sistem tubuh manusia, semua bagian dari kurikulum harus terpadu dan bekerja terarah untuk membantu mengembangkan anak didiknya yang sedang belajar. Pembuat kurikulum sudah selayaknya bertanya, apakah program yang ada dalam kurikulum itu sudah valid? Apakah kurikulum tersebut sudah dapat meraih tujuan yang akan dicapainya? Contoh pertanyaan yang lebih spesifik: apakah dengan kurikulum itu siswa lulusannya sudah mempunyai berbagai keterampilan gerak dasar dan siap untuk belajar keterampilan yang lebih bersifat spesifik dan kompleks pada jenjang berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah barang tentu sangat untuk sulit dijawab dengan tegas, namun demikian pertanyaan tersebut paling tidak akan membantu para guru dalam menentukan arah program yang dibuatnya. Tulisan ini dimaksudkan untuk melihat gambaran arah program Pendidikan Jasmani pada jenjang pendidikan SD/MI dikaitkan dengan beberapa karakteristik yang melandasinya, yang antara lain meliputi: asumsi dasar, pelaksanaan, dan keberhasilannya sehingga dengan demikian diharapkan kita dapat melihat berbagai isu dan alternatif pemecahannya.
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mengemukakan yang dimaksud dengan Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif setiap siswa.


1.Asumsi Dasar Program Pendidikan Jasmani
Asumsi dasar pada dasarnya adalah pijakan yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan dalam menyelenggarakan sesuatu. Asumsi dasar program Penddikan Jasmani merupakan pijakan yang kokoh yang dapat dipertanggungjawabkan dalam membuat dan menyelenggarakan program penjas. Tiga asumsi dasar program Penddikan Jasmani meliputi:
a.Program Pendidikan Jasmani dan program olahraga mempunyai tujuan yang berbeda
Pembuatan program olahraga terutama ditujukan untuk mereka yang betul-betul mempunyai keinginan atau tertarik untuk mengkhususkan diri pada salah satu atau beberapa cabang olahraga dan berkeinginan untuk memperbaiki kemampuannya agar dapat berkompetisi dengan orang yang lain yang mempunyai keinginan dan minat yang sama pula.
Sebaliknya, pembuatan program Penddikan Jasmani ditujukan untuk setiap anak didik (dari mulai anak yang berbakat sampai anak yang yang sangat kurang keterampilannya; dari mulai anak yang tertarik dan tidak tertarik sama sekali). Tujuan utama pembuatan program tersebut adalah menyediakan dan memberikan berbagai pengalaman gerak untuk membentuk fondasi gerak yang kokoh yang pada akhirnya diharapkan dapat mempengaruhi gaya hidupnya yang aktif dan sehat (active life style). Olahraga mungkin akan merupakan salah satu bagian dari program Penddikan Jasmani, akan tetapi bukan satu-satunya pilihan.

b.Anak-anak bukanlah ‘miniature’ orang dewasa
Kemampuan, kebutuhan, perhatian, dan minat anak-anak berbeda dari kemampuan, kebutuhan, minat, dan perhatian orang dewasa. Oleh karena itu, sudah barang tentu kurang cocok apabila pembelajaran dikonotasikan seperti menuangkan air dari gelas yang satu ke gelas yang lainnya. Para guru tidak cukup dengan memberikan program aktivitas jasmani  atau olahraga untuk orang dewasa kepada anak-anak.
Demikian juga pengalaman latihan yang diperoleh para guru sewaktu kuliah belum tentu cocok diberikan kepada anak didiknya. Anak-anak membutuhkan program yang secara khusus dibuat sesuai dengan minat, kemampuan, dan kebutuhannya (Developmentally Appropriate Practice/DAP).

c.Anak-anak yang kita ajar sekarang tidak untuk dewasa sekarang
Para pendidik mempunyai tantangan yang cukup besar dalam mempersiapkan anak didik di masa yang akan datang, yang belum bisa didefinisikan dan dimengerti secara jelas. Atau paling tidak, dalam berbagai aspek, dunia nanti mungkin akan sangat berbeda dengan dunia yang ada sekarang. Program Penddikan Jasmani yang ada sekarang berusaha memperkenalkan anak didik pada dunia yang ada sekarang dan juga sekaligus mempersiapkan anak didik untuk hidup dalam dunia yang belum pasti di masa yang akan datang. Dengan kata lain program tersebut berusaha membantu siswa belajar bagaimana belajar (learning how to learn) dan membantu siswa menyenangi proses discovery dan eksplorasi tantangan-tantangan baru dan berbeda dalam domain fisik.
Aktivitas fisik dan olahraga di masa yang akan datang mungkin sangat berbeda dengan aktivitas fisik dan olahraga yang ada dan popular pada masa sekarang. Oleh karena itu program yang ada sekarang selayaknya mempersiapkan anak didik dengan keterampilan-keterampilan gerak dasar yang sangat diperlukan untuk setiap aktivitas fisik, baik yang sedang popular pada masa sekarang maupun aktivitas fisik yang mungkin akan ditemukan di masa yang akan datang.
Penguasaan berbagai keterampilan gerak dasar oleh para siswa akan mendorong perkembangan dan perbaikan berbagai keterampilan fisik yang lebih kompeks, yang pada akhirnya akan membantu siswa memperoleh kepuasan dan  kesenangan dalam melakukan aktivitas fisiknya.

2.Karakteristik Program Pendidikan Jasmani
Sehubungan dengan anggapan dasar tersebut di atas, maka program dan  penyelenggaraan program Pendidikan Jasmani hendaknya mencerminkan anggapan dasar tersebut di atas. Dua pedoman yang seing digunakan untuk dapat mencerminkan anggapan dasar tersebut antara lain adalah “Developmentally Appropriate Practices” (DAP) dan “Instructionally Appropriate Practices” (IAP).
a.Developmentally Appropriate Practices (DAP)
Maksudnya adalah tugas ajar yang memperhatikan perubahan kemampuan anak dan tugas ajar yang dapat membantu mendorong perubahan tersebut. Dengan demikian tugas ajar tersebut harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik yang sedang belajar. Tugas ajar yang sesuai ini harus mampu mengakomodasi setiap perubahan dan  perbedaan karakteristik setiap individu serta mendorongnya ke arah perubahan yang lebih baik.
b.Instructionally appropriate practices (IAP)
Maksudnya adalah tugas ajar yang diberikan diketahui merupakan cara-cara pembelajaran yang paling baik. Cara pembelajaran tersebut merupakan hasil penelitian atau pengalaman yang memadai yang memungkinkan semua anak didik memperoleh kesempatan dan keberhasilan belajar secara optimal. Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang karakteristik pembelajaran penjas tersebut, berikut ini dipaparkan komponen-komponen kurikulum yang harus dilihat kesesuaiannya.

3.Keberhasilan Program Pendidikan Jasmani
Untuk mengetahui apakah program pendekatan Pendidikan Jasmani yang kita gunakan tersebut cukup berhasil atau masih perlu disempurnakan, maka diperlukan suatu evaluasi. Untuk keperluan itu banyak kriteria yang dapat digunakan. Untuk itu, khususnya di Amerika, NASPE (National Association for Sport and Physical Education, 1992) telah menentukan “Physically Educated Person” sebagai salah satu kriterianya. Kriteria ini menjabarkan keberhasilan program Pendidikan Jasmani ke dalam 20 karakteristik yang diklasifikasikan ke dalam lima katagori dan merupakan penjabaran dari pencapaian tujuan jangka pendek (short term) dan jangka panjang (long term) dari program Pendidikan Jasmani di sekolah-sekolah. Untuk lebih jelasnya karakteristik seseorang yang terdidik jasmaninya tersebut adalah sebagai berikut:
a. Memiliki keterampilan-keterampilan yang penting untuk melakukan bermacam-macam kegiatan fisik antara lain:
1) Bergerak dengan menggunakan konsep-konsep kesadaran tubuh, kesadaran ruang, usaha, dan hubungannya.
2) Menunjukkan kemampuan dalam aneka ragam keterampilan manipulatif, lokomotor, dan non lokomotor.
3) Menunjukkan kemampuan mengkombinasikan keterampilan manipulatif, locomotor dan non-locomotor baik yang dilakukan secara perorangan maupun dengan orang lain.
4)  Menunjukkan kemampuan pada aneka ragam bentuk aktivitas jasmani.
5) Menunjukkan penguasaanpada beberapa bentuk aktivitas jasmani.
6) Memiliki kemampuan tentang bagaimana caranya mempelajari keterampilan baru.

b. Bugar secara fisik
1) Menilai, meningkatkan, dan mempertahankan kebugaran jasmaninya.
2) Merancang program kesegaran jasmani sesuai dengan prinsip latihan tetapi tidak membahayakan.

c. Berpartisipasi secara teratur dalam aktivitas jasmani
1) Berpartisipasi dalam program pembinaan kesehatan melalui aktivitas jasmani minimal 3 x per minggu.
2) Memilih dan secara teratur berpatisipasi dalam aktivitas jasmani pada kehidupan sehari-hariya.

d. Mengetahui akibat dan manfaat dari keterlibatan dalam aktivitas jasmani
1) Mengidentifikasi manfaat, pengorbanan, dan kewajiban yang berkaitan dengan teraturnya partisipasi dalam aktivitas jasmani.
2) Menyadari akan faktor resiko dan keselamatan yang berkaitan dengan teraturnya  partispasi dalam aktivitas jasmnai.
3) Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengembangan keterampilan gerak.
4) Memahami bahwa hakekat sehat tidak sekedar fisik yang bugar.
5) Mengetahui aturan, strategi, dan perilaku yang harus dipenuhi pada aktivitas jasmani yang dipilih.
6) Mengetahui bahwa partisipasi dalam aktivitas jasmani dapat memperoleh dan meningkatkan pemahaman terhadap budaya majemuk dan budaya internasional.
7) Memahami bahwa aktivitas jasmani memberi peluang untuk mendapatkan kesenangan, menyatakan diri pribadi, dan berkomunikasi.

e. Menghargai aktivitas jasmani dan kontribusinya terhadap gaya hidup yang sehat
1) Menghargai hubungan dengan orang lain yang diperoleh dari partisipasi dalam aktivitas jasmani.
2) Hormat terhadap peraturan yang terdapat dalam aktivitas jasmani sebagai cara untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan sepanjang hayat.
3) Menikmati perasaan bahagia yang diperoleh dari partisipasi teratur dalam aktivitas jasmani.

B.   ISU KURIKULUM PENDIDIKAN JASMANI
Berdasarkan uraian di atas, secara teortis kita menyadari bahwa pembuatan dan pelaksanaan kurikulum Pendidikan Jasmani cenderung diarahkan dalam membantu anak didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan pendidikan. Namun demikian harapan tersebut tidak selalu dapat dengan mudah terwujud dalam pelaksanaannya.
Beberapa isu yang muncul dalam kurikulum Pendidikan Jasmani SMA/MA dapat kita telusuri berdasarkan beberapa sudut pandang sebagai berikut.

1) Isu Program
Isu program kurikulum SMA/MA dapat kita amati antara lain dari dua sisi, yaitu materi kurikulum dan distribusi alokasi waktunya. Walaupun tujuan Pendidikan Jasmani  di SMA/MA sangat sesuai dengan tujuan pendidikan pada umumnya, namun seringkali para guru terlena oleh materi kurikulumnya. Materi kurikulum SMA/MA pada dasarnya merupakan berbagai gerak dasar, yang antara lain dapat diklasifikasikan ke dalam cabang olahraga atletik, permainan, senam, beladiri, dan olahraga tradisional. Kenyataan ini sering menggiring para guru:
a. Memaksakan diri mengajar olahraga yang untuk beberapa siswa mungkin belum saatnya karena persyaratan fisik dan koordinasinya belum memadai sehingga PBM kurang DAP.
b. Berpegang teguh bahwa penguasaan keterampilan olahraga merupakan tujuan utama dari Pendidikan Jasmani di SMA/MA.
c. Kurang memperhatikan tujuan yang bersifat afeksi seperti kesenangan dan keceriaan.
d. Kurang menyadari bahwa olahraga merupakan media untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya.
e. Kurang memperhatikan aspek gerak dasar siswa yang bermanfaat bagi keterlibatannya dalam berbagai aktivitas sehari-hari untuk mengisi waktu luang dan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas fisik di sekolah maupun di masyarakat dan  pembentukan gaya hidup yang sehat.

Apabila dilihat dari distribusi alokasi waktunya yang hanya satu kali dalam satu minggu dengan lama 2 x 45 menit, kemungkinan besar tujuan yang berhubungan dengan pengembangan kesegaran jasmani tidak bisa tercapai. Program aktivitas untuk pengembangan kebugaran jasmani menuntut frekuensi 3 x dalam seminggu. Sementara itu perkembangan kesegaran jasmani siswa seringkali merupakan tujuan yang paling diharapkan tercapai dalam pendidikan jasmani.   Untuk itu program kesegaran jasmani yang realistik untuk situasi seperti ini perlu dipertimbangkan.

2) Isu Proses Pembelajaran
Beberapa isu yang berhubungan dengan proses belajar mengajar dan perlu mendapat perhatian para pelaksana di lapangan antara lain adalah sebagai berikut:
a) Pengembangan dan variasi aktivitas belajar yang diberikan cenderung miskin dalam hal pengembangan tujuan secara holistic dan cenderung didasarkan terutama pada minat, perhatian, kesenangan, dan latar belakang gurunya. Dengan kata lain, aktivitas belajar cenderung kurang didasarkan pada karakteristik anak didiknya, misal, terdiri dari sejumlah permainan olahraga untuk orang dewasa.
b) Aktivitas Pendidikan Jasmani yang diperoleh siswa cenderung terbatas. Siswa berpartisipasi pada permainan dan aktivitas yang jumlahnya relatif terbatas. Demikian juga kesempatan dan waktu aktif belajar untuk mengembangkan konsep dasar dan keterampilan gerakpun terbatas. Hasil penelitian Lutan dkk. (1992) mengungkapkan bahwa aktif belajar siswa SMA berkisar 1/3 dari seluruh alokasi Penjas.
c) Siswa diharuskan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas penjas, namun aktivitas tersebut kurang membantu siswa memahami dampaknya bagi peningkatan kebugaran jasmani dan gaya hidup sehatnya di masa yang akan datang.
d) Peranan unik dari Pendidikan Jasmani, yaitu belajar gerak dan belajar sambil bergerak, cenderung kurang dipahami oleh para pengajar dan kurang tercermin dalam pembelajaran.
e) Siswa kurang mendapat kesempatan untuk mengintegrasikan aktivitas Pendidikan Jasmani dengan pengalaman-pengalaman pendidikan pada bidang bidang lainnya.
f) Guru kurang mengembangkan aspek afektif karena kurang melibatkan aktivitas yang dapat mengembangkan keterampilan sosial, kerjasama, dan kesenangan siswa terhadap Pendidikan Jasmani.
g) Guru cenderung masih kurang memperhatikan kesempatan pemberian bantuan kepada siswa agar mengerti emosi-emosi yang dirasakannya pada waktu melakukan aktivitas Pendidikan Jasmani.
h) Siswa disuruh untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang terlalu mudah atau terlalu sukar yang dapat menyebabkan mereka bosan, frustrasi, atau melakukannya dengan salah.
i) Jumlah siswa dalam pelajaran penjas lebih dari jumlah siswa dalam kelas yang sebenarnya, misal, mengajar empat kelas sekaligus.
j) Siswa disuruh mengikuti pelajaran lain karena alasan-alasan lain atau sebagai hukuman atas perbuatannya dalam pelajaran Pendidikan Jasmani.
k) Proporsi jumlah waktu aktif belajar sangat terbatas sebab siswa harus menunggu giliran, memilih team, terbatasnya peralatan, atau karena permainan gugur yang pada  umumnya siswa yang lamban yang gugur.

3) Isu Penilaian
Evaluasi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan (integral) dari suatu proses belajar mengajar. Evaluasi berfungsi sebagai salah satu cara untuk memantau perkembangan belajar dan mengetahui seberapa jauh tujuan pengajaran dapat dicapai oleh siswa. Beberapa isu yang seringkali muncul daam pelaksanaan evaluasi antara lain adalah sebagai berikut:
a. Pelaksanaan penilaian belum begitu nampak terintegrasi dalam sebuah proses belajar mengajar. Pengecekan terhadap pemahaman siswa dan pemberian umpan balik yang memadai dalam rangka meningkatkan penguasaan materi oleh siswa sebagai salah satu bentuk evaluasi, nampaknya belum merupakan bagian yang menyatu dalam sebuah proses belajar mengajar. Guru merasa dikejar-kejar oleh bahan yang harus tuntas pada pertemuan itu tanpa memperhatikan apakah siswa sudah saatnya menerima materi berikutnya atau belum. Untuk itu seringkali guru memberikan evaluasi harian yang sifatnya formalitas saja, asal menyampaikan tanpa dijadikan umpan balik untuk perbaikan proses berikutnya.
b. Materi evaluasi terkadang kurang kurang relevan dengan materi yang diberikan pada  proses belajar mengajar. Kecenderungan untuk mengambil materi evaluasi dari bang-bang soal dari luar sekolah atau dari soal sebelumnnya tanpa terlebih dahulu direvisi atau disesuaikan dengan materi belajar yang sudah diberikan, memang merupakan cara yang cepat. Namun apabila hal itu tidak dilakukan dengan teliti, bisa jadi akan melemahkan validitas dan reliabilitas soalnya. Suatu soal yang valid pada kelompok siswa sekolah tertentu belum tentu valid untuk sekolah tempat kita mengajar. Tingkat keterampilan siswa, fokus pembelajaran, dan relevansi materi evaluasi seringkali merupakan aspek pokok validitas instrumen.
c. Situasi pelaksanaan evaluasi. Dalam situasi ujian tes tulis di kelas, hasil tes mungkin hanya diketahui oleh yang dites dan gurunya. Sementara itu, dalam tes penampilan di lapangan, hasil tes diketahui oleh semua orang. Semua siswa tahu siapa yang larinya paling lambat, siapa yang skor shootingnya paling rendah, dsb. Keadaan ini sedapat mungkin dihindari oleh para guru Penjas sehingga dapat memelihara kondisi perasaan siswa agar tetap positif.
d. Alokasi waktu pelajaran Penjas di sekolah amat terbatas untuk mengadakan pengetesan. Alokasi waktu pelajaran Penjas rata-rata satu kali perminggu, selama 2 x 45 menit dalam setiap semester (kurang lebih enam bulan) dengan pertemuan sebanyak 12 kali. Pengetesan sering menggunakan waktu yang cukup lama. Untuk melakukan satu butir tes kesegaran jasmani saja, missal tes lari 2,4 km (tes aerobik) diperlukan satu pertemuan bahkan kadang lebih.
e. Masalah lain adalah evaluasi seolah-olah hanya dapat dilakukan oleh ahli statistik, sebab statistik diperlukan untuk pengolahan data. Bila demikian guru harus bekerja ekstra keras, menyisihkan waktu dan mengeluarkan tenaga yang lebih banyak, dan  konsentrasi penuh pada evaluasi. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah bagaimana mengurangi masalah tersebut di atas?

4) Isu Jumlah dan Karakteristik Siswa
Guru penjas di SMA/MA sering dihadapkan dengan masalah jumlah siswa yang cukup banyak mulai dari Kelas X sampai Kelas XII, bahkan ditambah dengan siswa dari kelas paralel. Lebih rumit lagi karena yang dipelajari adalah sesuai dengan kemampuan fisik dan  perkembangan mental yang berbeda-beda. Guru Penjasorkes harus menangani siswa sebanyak 400 sampai 500 perminggunya.

5) Isu Sarana dan Prasarana Pembelajaran Penjas
Kurangnya sarana dan prasarana pembelajaran penjas merupakan salah satu isu yang cukup merata dan sangat terasa oleh para pelaksana penjas di lapangan. Pada umumnya sekolah-sekolah di Indonesia pada setiap jenjang pendidikannya selalu dihadapkan dengan permasalahan kekurangan sarana dan prasarana ini. Tidak sedikit sekolah di Indonesia, khususnya di daerah perkotaan tidak memiliki tempat atau lahan untuk melakukan aktivitas jasmani, khususnya yang berkaitan dengan olahraga misalnya lapangan. Walaupun ada, jumlahnya tidak proporsional dengan jumlah siswa, seringkali ditambah dengan kualitasnya yang kurang memenuhi tuntutan pembelajaran.
Sarana dan prasarana ini meliputi alat-alat, ruangan, dan lahan untuk melakukan berbagai aktivitas Pendidikan Jasmani, termasuk olahraga. Idealnya sarana dan prasarana ini harus lengkap, tidak hanya yang bersifat standar dengan kualitas yang standar pula, tetapi juga meliputi sarana dan prasarana yang sifatnya modifikasi dari berbagai ukuran dan berat ringannya. Modifikasi ini sangat penting untuk melayani berbagai kebutuhan tingkat perkembangan belajar anak didik di sekolah bersangkutan yang terkadang sangat beragam karakteristik kemampuannya.

6) Isu Keberhasilan Kurikulum Penjas
Keberhasilan kurikulum Pendidikan Jasmani pada setiap jenjang pendidikan sampai saat ini masih dirasakan samar. Ukuran yang digunakan oleh setiap orang dalam menafsirkan keberhasilan program masih bersifat samara dan cenderung bersifat lokal belum menyeluruh sebagaimana tercantum dalam tujuannya. Namun demikian salah satu indikator yang mungkin dapat kita telusuri adalah karakteristik para lulusannya.
Untuk itu kita dapat bercermin pada karakteristik lulusan Pendidikan Jasmani yang dijadikan patokan di beberapa negara maju, misalnya seperti yang dikemukakan oleh NASPE (National Association for Sport and Physical Education, 1992) yang intinya adalah sebagai berikut:
a) Memiliki keterampilan-keterampilan yang penting untuk melakukan bermacam-macam kegiatan fisik.
b) Bugar secara fisik.
c)  Berpartisipasi secara teratur dalam aktivitas jasmani.
d)  Mengetahui akibat dan manfaat dari keterlibatandalam aktivitas jasmani.
e)  Menghargai aktivitas jasmani dan kontribusinya terhadap gaya hidup yang sehat.

Demikianlah teman-teman pecinta pendidikan jasmani sekalian, pembahasan mengenai supervisi pendidikan jasmani yang penulis dapat postingkan. Terima kasih telah membaca semoga bermanfaat dan Penulis sangat mengharapkan kritikan dan masukan yang membangun untuk postingan selanjutnya.

C.   Contoh RPP dan Silabus Penjas

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Mata Pelajaran                     : Pendidikan, Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
Kelas/Semester                    : …………………..
Pertemuan ke                       : I dan II
Alokasi Waktu                      : 4 X 40 menit
Standar Kompetensi          : 1 Mempraktekkan berbagai teknik dasar permainan dan olahraga, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
Kompetensi Dasar    : 1.1  Mempraktekkan variasi dan kombinasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar lanjutan dengan koordinasi yang baik serta nilai kerjasama, toleransi, percaya diri, keberanian, menghargai lawan, bersedia berbagi tempat dan peralatan **)
Indikator                   :  Menendang dan   menghentikan bola dengan kontrol yang baik, Mengkoordinasikan  gerakan dengan teman satu tim, Bermain sepakbola dengan peraturan  yang dimodifikasi
     
I. Tujuan Pembelajaran      :
1.       Siswa dapat menendan dan menahan bola menggunakan kaki bagian dalam, luar dan punggung kaki dengan benar
2.       Siswa dapat melakukan koordinasi gerakan menendang dengan benar
3.       siswa dapat bermain sepakbola menggunakan peraturan yang dimodifikasi dengan benar

II. Materi AjarMateri Pokok: Permainan Sepakbola

III. Metode Pembelajaran

1.       Demonstrasi
2.       Bagian-bagian keseluruhan (Part-part whole)
3.       Saling menilai sesama teman (Resifrocal)
4.       Cakupan (Sistim mistar miring)

IV. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan I
a.       Pendahuluan (15 menit)
·         Berbaris, berdoa, presensi, apersepsi, motivasi dan penjelasan tujuan pembelajaran
·         Pemanasan
b.       Inti (45 menit)
·         Melakukan teknik menendang bola menggunakan kaki bagian dalam dan luar
·         Melakukan teknik menahan bola menggunakan kaki bagian dalam dan luar
·         Bermain dengan peraturan yang dimodifikasi
c.   Penutup (20 menit)
·     Pendinginan, berbaris, evaluasi proses pembelajaran dan pemberian tugas

Pertemuan II

a. Pendahuluan (15 menit)
·         Berbaris, berdoa, presensi, apersepsi, motivasi dan penjelasan tujuan pembelajaran
·         Pemanasan
c.       Inti (45 menit)
·         Penguatan teknik menendang dan menahan bola menggunakan kaki bagian dalam dan luar
·         Melakukan teknik menendang bola dengan punggung kaki
·         Koordinasi teknik dasar menendang dan menahan bola
·         Bermain bola dengan peraturan yang dimodifikasi
c.       Penutup (20 menit)
·     Pendinginan, berbaris, evaluasi proses pembelajaran dan pemberian tugas

V. Alat, Bahan dan Sumber Belajar

a.       Alat:
·         Bola kaki/sejenisnya
·         Tiang pancang

b.       Bahan:
·         Kain untuk membuat bola atau bahan yang lainnya yang tidak membahayakan
c.       Sumber Belajar:
·         Media cetak
·         Media elektronik
·         Media lingkungan

VI. Penilaian

a.       Tes
·         Kuis tentang konsep sepakbola
·         Praktek teknik menendang, menahan, dan bermain sepakbola
b.       Non tes
·         Tugas Pengamatan

…………………………………

Mengetahui                                                  Guru Mata Pelajaran
Kepala Sekolah

                …………..……………….                                         ..............................................                                                    







                                                                          SILABUS

Nama Sekolah                      : ………………………………….
Mata Pelajaran                     : Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
KelasSemester                     : ……………………………………..
Standar Kompetensi           : Mempraktekkan berbagai teknik dasar permainan dan olahraga, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya

Kompetensi Dasar
Materi Pokok
Pengalaman Belajar
Indikator
Penilaian
Alokasi Waktu
Sumber/
Bahan/
Alat
1.1  Mempraktekkan variasi dan kombinasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar lanjutan dengan koordinasi yang baik serta nilai kerjasama, toleransi, percaya diri, keberanian, menghargai lawan, bersedia berbagi tempat dan peralatan **)
Permainan Sepakbola
·  Menendang bola  dengan kaki bagian dalam, luar  dan punggung kaki, secara berpasangan berkelompok   dengan jarak  + 6 - 7 m
·  Melakukan koordinasi gerakan dengan teman satu tim
·  Bermain sepakbola  menggunakan 3-4 gawang kecil pada ukuran lapangan   basket/voli dengan  jumlah pemain 6 - 8 regu perkelompok

·    Menendang dan   menghentikan bola dengan kontrol  yang baik
·    Mengkoordinasikan  gerakan dengan teman satu tim
·    Bermain sepakbola dengan peraturan  yang dimodifikasi

·   Tes (Praktek)
·   Non Tes (pengamatan)

12 x 40
menit

·  Media cetak
·  Media
·  elektronik
·  Lingkungan
·  Bola kaki
·  Tiang pancang







Wassalam.
Salam olahraga’



Monday 5 March 2018

MANAJEMEN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA

MANAJEMEN PENDIDIKAN JASMANI & OLAHRAGA
(Arham Syahban, S.Pd., M.Pd.)

Halo rekan-rekan para pecinta pendidikan jasmani dan olahraga. semoga semuanya dalam kabar sehat jiwa dan raga. Postingan kali ini akan membahas mengenai manajemen penjas/OR. sederhananya "manajemen" sering kali kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kata manajemen berasal dari bahasa latin yaitu dari asal kata manus yang bararti tangan dan agere yang berarti melakukan. Akhirnya manajemen diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi menajemen atau pengelolaan.

Menurut Rahayu (2015:358) Manajemen bisa dikatakan sebagai suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengorganisasian pemakaian sumber manusia dan material.  Lebih lanjut oleh Fattah (2008) dalam Rahayu (2015:358) yang menyatakan “manajemen diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien”.

Menurut Daft dan Marcic, 1998 dalam Bucher and Krotee (2002) refer to management as the attainment of organizational goals in an effective and efficient manner through planning, organizing, leading, and controlling organizational resources (menyebut manajemen sebagai pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan efisien melalui perencanaan, pengorganisasian, memimpin, dan mengendalikan sumber daya organisasi).

A. PENGERTIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN JASMANI/OR

Menurut Jenkinson & Benson (2009:1) The primary role of physical education (PE) is to provide education of the physical and through the physical, including opportunities to develop the affective, cognitive and psychomotor domains (Peran utama pendidikan jasmani (PE) adalah untuk memberikan pendidikan fisik dan fisik, termasuk peluang untuk mengembangkan ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik).

Menurut Brown (2018:1) Sport management is an applied field of study in which the knowledge and expertise needed to be successful is acquired both inside and outside of the classroom (Manajemen olahraga adalah bidang studi terapan di mana pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk berhasil diperoleh baik di dalam maupun di luar kelas).

Menurut Liu dan Chin (2012:1) As the literature of sport management develops and expands, it becomes clear that the definition of sport management has been gradually evolving and expanding beyond athletic administration or managing sports (Ketika literatur manajemen olahraga berkembang dan berkembang, menjadi jelas bahwa definisi manajemen olahraga telah berangsur-angsur berkembang dan berkembang melampaui administrasi atletik atau mengelola olahraga).

The Sport Management Review Council (SMPAC), a representative council of The National Association of Sport and Physical Education (NASPE) and the North American Society of Pport Management (NASSM) (1993, 2000) further identify sport management as “the field of study offering the specialized training and education necessary for individuals seeking careers in any of the many segments of the industry (lebih lanjut mengidentifikasi manajemen olahraga sebagai "bidang studi menawarkan pelatihan khusus dan pendidikan yang diperlukan bagi individu yang mencari karir di salah satu dari banyak segmen industri"). (Bucher and Krotee (2002).

Manajemen pendidikan jasmani dan olahraga pada dasarnya merupakan seni atau proses dalam perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian/pengawasan sumber daya pendidikan melalui aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Atau dengan kata lain manajemen pendidikan jasmani/OR dapat diartikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan jasmani/OR untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

B. TUJUAN MANAJEMEN PENDIDIKAN JASMANI/OR

Tujuan Manajemen pendidikan jasmani dan olahraga, yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk mempelajari berbagai kegiatan yang membina sekaligus mengembangkan potensi anak, baik dalam aspek fisik, mental, sosial, emosional dan moral yang dalam proses kegiatannya terdapat perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian/pengawasan secara sistematis, efesien dan efektif. Apabila hal tersebut telah dilakukan diharapkan nantinya mampu mengembangkan potensi setiap anak setinggi-tingginya, secara sederhana dan selaras dengan tujuan pendidikan jasmani dan olahraga meliputi tiga ranah atau domain yakni kogntif, psikomotor, dan afektif sebagai satu kesatuan.

Menurut Liu dan Ching (2012:2)  The field of sport management involves three types of professions: educators, researchers, and practitioners. The practice of sport management began as early as people started to organize a sport or recreational activity or event, made equipment for or participated in a sport or recreational activity (Bidang manajemen olahraga melibatkan tiga jenis profesi: pendidik, peneliti, dan praktisi. Praktek manajemen olahraga dimulai sejak orang mulai mengatur kegiatan atau acara olahraga atau rekreasi, membuat peralatan untuk atau berpartisipasi dalam kegiatan olahraga atau rekreasi).

Sejalan dengan hal diatas tujuan manajemen  pendidikan jasmani/OR  secara umum karena para peserta didik tidak menutup kemungkinan ketika terjun di masyarakat nanti akan menjadi  kepala  sekolah, Kepala  bagian, Kepala Biro, menjadi pemimpin sebuah klub atau  perkumpulan olahraga, manajer perkumpulan olahraga, ketua panitia pertandingan/kompetisi, dan lain sebagainya. Semua itu jika ingin berhasil dalam  memimpinnya dan melaksanakan tugas yang diamanhkan harus menggunakan manajemen.

Tujuan di atas juga merupakan pedoman bagi guru pendidikan jasmani dan olahraga dalam melaksanaan tugasnya. Tujuan tersebut harus bisa dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang direncanakan secara matang, dengan berpedoman pada ilmu mendidik. Menurut Zipporah dkk, (2016: 5) The success of any curriculum implementation depends on the input from the classroom teacher. Hence, the first step in preparing teachers for implementing is getting them have training and in servicing in order to equip them with the necessary academic and professional competencies to be applied during the implementation of the curriculum (Keberhasilan implementasi kurikulum tergantung pada input dari guru kelas. Oleh karena itu, langkah pertama dalam mempersiapkan guru untuk implementasi adalah membuat mereka memiliki pelatihan dan pelayanan untuk membekali mereka dengan kompetensi akademik dan profesional yang diperlukan untuk diterapkan selama implementasi kurikulum). Dengan demikian, hal terpenting untuk disadari oleh guru pendidikan jasmani dan olahraga adalah bahwa ia harus menganggap dirinya sendiri sebagai pendidik, bukan hanya sebagai pelatih atau pengatur kegiatan.

C. FUNGSI MANAJEMEN PENDIDIKAN JASMANI/OR
  1. Perencanaan (Planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan mengandung banyak rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentu kegiatan berdasarkan jadwal yang ada. Sebagai penyelenggara manajemen pembelajaran di sekolah, guru pendidikan jasmani/OR  dituntut untuk merencanakan Analisis materi pelajaran (AMP), program tahunan (Prota), Program Semester (Promes), membuat pemetaan dan ikut serta menyusun Silabus dan membuat rencana program pembelajaran (RPP). Perencanaan pembelajaran pendidikan jasmani/OR harus dilakukan dengan baik karena merupakan langkah awal untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran. Dan begitupun sebaliknya apabila perencanaan pembelajaran kurang dipersiapkan dengan baik maka pelaksanaan pembelajaran akan berakhir dengan kegagalan.
  2. Pengorganisasian (Organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan sumber-sumber daya lainnya, pendelegasian, perencanaan dan pengembangan  dalam menerapkan fungsi pengorganisasian kearah tujuan. Selaras dengan perencanaan pembelajaran penjas/OR, pengorganisasian juga memiliki peran yang sangat penting dalam pembelajaran. Meskipun perencanaan sudah mantap tetapi dalam melaksanakan rencana nantinya apabila tidak di organisasikan secara baik pula hasilnya pun akan berakhir dengan kegagalan dalam pembelajaran. Seorang guru penjas/OR harus benar-benar siap materi, siap mental, siap metodologi, siap media, dan siap strategi pembelajaran. Hal-hal tersebut harus diorganisasikan dengan baik bila ingin mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajaran pendidikan jasmani/OR .
  3. Memimpin (Leading). Menurut Bucher and Kroote (2002) leading means implementing and carrying out approved plans through work of employees and staff to achieve or exceed the organization's objectives (memimpin berarti menerapkan dan melaksanakan rencana yang disetujui melalui pekerjaan karyawan dan staf untuk mencapai atau melampaui tujuan organisasi). Memimpin berarti menciptakan budaya dan nilai-nilai bersama, mengomunikasikan tujuan dan menanamkan keinginan untuk tampil di tingkat tinggi. Guru pendidikan jasmani sebagai pemimpin dalam bidang pendidikan. Sudah selayaknyalah guru pendidikan jasmani menjadi pemimpin siswa-siswanya. Sebab ditinjau dari umur, pengetahuan, pengalaman dan nilai-nilai guru ini melebihi siswanya. Guru pendidikan jasmani adalah insan yang memiliki kompetensi dalam bidang keguruan dan memiliki tugas mendidik, membimbing, melatih dan mengembangkan mata pelajaran pendidikan jasmani di segala jenis sekolah. Guru pendidikan jasmani merupakan suri tauladan yang sangat layak ditiru oleh peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kondisi guru pendidikan jasmani dalam tugas profesinya mengantarkan guru pendidikan jasmani menjadi seorang pemimpin. 
  4. Pengawasan (Controlling) adalah mengevaluasi hasil kerja atau kinerja. Setelah melakukan kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan guru pendidikan jasmani/OR adalah melakukan evaluasi pembelajaran. Kegiatan evaluasi ini dimaksudkan untuk mendapatkan umpan balik (feet back) atas kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama proses belajar mengajar. Keuntungan apabila seorang guru pendidikan jasmani/OR melakukan evaluasi diantaranya dapat mengetahui pencapaian standar kompetensi atau pencapaian tujuan yang diharapkan, dapat pula untuk mengetahui efektifitas pembelajaran yang dilakukan, karena seorang gurupendidikan jasmani/OR  tidak akan mungkin mengetahui perkembangan siswa didiknya tanpa melakukan evaluasi.
  5. Kepegawaian (Staffing). Arti Staffing atau Kepegawaian adalah aktivitas yang dilakukan yang meliputi menentukan, memilih, menempatkan dan membimbing personel. Prinsip dalam staffing adalah "the right man in the right place". Kegiatan Staffing antara lain memberikan motivasi kepada para pegawai agar selalu giat bekerja, kesejahteraan pegawai, penghargaan, membimbing agar pegawai lebih maju, kesempatan mengembangkan diri, penghentian dan pensiun pegawai. Guru Pendidikan jasmani merupakan salah satu staff/pegawai di sekolah. Guru pendidikan jasmani dituntut untuk melengkapi administrasi dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai salah satu guru/satff di sekolah. Administrasi yang bagaimana? Menurut Bucher and Krotee (2002) The Management function of staffing refers to the entire personnel duty of selection, assignment, training, and staff development and providing and maintaining favorable working conditions for all members of the organization (Fungsi manajemen kepegawaian mengacu pada seluruh tugas personil seleksi, penugasan, pelatihan, dan pengembangan staf dan menyediakan dan memelihara kondisi kerja yang menguntungkan untuk semua anggota organisasi). Seorang guru pendidikan jasmani/OR untuk menunjang karirnya menuju kesuksesan sebagai guru yang profesional, harus selalu belajar dan mencoba meningkatkan mutu dari dirinya dengan sering mengikuti pelatihan, bimtek ataupun seminar-seminar. 
Gambar. Proses Manajemen Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Bucher and Krotee (2002:4)


D. MANFAAT MANAJEMEN PENDIDIKAN JASMANI/OR
Manfaat manajemen pendidikan jasmani /Olahraga diantaranya:
  1. Dengan menerapkan manajemen pendidikan jasmani dan OR Menciptakan budaya gerak dan hidup sehat kepada seluruh keluarga sekolah: kepala sekolah, guru-guru, siswa, dan staf administrasi
  2. Dengan menerapkan manajemen pendidikan jasmani dan OR peserta didik siap  menjadi seorang manajer ketika terjun di masyarakat nanti akan menjadi  kepala  sekolah, Kepala  bagian, Kepala Biro, menjadi pemimpin sebuah klub atau  perkumpulan olahraga, manajer perkumpulan olahraga, ketua panitia pertandingan/kompetisi, dan lain sebagainya.
  3. Dengan menerapkan manajemen pendidikan jasmani dan OR, guru penjas/OR dapat melaksanakan proses mengajar dengan efektif, efesien dan sistematis.
  4. Dengan manajemen pendidikan jasmani dan OR peserta didik mampu menjadi pelaksana Kegiatan olahraga (pertandingan, perlombaan dan event-event  besar olahraga) di kancah nasional dan internasional.
Demikianlah postingan kali ini mengenai Manajemen Pendidikan jasmani/Olahraga, semoga dapat bermanfaat dan menjadi referensi bagi yang membutuhkan khususnya mengenai hal-hal yang berhubungan tentang pendidikan jasmani dan Olahraga.

Penulis sangat berterimakasih apabila ada masukan dan kritik yang membangun guna perbaikan dalam mengembangkan pendidikan jasmani dan Olahraga tentunya.

Wassalam.
Salam Pendidikan Jasmani & Olahraga....... Jaya!!!


Daftar Pustaka:
  • Bucher, Charles A. & Krotee, March L. 2002. Management of Physical Education and Sport, Twelfth Edition. McGraw-Hill : New York.
  • Umam, Khaerul. 2012. Manajemen Organisasi. Bandung: CV. Pustaka Setia
  • Hoye, Russel, dkk. 2009. Second edition: Sport Management Principles and Applications. Butterworth-Heinemann is an imprint Elsevier: USA
  • Jackson, Roger, dkk. 2005. Sport Administration Manual. International Olympic Committee, Olympic Solidarity: Lausanne, Switzerland
  • Wibowo. 2007. Manajemen Kinerja-edisi kelima. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
  • Tjakrawala, Kurniawan (Penterjemah). 2003. Sistem Pengendalian Manajemen. Jakarta : PT Salemba Emban Patria
  • Siagian, Sondang P. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara
  • Rahayu, Entin Fuji. 2015. Manajemen Pembelajaran Dalam Rangka Pengembangan Kecerdasan Majemuk Peserta Didik. Manajemen Pendidikan Volume 24, Nomor 5, Maret 2015: 357-366, Hal. 358. di akses tanggal 2 Desember 2019 dari http://ap.fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2015/05/volume-24-no.-55-14.pdf
  • Chris Brown, Jennifer Willett, Ruth Goldfine, Bernie Goldfine. 2018. Sport management internships: Recommendations for improving upon experiential learning. Journal of Hospitality, Leisure, Sport & Tourism Education 22 (2018) 75–81 (p.1) di akses 2 Oktober 2019 dari https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1473837617302241
  • Li-wei Liu, Ching-hui Lin. 2012. Sport Management in Collegiate Athletic Administration. Procedia - Social and Behavioral Sciences 40 ( 2012 ) 364 – 367 (p.1) diakses 2 Desember 2019 dari https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042812006684
  • Jenkinson, Kate and Benson, Amanda. 2009. Physical education, sport education and physical activity policies: Teacher knowledge and implementation in their Victorian state secondary school. European Physical Education Review [DOI: 10.1177/1356336X09364456] Volume15(3):365–388:364456 diakses tanggal 2 Desember 2019 dari https://www.researchgate.net/publication/224832438_Physical_education_sport_education_and_physical_activity_policies_Teacher_knowledge_and_implementation_in_their_Victorian_state_secondary_school
  • Zipporah, Migosi. Misia Kadenyi and Paul Maithya. 2016. Influence Of Teacher Related Factors On The Implementation Of Physical Education Syllabus In Public Primary Schools In Manga Sub County, Kenya. International Journal of Education and Research Vol. 4 No. 9 September 2016. diakses tnggal 2 Desember 2019 dari https://www.ijern.com/journal/2016/September-2016/01.pdf
  • https://arham892.blogspot.com/search?q=kepemimpinan di akses 9 Desember 2019
  • http://prasko17.blogspot.com/2012/09/pengertian-planning-organizing-staffing.html diakses 9 Desember 2019

Tuesday 12 December 2017

TEKNOLOGI INFORMASI PENDIDIKAN JASMANI

Teknologi informasi telah berkembang terhadap kelangsungan hidup manusia. “Manusia Jaman Now” tidak pernah lepas menggunakan Teknologi dalam kehidupan sehari-harinya, untuk berinteraksi dan saling berbagi informasi dengan cepat baik lokal maupun interlokal.  

Teknologi ‘merasuki’ semua bidang kehidupan manusia salah satunya bidang Pendidikan. Yaa.. langsung aja aku arahkan ke bidang pendidikan jasmani, karna blog aku ini tentang pendidikan jasmani. Berikut rangkuman beberapa materi mengenai Teknologi Informasi Pendidikan Jasmani.

A. Pengertian- Pengertian

Teknologi
  • Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan, dan kenyamanan  hidup manusia.
  • Teknologi sebagai kumpulan pengetahuan, melengkapi pengertian teknologi sebagai barang buatan yang ditujukan untuk mendukung kegiatan manusia agar lebih efisien dan bertujuan.
  • Kata teknologi berasal dari istilah teckne yang berarti sebagai seni (art) atau keterampilan (skill). Kata teknologi banyak dipahami oleh awam sebagai mesin atau hal-hal yang berkaitan dengan mesin.
Informasi  
  • Informasi berasal dari bahasa latin. yakni informationem yang artinya: konsep, ide atau garis besar.
  • Informasi merupakan data yang diolah menjadi bentuk yang memiliki arti penting bagi penerimanya dan berguna untuk pengambilan keputusan, baik saat itu maupun masa yang akan datang. (Raymond Mc.Leod)
Teknologi Informasi
Teknologi Informasi (Information Technology, IT) adalah sarana dan prasarana (hardware, software, useware) untuk memperoleh, mengirimkan, mengolah, menafsirkan, menyimpan dan mengorganisasikan dan menggunakan data secara bermakna.

Pendidikan jasmani
Pendidikan Jasmani adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kebugaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan pancasila. (Cholik dan Lutan : 1997).


B. Fungsi Teknologi Informasi
- Sebagai gudang ilmu
- Sebagai alat bantu pembelajaran
- Sebagai fasilitas pendidikan
- Sebagai standar kompetensi
- Sebagai alat bantu manajemen institusi
- Sebagai infrastruktur pendidikan
C. Kendala pengembangan teknologi Informasi 
- Keuntungan: bagi institusi, staf pengajar, pengelola dan peserta didik
- Biaya pengembangan infrastruktur: full, continue, original atau bajakan
- Biaya operasional dan perawatan (maintanance)
- Sumber daya Manusia (SDM)
Jadi, Apa yang dapat dikembangkan dalam pendidikan jasmani melalui teknologi informasi ???
Dalam pendidikan pemanfaatan teknologi informasi kebanyakan mengarah ke pemanfaatan teknologi komputer dan teknologi terkait dalam mengintegrasikan suatu data, gambar, grafik dan suara sehingga menghasilkan suatu informasi secara komprehensif.

Terkait dengan hal tersebut, Teknologi Informasi yang paling sering digunakan dalam pendidikan jasmani adalah MEDIA, dimana konsep media ini digunakan sebagai alat bantu (guru dan siswa) guna membantu proses belajar mengajar (PBM).

Pengertian MEDIA
  • Media adalah bentuk jamak dari kata medium, yang berarti perantara atau pengantar. 
  • Media adalah perantara atau pengantar pesan dari si pengirim (komunikator atau sumber/source) kepada si penerima (komunikan atau audience/receiver).
  • Sedangkan, Media Pembelajaran adalah sarana komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau bahan pelajaran.
  • Jadi, Media pembelajaran adalah media yang dirancang secara khusus untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik sehingga terjadinya proses pembelajaran. Media Pembelajaran adalah perpaduan antara bahan dan alat atau perpaduan antara software dan hardware. Media pembelajaran memiliki peranan penting sebagai sarana untuk menyalurkan pesan pembelajaran. 
Menurut Anderson dalam Bambang (2008) media dapat dibagi dalam dua kategori yaitu:
  • Alat bantu pembelajaran (instructional aids)
Alat bantu pembelajaran adalah perlengkapan atau alat untuk membantu guru (pendidik) dalam memperjelas materi (pesan) yang akan disampaikan. Alat bantu pembelajaran disebut juga alat bantu mengajar (teaching aids). Misalnya;
- OHP/OHT
- Film Bingkai (Slide)
- Foto
- Poster
- Grafik
- Flip chart
- Model benda sebenarnya
- Lingkungan belajar  
  •  Media Pembelajaran (instructional media)
Media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara karya seseorang pengembang mata pelajaran (program pembelajaran) dengan peserta didik.
Misalnya;
- Program televisi pembelajaran
- Film pendidikan
- Audio interaktif
- Program CAI
- Modul
- Slide
- Programmed instruction
Adapun peranan media dalam pendidikan yaitu sebagai; (1) media pembelajaran, yang dalam hal ini berfungsi sebagai penyampai pesan khusus; (2) sebagai pembentuk lingkungan perantara, dimana media membantu peserta didik melakukan eksplorasi dan membentuk pemahaman suatu pengetahuan; dan (3) pengembangan kemampuan kognitif, di mana media dipergunakan sebagai model atau perluasan mental kemampuan (Winn, 1996).

PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP PENDIDIKAN
Perkembangan Teknologi jaman now khususnya teknologi informasi semakin pesat, saking pesatnya teknologi informasi mempengaruhi dunia pendidikan. Dalam pelaksanaan pendidikan teknologi informasi sangat membantu dalam memecahkan permasalahan pendidikan yang sedang kita hadapi dewasa ini, apabila di kelola dan dikembangkan sesuai dengan prinsip-prinsip teknologi pembelajaran. Begitupun sebaliknya, teknologi informasi juga sangat potensial menciptakan masalah baru  dalam dunia pendidikan jika pemanfaatan teknologi digunakan secara tidak bijaksana.

Pemanfaatan Teknologi informasi dalam pendidikan yang pengaruhnya sangat besar adalah komputer dan internet. Kemunculan komputer dan internet ini sangat di maksimalkan dalam dunia pendidikan karena sangat mudah, murah, cepat untuk berkomunikasi dan saling share informasi mengenai pembelajaran dan informasi tentang pendidikan. Bahkan, komputer dan internet sudah menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar, karena sangat menunjang efektifitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran. Seperti, komputer dan internet dijadikan sebagai sumber belajar, sarana komunikasi, publikasi, serta sarana untuk mendapatkan berbagai informasi atau bahan pelajaran yang dibutuhkan dalam pendidikan.

Dalam bidang pendidikan pemanfaatan komputer dan internet, khususnya dalam pembelajaran di Indonesia sudah dijadikan dalam bentuk model pembelajaran. Di dalam pembelajaran terdapat dua model pembelajaran yang menggunakan teknologi informasi dalam penerapannya, yaitu: (1) Model Pembelajaran Berbasis Komputer, (2) Model Pembelajaran Berbasis Web (e-Learning).

A. Model Pembelajaran Berbasis Komputer

Sejarah pembelajaran berbasis komputer dimulai dari munculnya ide-ide untuk menciptakan perangkat teknologi terapan yang memungkinkan seseorang melakukan proses belajar secara individual dengan menerapkan prinsip-prinsip didaktik-metodik dengan menggunakan komputer sebagai alat bantu medianya. Tujuannya tidak lain untuk membantu para guru dalam usahanya meningkatkan mutu pembelajaran dan sebagai fasilitas belajar untuk siswa. Pada model pembelajaran berbasisi komputer  siswa berinteraksi langsung dengan media interaktif berbasis komputer dan untuk guru bertindak sebagai desainer dan programer pembelajaran.
Menurut Rusman (2011:290) terdapat beberapa model-model pembelajaran berbasis komputer, yaitu:
1. Model Drills 
Model Drills adalah suatu model dalam pembelajaran dengan jalan melatih siswa terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan. Melalui model drills akan ditanamkan kebiasaan tertentu dalam bentuk latihan. Dengan latihan yang terus menerus, maka akan tertanam dan kemudian akan menjadi kebiasaan. 
2. Model Tutorial
Program tutorial pada dasarnya sama dengan program bimbingan, yang bertujuan memberikan bantuan kepada siswa agar dapat mencapai hasil belajar secara optimal. Program tutorial merupakan program pembelajaran dengan menggunakan software berupa program komputer yang berisi materi pelajaran dan sosal-soal latihan. Pembelajaran tutorial bertujuan untuk memberikan kepuasan atau pemahaman secara tuntas (mastery learning) kepada siswa mengenai materi/bahan pelajaran yang sedang dipelajari. 
3. Model Simulasi 
Merupakan salah satu strategi pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret melalui penciptaan tiruan-tiruan bentuk pengalaman yang mendekati suasana sebenarnya dan berlangsung dalam suasana yang tanpa risiko. Model simulasi ini dikemas dalam bentuk animasi dengan memadukan unsur teks, gambar, audio, gerak dan paduan warna yang serasi dan harmonis.
4. Model Instructional Games
Instructional Games tujuannya untuk menyediakan pengalaman belajar yang memberikan fasilitas belajar untuk menambah kemampuan siswa melalui bentuk permainan yang mendidik. Instructional Games dapat terlihat dengan mengenali pola pembelajaran melalui permainan yang dirancang sedemikian rupa, sehingga pembelajaran lebih menantang dan menyenangkan. Keseluruhan permainan memiliki komponen dasar sebagai pembangkit motivasi dengan memunculkan cara berkompetisi untuk mencapai sesuatu yang diharapkan, yaitu tujuan pembelajaran.
B. Model Pembelajaran Berbasis Web (e-Learning).

Model pembelajaran berbasis web atau yang kita kenal dengan e-Learning merupakan pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya. Menurut Jaya Kumar C. Koran dalam Rusman (2011), e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. 

Internet (interconnection and networking) adalah gabungan dari jaringan-jaringan komputer (LAN) di seluruh dunia yang saling terhubung. Internet juga merupakan sumber informasi global yang memanfaatkan kumpulan jaringan-jaringan komputer tersebut sebagai medianya. 

Internet sebagai media pembelajaran yang diharapkan akan menjadi bagian dari suatu proses pembelajaran di sekolah. Peranan internet dalam pendidikan sangat menguntungkan karena kemampuannya dalam mengolah data dengan jumlah yang sangat besar. Menggunakan internet dengan segala fasilitasnya akan memberikan kemudahan untuk mengakses berbagai informasi untuk pendidikan yang secara langsung dapat meningkatkan pengetahuan siswa bagi keberhasilannya dalam belajar. Teknologi internet memberikan kemudahan untuk mendapatkan informasi apa saja, darimana saja dan kapan saja dengan sangat mudah dan cepat. Artinya, kemudahan tentang batas, ruang, jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah rumit untuk dipecahkan.

Fasilitas aplikasi internet memberikan dukungan bagi keperluan kalangan pendidikan. Menurut Onno W. Purbo dalam Rusman (2011) ‘ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan’, yaitu;
1. E-mail
E-mail atau Electronic Mail atau surat elektronik memungkinkan seseorang mengirim dan menerima surat melalui internet. E-mail merupakan fasilitas yang memungkinkan dua orang atau lebih melakukan komunikasi yang bersifat tidak sinkron atau tidak bersifat real time. 
2. Mailing List (milis)
Merupakan perluasan penggunaan e-mail, dengan fasilitas ini peserta didik yang telah memiliki alamat e-mail bisa bergabung dalam kelompok diskusi, dan melalui milis ini bisa melakukan diskusi untuk memecahkan suatu permasalahan secara bersama-sama, dengan saling memberikan saran pemecahan masalah. 
3. News Group
Fasilitas aplikasi ini memungkinkan untuk melakukan komunikasi antara dua orang atau lebih secara bersama-sama dalam waktu yang bersamaan. Bentuk pertemuan ini lazim disebut konfrensi, dan fasilitas sepenuhnya menggunakan multimedia (audio-visual), seperti; vidio confrence dan chat (IRC).
4. File Transfer Protocol (FTP)
FTP merupakan aplikasi internet yang memberikan kemudahan user untuk dapat mengirimkan (upload) dan mengambil arsip file (download) di suatu server yang terhubung ke internet pada alamat tertentu yang menyediakan berbagai arsip (file), yang memang diizinkan untuk diambil oleh pengguna lain yang membutuhkannya. Seperti; mengupload dan mendownload hasil penelitian, artike-artikel, jurnal, dan lain-lain.
5. World Wide Web (WWW)
WWW merupakan kumpulan koleksi besar tentang berbagai macam dokumentasi yang tersimpan dalam berbagai macam dokumentasi yang tersimpan dalam berbagai server di seluruh dunia, dan dokumentasi tersebut dikembangkan dalam format hypertext dan hypermedia, dengan menggunakan Hypertext Markup Language (HTML) yang memungkinkan terjadinya konekasi (link) dokumen yang satu dengan yang lain atau bagian dari dokumen yang satu dengan bagian lainnya baik dalam bentuk teks, visual dan lain-lain.
Dalam praktiknya e-learning memerlukan semua bantuan atau pendukung teknologi beserta aplikasinya yang telah disebutkan di atas. Dalam perkembangannya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: technology based learning dan technology based web- learning. 
  • Technology based learning pada prinsipnya terdiri atas Audio Information Technologies, seperti; radio, audio tape, voice mail telephone. Dan Video Information Technologies, seperti; video tape, video text and video messaging). Sedangkan,
  • Technology based web- learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies. Seperti; bulletin board, Internet, e-mail, tele-collaboration.
Pemanfaatan teknologi informasi dalam pendidikan memberikan kontribusi dan perubahan yang sangat signifikan dalam proses belajar mengajar. Kehadiran informasi teknologi sangat memberi ruang yang luas untuk melakukan pengembangan dalam bidang pendidikan, memberikan nuansa yang sangat berbeda dengan cara proses belajar mengajar secara konvensional. Namun untuk mensukseskan pemanfaatan informasi teknologi dalam pendidikan perlu adanya peranan dan dukungan penuh dari pemerintah, lembaga dan institusi pendidikan, guru dan peserta didik, dan faktor teknologi itu sendiri. Karena teknologi ini bukanlah barang/alat bantu murah dan gampang untuk dibeli dan dimiliki oleh semua orang.

Sumber :
  • Kristiyanto, Agus. 2012. Pembangunan Olahraga: Untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kejayaan Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka.
  • Muhammadiah. 2005. Perencanaan Pengajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar
  • Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran : Landasan & Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Thursday 2 November 2017

POMNAS Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional

Sejarah POMNas

Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) adalah ajang olahraga nasional antar provinsi untuk mahasiswa perguruan tinggi tingkat sarjana dan diploma di Indonesia. Peserta POMNas berasal dari seluruh Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di seluruh Indonesia. POMNas diadakan setiap 2 tahun sekali. POMNas diselenggarakan pertama kali di Yogyakarta pada tahun 1990. Nomor urut penyelenggaraan selanjutnya didasarkan pada POMNas pertama tersebut. Penyelenggaraan POMNas merupakan tanggungjawab Pengurus Pusat Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (Bapomi).

arham syahban

Keberadaan POMNAS tidak terlepas dari sejarah perjalanan BAPOMI sebagai induk olah raga kemahasiswaan di Tanah Air. Pada awal 1950, perkumpulan dan organisasi olah raga mahasiswa telah terbentuk dan tumbuh berkembang. Di Jakarta telah membentuk suatu wadah olah raga mahasiswa yaitu UFIA (khusus untuk mahasiswa Jakarta UFI), di Bandung IOMA, dan di Bogor UFA yang telah mampu mengoordinasi dan melaksanakan kegiatan kegiatan olah raga mahasiswa.


Organiasi-organisasi itulah yang telah mendorong, menciptakan, dan mewujudkan suatu pertemuan para olahragawan dalam suatu Pekan Olahraga Mahasiswa (POM). POM I berhasil diselengarakan pada Desember 1951, di Yokyakarta. Kegiatan tersebut terus berlangsung secara kontinyu dan rutin dilaksanakan setiap 2 (dua) tahun sekali.

arham syahban

POM IX/1971 di Palembang, tercatat sebagai POM terbesar yang diprakarsai mahasiswa sekaligus penyelengaraanya adalah mahasiswa, juga sebagai POM yang terakhir yang diselengarakan oleh BKMI (Badan Keolahragaan Mahasiswa Indonesia). POM berikutnya yang sedianya akan diselenggarakan di Bandung 1975, tidak dapat diselengarakan karena situasi dan kondisi waktu itu tidak memungkinkan.


Sejak 1974, praktis kegiatan olah raga mahasiswa tidak terkoordinasi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kemudian memprakarsai pertemuan di Bandung, Jateng, pada 1978 dan dibentuklah tim Pembina olah raga mahasiswa tingkat nasional dan mengadakan Pekan Olahraga dan Seni Mahasiswa (Porseni) Nasional I pada 1978.


Setelah terbentuknya BKOMI pada 1980 yang kemudian berubah menjadi BAPOMI, penyelenggaraan POM diubah menjadi Pekan Olah Raga Mahasiswa Nasional (POMNas).

Adapun Tujuan POMNas sebagai berikut;
  1. Memupuk dan meningkatkan persatuan, kebersamaaan, persahabatan antar-mahasiswa se indonesia;
  2. Memupuk dan meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara berlandaskan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika; 
  3. Meningkatkan dan mengembangkan minat dan bakat olahraga mahasiswa; 
  4. Meningkatkan kebugaran jasmani, disiplin dan sportifitas mahasiswa 
  5. Meningkatkan dan mengembangkan prestasi olahraga mahasiswa 
  6. Membantu pemerintah dalam meningkatkan dan mengembangkan prestasi olahraga nasional dan internasional 
  7. Menanamkan pendidikan karakter mahasiswa melalui olahraga

Keikutsertaan STKIP Paris Barantai pada POMNas XV 2017 SULAWESI SELATAN

Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) XV 2017 Sulawesi Selatan diselenggarakan sebagai bagian dari sistem kompetisi olahraga mahasiswa. POMNas XV 2017 Sulawesi Selatan merupakan ajang penyelenggaraan olahraga yang dilaksanakan secara multi-event.  Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) adalah event olahraga tingkat nasional yang diselenggarakan 2 (dua) tahun sekali, sebagai event olahraga yang merupakan bagian dari sejarah dan keterlibatan anak bangsa dalam membangun dunia olahraga di tanah air. POMNas memiliki peran dalam pembinaan dan pencarian bibit unggul khususnya mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia. 


STKIP Paris Barantai salah satu dari banyak perguruan tinggi yang ada di Kalimantan Selatan yang di pilih oleh Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Kalimantan Selatan untuk ikut serta dalam Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) XV 2017 Sulawesi Selatan yang dilaksanakan pada tanggal 14-21 oktober 2017 di Kota Makassar.  


STKIP Paris Barantai mewakili Kontingen Provinsi Kalimantan Selatan pada cabang olahraga Sepak Takraw. STKIP Paris Barantai mengirimkan 5 (lima) orang Atlit/Mahasiswa terbaik yang dimiliki dalam cabang olahraga sepak takraw. Mahasiswa STKIP Paris Barantai yang mewakili Tim Sepak Takraw Kontingen Kalimantan Selatan dalam POMNas XV 2017 di Makassar atas nama: Andi Eko Setiawan (Penjaskesrek), Nurdiansyah (Penjaskesrek), Niharja (Penjaskesrek), Sugandi (Bahasa & Sastra Indonesia) dan Irwansyah (Penjaskesrek). Kelima mahasiswa/atlit cabor takraw kontingen Kalimantan Selatan tersebut di dampingi oleh Dosen STKIP Paris Barantai berjumlah 3 orang, yaitu: Arham Syahban, S.Pd.,M.Pd. (Pelatih), Drs. H. Syaiful Bahri, M.Pd. dan Drs. H. Faisal Batennie, M.Pd. (Official).


Setiap 2 tahun sekali STKIP Paris Barantai diikutsertakan oleh Bapomi Provinsi Kalimantan Selatan dalam Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas). STKIP Paris Barantai sangat mendukung dan antusias dengan kegiatan Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) karena merupakan kegiatan yang dapat meningkatkan dan memelihara jaringan kerjasama dengan lembaga-lembaga lain secara terus menerus di bidang akademik dan non akademik.  POMNas juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang ikut serta untuk berprestasi setinggi-tingginya dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga khususnya di bidang keolahragaan.

Salam Olahraga, Jaya.

Sumber: 
- http://pomnassulsel.unhas.ac.id/pages-id-1-sejarah.xhtml
- Buku Panduan POMNas XV 2017 Sulawesi Selatan

Thursday 14 September 2017

Pengertian, Tujuan, Fungsi, Manfaat, Prinsip dan Perkembangan Belajar Gerak


BELAJAR GERAK

Pengertian belajar motorik / gerak pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan pengertian belajar secara umum. Berikut belajar motorik menurut para ahli : 
  • Schmidt ( 1991 ) menjelaskan bahwa pembelajaran gerak adalah serangkaian proses yang dihubungkan dengan latihan atau pengalaman yang mengarah pada perubahan-perubahan yang relatif permanen dalam kemampuan seseorang untuk menampilkan gerakan-gerakan yang terampil. 
  • Oxendine ( 1984 ) menjelaskan bahwa belajar motorik adalah suatu proses perubahan perilaku gerak yang relatif permanen sebagai hasil dari latihan dan pengalaman. 
  • Rahantoknam ( 1988 ) menjelaskan bahwa belajar motorik adalah proses peningkatan suatu keterampilan motorik yang disebabkan oleh kondisi latihan atau diperoleh dari pengalaman, bukan karena kondisi maturasi atau motivasi temporer dan fluktuasi fisiologis.

TUJUAN BELAJAR GERAK

Belajar gerak memiliki tujuan utama pada Penguasaan keterampilan dan efisiensi gerakan. Keterampilan menurut Singer adalah gerakan otot atau tubuh yang menyukseskan pelaksanaan aktifitas yang diinginkan, sedangkan menurut Rusli Lutan keterampilan adalah kompetensi yang diperagakan oleh seseorang dalam menjalankan tugas tertentu. Demikian juga pendapat Rahtoknam bahwa keterampilan adalah setiap aktivitas yang diarahkan pada tujuan khusus.

Keterampilan gerak pada hakikatnya merupakan pencerminan derajat efesiensi dalam melakukan gerakan tertentu. Gerakan terampil bisa dicapai melalui proses belajar dan berlatih yang berulang-ulang dan spesifik pada cabang olahraga tertentu. Yang penting dalam belajar keterampilan gerak adalah dicapainya penguasaan gerak pada cabang olahraga yang dipelajari, sehingga tercipta pola gerak yang terkoordinasi dan terpadu

Untuk mewujudkan suatu keterampilan diperlukan berbagai kemampuan yang meliputi: 1) Kemampuan gerak (motorik), 2) kemampuan persepsi, 3) kemampuan kognitif.

Kemampuan persepsi terkait dengan kemampuan seseorang dalam mengiterpretasikan suatu sitimulus sensorik dari panca indra dan pengorganisasiannya secara baik untuk menjelaskan suatu aktifitas olahraga. Kemampuan persepsi terkait dengan kemampuan visual (penglihatan), kinestetis (merasakan), taktis (sentuhan), dan auditori (pendengaran).

Kemampuan kognitif terkait dengan proses pengambilan keputusan yang diawali dengan pemahaman tentang teknik gerak yang benar. Pemahaman tentang teknik gerak yang benar akan mempercepat penguasaan dan meningkatkan kualitas gerakan yang dilakukan.

Perpaduan antara kemampuan gerak, kemampuan persepsi, dan kemampuan kognitif secara baik dan mewujudkan keterampilan yang pada hakekatnya merupakan pencerminan derajat efisiensi efektifitas dalam melakukan gerakan olahraga. Untuk mewujudkan keterampilan gerak yang lebih baik, maka diperlukan proses belajar dan latihan secara teratur dan berkesinambungan.

KLASIFIKASI KETERAMPILAN GERAK

1). Berdasarkan kecermatan gerak meliputi:
  • Gerak kasar  melibatkan otot besar sebagai basis gerakan utamanya, keterlibatan bahagian tubuh secara keseluruhan. Contoh: lempar lembing, lompat jauh
  • Gerak halus (otot halus sebagai basis utama gerakan) contoh: menarik dan melepaskan anak panah, menarik pelatuk senapan
2). Perbedaan titik awak dan akhir gerakan :
  • Gerak diskrit
  • Bisa dibedakan secara jelas titik awal dan akhir gerakan, contoh: roll ke depan satu kali
  • Gerak serial
  • Gerakan diskrit yang dilakukan lebih dari satu kali
  • Gerak Kontinyu
  • Gerakan yang tidak mudah ditandai awal dan akhirnya. Contoh: Keterampilan bermain Voli, meliputi gerakan servis smash, block, passing, atas dan bawah.
3). Berdasarkan stabilitas lingkungan :
  • Keterampilan tertutup
  • Stabilitas lingkungan yang tidak berubah dan keberhasilan gerakan ditentukan oleh si pelaku gerak sendiri. Contoh: Servis bola Voli, Bulutangkis.
  • Keterampilan terbuka
  • Stabilitas lingkungan yang berubah-ubah, maka diperlukan kerjasama dalam melakukan gerakan yang tepat. Contoh: Gerakan smash Voli ditentukan oleh umpangan toser.
4). Berdasarkan derajat kesukarannya :
  • Keterampilan adaptif sederhana
  • Keterampilan yang dihasilkan dari adaptasi gerak dasar dengan situasi tertentu. Contoh: Roll, kayang dalam senam.
  • Keterampilan adaptif terpadu
  • Perpaduan antara gerak dasar fundamental dengan penggunaan alat tertentu. Contoh: Sepak sila dalam sepak takraw.
  • Keterampilan Adaptif Kompleks
  • Keterampilan yang memerlukan penguasaan mekanika tubuh serta koordinasi gerak tubuh yang kompleks. Contoh: Menggiring bola melewati rintangan dalam sepakbola.
5). Gerak dasar Fundamental :
  • Gerak Lokomotor
  • Gerakan berpindah dari satu tempat ketempat yang lain. Contoh: Berjalan dan berlari.
  • Gerak stabilisator
  • Gerakan yang berporos pada suatu sumbu bagian tubuh tertentu dengan memahami sistem tuas yang bekerja: Beban,poros dan kekuatan. Contoh: Mengayun kaki dan berdiri dengan satu kaki untuk menjaga kesetimbangan badan.
  • Gerak manipulatif
  • Gerakan menguasai objek tertentu dengan menggunakan anggota tubuh. Contoh: Menggiring bola dalam permainan Sepakbola, objek yang dikuasai adalah bola.
FUNGSI BELAJAR GERAK

Adapun fungsi gerak manusia yaitu :
  1. Manusia dapat berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain, 
  2. Manusia dapat berinteraksi, 
  3. Manusia dapat mempertahankan hidup
  4. Manusia dapat mengukur kemampuan yang dimilikinya, 
  5. Manusia dapat merasakan suatu kegembiraan, 
  6. Manusia dapat mengungkapkan perasaan, 
  7. Manusia dapat berkomunikasi, 
  8. Manusia dapat menemukan identitas dirinya, dan 
  9. Mendapatkan kepuasan.
Kajian tentang gerakan manusia melibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan sasaran terwujudnya gerakan manusia yang efisien dan efektif. Efiensi gerak terkait dengan tenaga, waktu, dan ruang. Efektifitas terkait dengan keberhasilan yang dicapai.

MANFAAT GERAK

Gerakan yang efisien dan efektif akan memberikan manfaat terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kematangan. Meliputi:
  1. Manfaat secara fisik:  
  2. Memperbaiki postur tubuh, kesehatan dan kesegaran jasmani.
  3. Kognitif : 
  4. Melalui aktifitas gerak memperbaiki pertumbuhan otak sehingga diharapkan peningkatan kemampuan berpikir. Meliputi keadaan persepsi, pemecahan masalah, kreatifitas strategi, perbendaharaan kata, rangsangan untuk berpikir dan kesadaran gerak.
  5. Manfaat secara psikomotor:
  • Efisiensi gerak, keterampilan gerak dan kehalusan gerak
  • Afektif: Terkait dengan penanaman nilai, meliputi jujur,disiplin, mandiri
  • Sosial : Interaksi sosial meliputi komunikasi dan kontak social
PRINSIP BELAJAR GERAK DAN PERKEMBANGANNYA

Gerak manusia dipengaruhi oleh beberapa aspek kehidupan yang berlangsung selama manusia menjalani kehidupannya  antara lain¨pengaruh aspek gizi yang baik atau kurang baik, manusia yang gizinya baik akan memiliki kapasitas gerak yang tinggi di bandingkan dengan orang yang kekurangan gizi, perkembangan antara anak laki-laki dan perempuan sudah mulai terlihat perkembangan fisiknya, terutama pada saat menjelang reproduksi, perkembangan kemampuan fisik bagi anak laki-laki dan perempuan  mulai ada perbedaan antara lain perkembangan kekuatan pria lebih tinggi dibandingkan dengan perkembangan kekuatan wanita, sejalan dengan meningkatnya ukuran tubuh dan meningkatnya kemampuan fisik maka meningkat pula kemampuan gerak anak besar, berbagai kemampuan gerak dasar yang sudah mulai bisa dilakukan pada masa anak kecil semakin dikuasai. Peningkatan kemampuan gerak bisa diidentifikasi dalam bentuk : 

1) gerakan bisa dilakukan dengan mekanika tubuh yang makin efisien, 
2) gerakan bisa dilakukan dengan semakin lancar dan terkontrol, 
3) pola atau bentuk gerakan semakin bervariasi, 
4) gerakan semakin bertenaga.

Beberapa macam gerakan yang mulai bisa dilakukan apabila anak memperoleh kesempatan melakukannya pada masa anak-anak, gerakan-gerakan tersebut semakin dikuasai dengan baik. Kecepatan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh kesempatan yang diperoleh untuk melakukan berulang-ulang dalam aktivitasnya. Anak-anak yang kurang dalam kesempatan melakukan aktivitas fisik akan mengalami hambatan untuk berkembang.

Di dalam melakukan suatu gerakan keterampilan ada kalanya menghadapi lingkungan yang berubah-ubah, berdasarkan keadaan kondisi lingkungan seperti itu, gerakan keterampilan bisa dikategorikan menjadi dua yaitu :1) keterampilan gerak tertutup (closed skill) adalah keterampilan gerak dimana pelaksanaanya terjadi pada kondisi lingkungan yang tidak berubah dan stimulus geraknya timbul dari diri si pelaku sendiri, 2) keterampilan gerak terbuka (open skill) adalah keterampilan gerak dimana dalam pelaksanaannya terjadi pada kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan pelaku bergerak menyesuaikan dengan stimulus yang timbul dari lingkungan bisa bersifat temporal dan bersifat spesial ( Sugiyanto dan Sudjarwo, 1993:250-251).

Perkembangan gerak dapat pula dikatakan sesuai dengan klasifikasi domain psikomotor. Menurut Anita J. Harrow klasifikasinya ada 5 level yang meliputi:
  1. Gerak reflek
  2. Gerak reflek adalah respon atau aksi yang terjadi tanpa kemauan dasar, yang ditimbulkan oleh suatu stimulus.Gerak reflek bersifat prekuisit terhadap perkembangan kemampuan gerak pada tingkat-tingkat berikutnya. Gerak reflek dibedakan menjadi tiga yaitu refleks segmental, refleks intersegmental, dan refleks suprasegmental (Sugiyanto dan Sudjarwo, 1993:219).
  3. Gerak dasar fundamental
  4. Gerak dasar fundamental adalah gerakan-gerakan dasar yang berkembangnya sejalan dengan pertumbuhan tubuh dan tingkat kematangan pada anak-anak. Gerakan ini pada dasarnya berkembang menyertai gerakan refleks yang dimiliki sejak lahir, gerak dasar fundamental mula-mula bisa dilakukan pada masa bayi dan masa anak-anak, dan disempurnakan melalui proses berlatih yaitu dalam bentuk melakukan berulang-ulang. Gerak dasar fundamental diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu gerak lokomotor, gerak non-lokomotor, dan gerak manipulatif. Sugiyanto dan Sudjarwo, (1993:220) : 1) Gerak lokomotor adalah berpindah dari tempat satu ke tempat lain misalnya merangkak,berjalan, berdiri; 2) Gerak non-lokomotorik adalah gerak yang melibatkan tangan, kaki, dan togok. Gerakan ini berupa gerakan yang berporos pada suatu sumbu di bagian tubuh tertentu misalnya memutar lengan, mengayun kaki, membungkuk, memutar togok; 3) Gerakan mamipulatif adalah gerakan memanipulasi atau memastikan obyek tertentu dengan menggunakan tangan, kaki atau bagian tubuh yang lain. Gerakan manipulatif memerlukan koordinasi bagin tubuh yang digunakan untuk memanipulasi objek dengan indra pelihatan dan peraba misalnya memainkan bola menggunakan tangan, kaki, dan kepala.
  5. Kemampuan fisik
  6. Kemampuan fisik adalah kemampuan memfungsikan sistim organ-organ tubuh didalam melakukan aktifits fisik.Kemampuan fisik sangat penting untuk mendukung aktifitas psikomotor.Gerakan yang terampil bisa berkembang bila kemampuan fisik mendukung pelaksanaan gerak. Secara garis besar kemampuan fisik dapat dibedakan menjadi 4 macam kemampuan, yaitu ketahanan (endurance), kekuatan (strength), fleksibilitas (fleksibility), kelincahan (agility) (Sugiyanto dan Sudjarwo,1993:221-222).
  7. Gerakan keterampilan
  8. Gerakan keterampilan adalah gerakan yang memerlukan koordinasi dengan kontrol gerak cukup kompleks. Untuk menguasainya harus diperlukan proses belajar gerak. Gerakan yang terampil menunjukkan sifat efisiensi didalam pelaksanaannya (Sugiyanto dan Sudjarwo,1993:222).
  9. Komunikasi non-diskusif
  10. Komunikasi non-diskusif memerlukan level klasifikasi domain psikomotor. Menurut Harrow, komunikasi non-diskrusif merupakan prilaku yang berbentuk komunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Gerakan yang bersifat komunikatif non-diskusif meliputi gerakan ekspresif dan gerakan interperatif. Gerakan ekspresif meliputi gerakan-gerakan yang bisa digunakan untuk mengkomunikasikan maksud tertentu yang digunakan dalam kehidupan, misalnya menganggukkan kepala tanda setuju. Gerakan interperatif adalah gerakan yang diciptakan berdasarkan penafsiran nilai-nilai estetik disebut gerakan estetik, sedangkan gerak yang diciptakan dengan maksud untuk menyampaikan pesan melalui makna yang tersembunyi didalam gerakan disebut gerakan kreatif (Sugiyanto dan Sudjarwo,1993:223).

Sumber;
  • Gallahue, David L, 1975. Motor Development and Movement Experiences. New York: John Wiley & son, inc.
  • Magill, Richard. A.  1985. Motor Learning: Concepts and Aplications. Dubuque:  Wm. C Brown Publisher.
  • Marteniuk, Ronald. G, 1987. Information Processing in Motor Skills. New York: Holt Rinhat an Winston.
  • Oxendine, Joseph. B, 1984. Pshychology of Motor Learning. Englewood New       Jersey: Prentice Hall.
  • Pangrazi, Robert. P and Dauer, Victor. P, 1981. Movement in Early Chilhood and Elementary Education. Mineapolis: Burgess Publishing Company.
  • Rahantoknam, B. E, 1990. Perkembangan Motorik dan Belajar Gerak Pada Anak-anak Sekolah Dasar. Jakarta: Yayas-an Pengembangan Olahraga Indonesia.
  • Schmidt, Richard, A. 1988. Motor Control and Learning: A Behavioral Emphasis. Champaign: Human Kinetic  Publishers, Inc.
  • ————————–, 1991. Motor Learning Performance. Champaign: Human         Kinetics Books.
  • Singer, Robert N. 1980. Motor learning and Human Performance : An Application to Motor Skills and Movement Behaviors. Macmillan Pub. New York

MOTOR LEARNING

MOTOR LEARNING ğŸŽ¯Olahraga dalam pendidikan merupakan kegiatan belajar yang dapat menghasilkan kemampuan, keterampilan, atau keahlian gerak d...

OnClickAntiAd-Block